
Ladies and gentlemen, I won’t be too often being here by now on.
First time I got my engagement to the internet, it was meant for viewing the world. Certainly not in term ‘to get viewed’.
I need more privacy. I know it’s too much to say this site becomes meaningless at this point, yet, yes, I do need more privacy—some that this ‘nostalgic’ site wouldn’t be able to custody.
I am sure I’ve already answered the question of why I don’t want to build The Facebook by militant enthusiasm too.
Eventually I’d be around at my new sanctuary.
Comments Off
Maaf…
…
…konten asli dalam posting ini sedang dicangkokkan ke rahim sebuah penerbit buku anak-anak kacangan yang agaknya cukup edan sampai mau-maunya menerima naskah saya.
…
Bayi dalam proyek eksperimentasi orang-orangan-hibrid yang didanai penuh oleh konsorsium internasional Empok-Empokan Corp—MILF—REOG Sdn Bhd-–dan—Bulog Libanon ini siap dilahirkan 2 bulan lagi lewat operasi Caesar sekaligus Yustisia.
…
Jadi entar begitu jebreeet lahir, langsung jebrooot kena tilang.
…
So now it’s my obligation to beg for your priceless forgiveness.
…
Thanks, ladies and gentlemen (…for ruining my whole life ;p)
…
…
wish you the best of the best of luck
—s. r. d. w.—
18 Comments »
—J’s ode (1977-2003), sahabat terbaik yang pernah saya punya—
…
…
karena aku akan dilupakan dari jadwal kamu hari ini seperti tiap orang memang pergi dari siapa saja, sahabat
…
tapi dukamu harus punya rumah di penjuru mana saja aku memintanya berada dan semua titik yang menumbuk tiap ujung kabar di bukumu cuma akan tegas jika kamu berhenti mengingat kita
…
tapi kamu tak akan sanggup berhenti mengingat kita
…
karena kamu dilahirkan baru setiap pagi ke dunia yang masih itu saja sedang sejarah mengurungmu tanpa lepas tanpa memalingkan wajahnya dari nubuat yang telah kubangun di atas koma terakhir tempat kamu tegak sebelum aku beranjak:
semuskil apa pun kita akan kembali remaja dan kita akan punya Kita
yang terhimpun lagi di sisi rumpun gemeretak terbakar di luar tenda dan dari lipatan bukit angin yang menolak berdiang sekali lagi akan menerbangkan serpihan nyala kefanaan kita hanya untuk padam di udara sebelum nafas sempat genap kita hela
seperti melangitnya bunga-bunga api itu ke ruang-ruang ganjil yang tak akan kamu kenang, tak pernah kita kenang sebelumnya
……
…
…
…
…
happy birthday, J
Comments Off

Mak Itam, usia 78 tahun, tinggal di Payakumbuh, Sumatera Barat. Saya ber-angku (kakek) padanya. Beliau purnawirawan kapten polisi militer yang di masa dinasnya menunggang motor besar buatan Inggris berkapasitas 1200cc. Awal tahun 1960-an beliau menikahi adik nenek saya, Sarima. Saya ber-oma padanya. Si Oma Sarima ini adalah tunggangan beliau yang jauh lebih besar cc-nya, lebih bandel dan garang namun jarang ngadat…. Astaghfirullah, ampun, Ma.
Bulan Desember lalu saya dan istri mudik ke Payakumbuh. Di sana beliau mengomeli saya bulat-bulat karena beliau mendengar kabar saya berantem dengan tukang parkir Bukittinggi. Perkaranya: ah, pokoknya ada, deh. Saya malu cerita detil.
Anyway, karena beliau ingin meluruskan akhlak cucunya yang ringsek ini, maka dengan tempo allegro, pembawaan unisono dan birama 4/4, berikut adalah intro sekaligus refrain yang saya lahap dari beliau:
…
…
“Shame on you!!! Malulah Nak,… jangan berang-berang ka urang kecil. Untuak aa (apa, pen.) kamu ribut lawan tukang parkir? Kalau dia salah, tu pasti karena dia indak punya kesempatan jadi orang benar….”
…
“Dia indak sekolah, sadang kamu sekolah! Dia indak seberuntung kamu!”
…
“Kamu cuma hilang pitih 3 ribu. Kalau kamu maki dia duluan sampai dia marah, paling kamu cuma ditancap obeng kembang…
…
…tapi kalau anak tu yang lebih dulu tampar kamu, senjatamu banyak. Angku yakin kamu indak akan biarkan dia raun-raun di jalanan lagi sabab kamu termasuk kalangan yang mudah saja menjebloskan anak malang tu ka bui setelah habis-habisan dipukuli, kalau indak disodomi dulu pakai gagang sendok di kantor polisi.” (Heee-dup Mikola & Marcella….)
…
“Urang barani karena ba-senjata ialah pengecut yang berpura-pura, Nak!”
…
“Mengalah pada anak tu indak kan membuat martabat runtuah. Kalau kamu merasa di-randah-kan karena mengalah, tu tandonyo harga diri kamu memang asli-nyo randah.”
“Ketika urang yang dengan pongahnya kamu nilai “randah” saja bisa sampai me-randah-kan kamu, tantu arti-nyo martabat anak itu indak lebih randah dari punyamu. Sampai sana akalmu, Nak?”
…
“Tukang parkir kalera, jagal kabau, satpam hotel, atau kasir kedai menyebalkan di nagari kaya tapi panuah urang miskin ni indak labiah sekadar tumbal sistem, Nak. Tumbal transmigrasi keserakahan, pendaerahan permalingan dan perampokan, meniru teladan rajo Mentaram tu, yang jatuah tahta tahun 98″ Copet di oto-bis, maliang ayam, pancilok anak padusi urang ko jahat-nyo indak bana tanding dengan penyamun keji di Senayan, do….”
…
“Kalau jagoan, sabana-bana jagoan, sana tantanglah kelahi bandar candu, pengasong agamo macam Tabib Beriziq katua FPI, atau kalau indak tentara beking pembalak hutan.”
“Laki-laki nan indak gentar melawan gubernur pencoleng jo mafia kantor bupati,
haa, tu baru,… namonyo berani.”
…
…
Penutup komposisi berupa akor minor, fellas:
malam harinya saya gerah, ngga bisa tidur. Entah apa sebabnya, saya merasa seperti anak kecil baru disunat, dengan kemaluan yang terganjal.
12 Comments »
. dari Horace untuk Rendra; konon gamer gila
..
…
Bru, have you realized?
…
Saat jari tangan kanan kita memijat enter untuk mengeksekusi monster, di sebuah video game, belahan benak-kiri kitalah yang berandil mayoritas untuk memerintah. Kebanyakan sirkuit yang menopang otak itu bekerja menyilang, kiri ke kanan. Maka ketika karakter yang Sampean mainkan sedang terpojok dengan panel stamina minim dan mengedip, otak Sampean akan menanggapi ‘realitas’ tersebut dengan serius: menyuruh tangan melakukan ‘pembunuhan’.
…
Hasrat agresi yang tribal (dan manusiawi, memang) akan dijalarkan sepanjang serabut halus saraf, bermil-mil panjangnya, dengan kecepatan (untuk manusia yang secerdas Sampean) mencapai 360 km per jam. Musnahkan, bedebah, hajar saja, katanya. Dan otot tangan kanan Sampean pasti amat setia.
…
Di udara Gaza belasan F-16 Israel sedang memijat enter mereka sendiri. ‘Realitas’ mereka adalah kokpit, target display yang menunggu objek terkunci, serta tombol merah di tongkat kemudi. Saya tak pernah tahu apakah mereka menekan kenop dengan atau tanpa kebencian (naga-naganya sih: ‘dengan’). Tapi saya tahu, saat misi tersebut digelar, mereka tak pernah mencerap secara visual apa yang telah tumpas oleh misil-berfosfor mereka—sementara kota, yang jauh dari kaki mereka, dijejali seribu kematian;
……
…bareng dengan matinya monster Sampean—yang juga terbunuh entah dengan atau tanpa kebencian.
…
Game is cool. Karena tokh pembunuhan di game ini tak merugikan siapa-siapa, maka Sampean barangkali tak perlu merasa jeri. Dimensi, memisahkan Sampean dari karakter musuh yang Sampean lawan. Altitude menciptakan jarak antara pilot Israel dari darah tumpah di bumi. Korban, bagi para pilot celaka itu, cuma data digital. Begitupun bagi Sampean: bilangan biner sekian bytes.
…
Hanya jika—sekali lagi hanya jika—greget kebencian hadir di sana, maka game Risk Your Life tak pelak berdampak buruk bagi ketentraman batin Sampean. Kebencian—dan turunan ‘intim’-nya yang beragam seperti rasa takut dan iri hati—seperti Sampean tahu, adalah komoditas vulgar paling laku di pasar dunia. Kita menemukannya di manapun tanpa kecuali. Ia, seperti Nadjib kerap berkata, virus jahat yang menggerogoti umur kita. Benci menimbulkan suatu, dalam pembahasaan Sampean sendiri, momen ‘kehilangan rasa keindahan’… Ini momen menyebalkan. Recuerdos de l’Alhambra bahkan bisa terdengar kaya tet-tet-tow-wet bel tukang roti belaka. Saya tak pernah berdoa pada Gusti agar Sampean mengalaminya.
…
Karena Masa-Muda, Saudaraku, adalah Gelora yang tak pernah mampir dua kali ke hidupmu….
…
Sebab otak kita sekarang sedang dipasangi pita kuning, Kawan, bertuliskan huruf besar UNDER CONSTRUCTION hingga usia kita kelak 40. Protein dan lemak gembul itu tak pernah sepi dari keajaiban reaksi nuklir inter-sel maharumit dan badai listrik yang gila di relung-relungnya.
Bahkan selalu ada sebuah ‘palung’ semu raksasa yang tak Sampean sadari eksistensinya. Orang memanggilnya: memori bawah sadar. Ia bekerja seperti hardisk kotak hitam pesawat. Meski Sampean duduk santai di jok belakang mobil dalam perjalanan ke Rumah Sakit Jiwa Ghrasia, nglamun jorok dengan pipi menempel ke jendela, palung itu justru tak pernah alpa. Diam-diam ia merekam.
…
Dalam kondisi hipnosis, sampean akan ditanyai psikiater langganan saya, “Berapa batang pohon kelapa di tepi jalan yang tadi Anda lewati?”
…
Pertanyaan tolol, khan? Enggak ada juntrungannya. Tapi tahukah, jika Sampean menjawab 17, lantas nyatanya setelah Sampean hitung ulang sendiri karena penasaran, memang tepat sebanyak itulah jumlah pohon kelapa sesungguhnya? Tahukah Sampean bahwa memang sebegitu-rincinya-lah kita dikurniai daya menyimpan segala informasi yang sempat tertangkap mata? Sampean akan takjub. Pikiran kita adalah sesuatu yang jauh lebih dahsyat dari yang pernah kita pikirkan. Gusti, betul-betul edan!
Saya pernah satu kali mencoba eksperimen itu di Jogja, Kawan. Sampean harus menjajalnya juga agar percaya betapa ajaibnya evolusi jagat raya; juga supaya sadar-diri, tak mengotori kecanggihan memori hardisk tersebut dengan sampah butut ngga penting kaya infotainmen dan telenovela (maaf, yang ini khusus buat istri saya. Sorry ya, Yang. I love you, muah-muah)….
…
Namun yang lebih penting ialah: menjaga tanah-lapang suci itu dari ingatan detil-detil, idiom-idiom, ikon-ikon, simbol-simbol yang berasosiasi dengan kekerasan.
…
Jika—hanya jika—kebencian terpupuk saban hari, setiap main game dan di setiap perang, Kawan, maka kepala Sampean akan mengikuti hukum alam dan punya kans membangun pola.
Sirkuit baru akan bertaut berdasarkan informasi menggunung yang masuk ke palungnya. Mata di kokpit yang memandangi monitor citra GPS akan terhubung seketika pada korteks yang memuat folder ‘kebencian’ berisi file ‘Palestina’. Bom meluncur. Dan game terus saja dimainkan, tak peduli dengan atau tanpa korban.
Impulsa-impulsa serupa bisa jadi akan menjelajah di kepala Sampean. Monster, empire, gold, point, berkelindan untuk dimenangkan maupun dihancurkan. Juga dengan atau tanpa korban.
…
My-Brother-Stardust, debu-bintang-bintang, saya jarang bertemu ‘makhluk jenius calon-insinyur dari fakultas teknik perguruan tinggi negeri keren tempat dulu saya pernah melamar via UMPTN tapi melepeh saya mentah-mentah’, yang sanggup membaca partitur blundat-blundet segampang minum kopi, macam Sampean. Sampean bisa dipastikan cukup luhung untuk mengerti perkara sepele, seperti: jika kebencian hadir, maka apapun bentuk korban yang jatuh gara-gara tangan kita, entah ksatria-maya atau seorang bocah muslim Timur Tengah, seekor nyamuk maupun karakter penyihir, baik itu di game dan di perang nyata,…
…
…apa dan siapa pun korbannya: yang terjadi dan terbangun oleh benci di benak kita adalah sungguh-sungguh komposisi fisikal-kimiawi yang sama.
…
Peace be with you, with your sight and hearing; and Jogja too
…
…
…
…
Comments Off
…
…
…
…
Kami cuma turis dengan karcis pulang-pergi. Singgah sekejap di kedai riuh bernama dunia.
Duduk, minum dan bergurau di bawah cuaca,
menunggu siklus petang tiba—yang mengantar balik ke arah datang—ke asalnya semula
Kelana-kelana asing akan bersapaan di sini, membincangkan arah angin,
juga tentang kenapa bayang-bayang yang jatuh pada rumput memanjang ke timur selepas tengah hari.
…
…
…
Angin mempertemukan kami.
…
…
…
Bayang-bayang kami merapat, bercakap dalam warna langit.
…
Nun di barat, horison menyimpan rencana lukisannya.
Hanya Ia—Maha Raya—yang tahu pasti komposisi apa yang akan cahaya perbuat pada sebentang ruang senyap antara mata kami dan matahari.
…
Barangkali nanti jingga akan teracak rata pada latar magenta, dan tirai violet bertebar tipis atas kelabu, seperti memar-memar fajar lalu.
Kami memang cuma pandai menerka-nerka.
…
Namun, apapun yang menjelang,
kami telah membukukan janji untuk tak menunggu ujung senja itu dalam sendiri. Kami berbagi anggur dan roti. Menghadapi meja yang sama.
Saling tergenggam pada jemari dan mulai mengeja kedamaian-kedamaian sederhana.
…
Perlahan, seperti alir sungai-sungai yang setia.
…
…
Pada kedai penantian yang manis ini kami percaya, nama kami berdua telah dicantumkan-Nya dalam garis tangan kami sejak jauh sebelum langit diciptakan.
…
…
…
SRW
3 Comments »
buat
Mo Har dan Dewi Nuraini

Kita kalah.
Seakan bangsa-bangsa diragamkan sebanyak ini di atas dunia hanya untuk menyudutkan kita ke rasa rendah; pada ketakterhapusan kenangan sedih.
Tapi barang apakah ‘bangkit’ itu, Mo?
Politisi-politisi telah menjabarkannya dalam iklan televisi, namun saya masih tak mengerti. Barangkali orang-orang tua itu pun tak mengerti gerangan apa yang mereka bicarakan. Mungkin bangkit berarti seremoni; tari-tarian kolosal di Senayan, atau sekelumit ikrar yang terdengar tegar dari lisan sesosok pemimpin berbadan tinggi besar namun memiliki hati yang terlihat rapuh.
Hati rapuh tak akan mampu meresapi apa-apa yang dunia pandang dari sebuah bangsa. Seratus revolusi bumi pada matahari—rentang cuma sekejap dalam waktu-geologis—telah selalu memberikan cermin yang dihadapannya kita selalu lupa. Dan lupa adalah natur kita, Den Ayu….
Meski begitu, sejarah tetap membukukan apapun yang luput diingat. Tak genap seratus tahun, serumpun Arya di barat mengubah lanskap hancur negerinya dari reruntuhan menjadi blok-blok industri. Harga diri penduduknya, yang miskin dan dihinakan seolah kacung pelayan mimpi gila sang fuhrer, telah dipulihkan berlipat lebih mulia di panggung-panggung penobatan kekerasan hati. Nobel menjadi murah. Dunia kembali belajar hidup pada ketinggian kelas mereka.
Tetangga kuning di timur pun mencatatkan luka sangat dalam. Pula, bangsa itu pernah tersirap mimpi arian. Sebuah ilusi Asia Timur Raya, yang merampas berjuta nyawa. Di ujung perang, ketika bahkan tiga-tahun-sudah rakyat Jepang tak punya beras untuk dimakan, dua bilah cakra justru diluncurkan dari lambung sekutu. Sepasang proyektil renik ditembakkan pada dua bungkah olahan uranium, memicu reaksi perceraian atom-atom, melepaskan energi tiada tara ke atas langit dua kota. Dua ratus ribu kelinci mati terbakar seketika. Ufuk rata. Entah berapa puluh juta jiwa yang jadi nyeri. Sesak. Malu.
Empat puluh tahun kemudian giliran dunia yang dibikin sesak dan malu.
Honda, Toyota dan Mitsubishi menginvasi tujuh benua. Kubota dan Komatsu membuldozer statistik lama. Lalu Sogo. Lalu Sony. Lalu Hitachi….
Katakan, Romo, mengapa kita tak punya epik yang sama, yang secara liris dapat kita kisahkan pada cucu-cucu yang mendengarkannya dengan sepenuh bongak dan haru?
Tapi beliau bungkam.
Karena kamu anggota ras inferior, olok suami sahabat saya yang mancung berkulit putih.
Alam memanjakan dan membentukmu menjadi kukang lamban yang tak perlu bersitahan dari tornado dan badai-badai salju. Matahari tropis dan klorofil melimpahkan makanan di ambang pintu.
Dan hanya ada dua jenis mental dalam jatidirimu: kalau tak raja, babu. That’s all. Maka kamu cuma meringis saat terkuasai, lalu memeringiskan orang lain saat mulai berkuasa. Kamu tentu tahu, anak seorang raja di negerimu hanya menjelma benalu tak becus sebagai pembalap dan pengusaha; dan dengan mudah membunuh seorang hakim malang yang tak bersetuju pada kelakuan kolokannya. Kakak si benalu, mutunya tak jauh beda. Jika Onassis yang flamboyan mampu menggaet janda Kennedy, al-Fayed sanggup bikin Lady Dy kasmaran, maka sang parasit ini mentok-mentoknya cuma bisa ng*we penyanyi kampung luar biasa norak anak seorang dalang wayang. Putra cukong minyak tahun 70-an tumbuh jadi tuhan-tuhanan congkak yang tega menembak pelipis pelayan bar sampai mati hanya gara-gara harga diri murahan. Dan kamu lihat sendiri, berjuta anak muda manja di kepulauan menyedihkanmu itu betah menginap di bawah ketiak papanya yang jendral wa’wau, dirjen anu, kepala ini-itu, atau dirut blah-blah—tak kenal malu.
Anak muda macam apa sih kamu? Menyanyikan lagu ‘…kau membuat ku berantakan…kau membuat ku tak karuan…’. Macam kunyuk tidur siang mimpi kecurian pisang. Semua lirik lagu pop yang laku di negaramu telah sukses melukiskan sketsa nyalimu. Kau mewek-mewek untuk cewek. Nangis saja kerjamu. Di kontes idol, di tiap kekalahan, di pengajian, di lorong bioskop seusai nonton Ayat-Ayat Setan, di mana saja. Seolah tititmu kau titip di pegadaian.
Ah, memang, tak perlu jadi jenius untuk menderetkan muatan kotak pandora bangsamu….
Gen-gen blo’on itu terwariskan, pada akhirnya, sobat. Menetap pada siklus darahmu. Kode-kode rasa sakit penjajahan bertemurun hingga hinggap kini pada benak bawah-sadarmu yang minder, sedemikian parahnya sehingga bahkan sedikit kurnia kekuasaan saja sudah memadai untuk mengubahmu jadi oportunis karbitan dus pecandu rasa hormat dari orang lain, dalam kadar kehausan yang lebih dan terus lebih.
(Anak anjing ini semakin fasih. Ia menghujat panjang)
Dan bangsa kamu kini tak punya ayah….
(Saya memang tak berayah. Ayah saya sudah lama mati)
Fatherlessness—ketakberayahan itu yang menggiringmu jadi pecundang. Tak ada yang mendidikmu berpikir dan bekerja.
Ayahmu semula adalah paduan unik dari amarah, kecerdasan, rasa bersalah dan gelora hati; Salim, Tjip, Malaka, Sjahrir, Hatta. Ia persenyawaan yang minta ampun amat kuat dan hidup dalam jantung para bapakmu itu. Zakarnya begitu digdaya, menghujam langsung ke rahim ibumu, kemudian kamu lahir dari selangkangan makhluk bernama anomali-sejarah. Duh, bangsa muda yang malang, kenapa kamu bunuh ayahmu sendiri…?
Kau biri-biri. Manut saja kemana-mana arah yang tertunjuk penguasa-penguasa dunia. Keterjajahanmu merasuk hingga ke synap-synap otakmu yang kocak. Lalu yang paling menggelikan, Danny, ialah wajah-wajah melayu di Singapura: mereka terlihat puas dan tersanjung pada keramahan gerai, merasa raja di depan kasir belanja. Untuk orgasme-konsumsi itu para keledai rela kehilangan ribuan dolar tanpa pernah merasa intelijensinya terusik. Bangsamu tak cakap membangun processor, namun mengusahakan segala cara untuk memiliki gadget-gadget terbaru. Kamu cuma mahir—maaf…—ngaceng. Dikit-dikit nafsu.
Kamu habiskan hari-hari tanpa menghasilkan karya, dasar konsumen celaka. Bahkan perayaan kebangkitanmu kamu pelintir sendiri menjadi serupa pariwara: wahai, saudara, lihatlah konvoi kami, konsumen sejati sepedamotor pemapar karbon paling boros dan tolol bikinan Amerika.
Kamu sudah telak terkepung Nokia, Harry Potter, IKEA, Rolex; you name it…yang bertubi menembaki hasrat majnun-mu tanpa balas. Kamu mencari identitas di dalam trademark—yang sayangnya tak ada. Secara kejiwaan hal ini belaka tak membedakanmu dari manusia prasejarah; makin banyak tulang terpasak di gelung rambutmu, kamu kian nyaman atas statusmu yang (kamu pikir) meninggi. Maka kamu datang dari mudik jauh-jauh ke Jakarta dalam sinambung gelombang-gelombang brain-drain demi citra mobilitas sosial, menjadi klerk-klerk berdasi, supaya punya sesuatu yang bisa dipamerkan ke orang-orang kampung; seakan hidupmu tak lebih konyol dari kontes kecantikan. Sementara itu, kamu samasekali tak merasa sedang dikerjai habis-habisan; sekaligus mengisi fungsi mengerjai saudara-saudaramu sendiri sampai tandas hingga periuk nasi. Bagaimanalah mungkin kelenjar lendir instingtif yang kamu sebut manusia Indonesia macam itu mau berpayah-payah mengerti konsep bangsa, hum?
Kamu, seperti klise kerap terdengar, mengambil hanya tirisan ampas Barat. Nongkrong di Starbucks, bermain pool, sementara alam pikirmu tetap percaya berkah kyai, isim dan jimat. Kamu sarapan corn-flakes diguyur susu tapi kamu ogah menambah ilmu dan abai terhadap waktu. Semua kulit modernitas kamu kenakan tapi mental oncommu itu tak kuasa membangkitkanmu dari sikap mudah menyerah, atau dari ketakutan untuk menjadi berbeda dari khalayak. Kamu tetap saja bagian dari puak feodal tukang ngamuk yang tak bisa legawa menerima kritik dan cercaan. Makna kosmopolitan bagimu ialah gaya penampilan rekomendasi majalah untuk show off percaya diri hanya ke depan warga bangsamu yang sedang susah dan tak fasih mengeja Dolce & Gabanna—dengan ketakfasihan sama seperti saat akal-shopping-mu mengeja Debussy atau Sartre di tengah kolega-kolega bule: menyudutkanmu jadi sekadar tukang minder memilukan di luar sarang. Tetapi, di kandang sendiri, kamu berbangga-bangga atas sesuatu yang tak beralasan untuk tak ditertawakan. Dan kamu upload foto-fotomu di Friendster ini dengan latar Eiffel, Opera House atau Pisa, barangkali hanya untuk membuktikan bahwa kamu, eksponen bangsa jelata, sesungguhnya tak pernah berangkat kemana-mana.
Sahabat saya ini menutup provokasinya dengan separagraf berisi tiga belas kali ”ha-”.
Saya kembali merajuk pada Si Romo. ”Katakan, Mo…katakan bahwa semua kekalahan yang digonggongkan kirik itu tak akan berlangsung lama. Bilang saja, bahwa ribuan anak muda yang betul-betul hidup hari ini tak pernah melupakan tiap penghinaan atas bapaknya, mengelola amarahnya, dan sedang memikirkan banyak perihal baik. Mereka sedang menjaga jarak dari institusi-institusi kepalsuan. Namun dalam sunyi, mereka merancang jejaring kesadaran yang makin lengkap dari hari ke hari; merencanakan masa depan baru untuk keluarga-keluarga sebangsanya. Ribuan pipa sedang mengalir vertikal dari kedalaman inti bumi. Ribuan sel terhubung pada sebuah dapur magma raksasa di bawah kaki kita, menggelegak tersembunyi, untuk serta-merta mencari jalan keluar ke arah keluasan: menggelegar dalam mahaledakan yang menghancurleburkan cakrawala lama. Ini tak muluk, Mo. Demi tuhan, demi semua tenant di sorga, ia pernah nyata terjadi pada Rudolf dan Soichiro”.
”Katakan, Mo. Kita sedang dipersiapkan ke sana…”
Romo bergeming diam saja. Menghela nafas, tersenyum teduh, dan sebagai seorang Katolik yang saleh dan baik beliau berkata, ”Wallahu’alam bisawwab…”.
Saya yang masih getol menuntut peneguhan beralih minta pendapat dari Den Ayu, yang malah dengan santai menjawab, ”Au’ahlap…”.
Mengutip lirik baris keempat lagu Dari Sabang sampai Merauke, well,… “Itulah Indonesia…”.
2 Comments »

Kita semua tinggal di dunia yang dikuasai para raksasa.
Raksasa-raksasa ini memang berkarakter macam raksasa di cerita dongeng yang kita simak sejak kecil: rakus, mentang-mentang, tegaan, suka nyabutin pohon-pohon dan gemar makan orang. Di awal milenium kemarin, saat raksasa minyak sengaja kentut, maka Afghanistan atau Irak jadi berbau amat busuk hingga layak untuk disemprot parfum bermerk Tomahawk. Kalau haus, mereka suruh kurcaci-kurcaci kocak di Senayan sana untuk menerbitkan beleid yang melarang penduduk mendulang air bersih dari sumur di halaman nenek moyangnya sendiri. Kalau birahi? Nah, ini sebaiknya kita bicarakan di pos ronda saja, kawan….
Para raksasa tersebut adalah korporasi-korporasi multinasional yang maha kuasa. Kuasa mereka—bila disimpulkan ke kalimat sederhana—ialah: bikin kita semua manut untuk hidup konyol.
Kita lahir, besar, kuliah, lulus, lalu bekerja bagi para raksasa untuk menambah laju pertumbuhan produksi mereka. Kita digembalakan agar sepanjang hayat mengonsumsi produk mereka. Kemapanan yang kita dambakan pada gilirannya berupa kemampuan untuk menyesuaikan gaya hidup dengan standar yang didiktekan oleh raksasa. Sukses berarti konsumsi berlebihan. Makna kekayaan ialah memiliki lebih banyak alih-alih membutuhkan lebih sedikit.
Nafsu setiap orang dari hari ke hari mereka pertajam, makin dibuat beragam, dengan harapan bahwa raksasa selalu terjamin mendapat keuntungan akibat konsumsi massal yang konstan-berulang dan berlebihan. Pikiran kita dibentuk untuk terus berkeinginan membeli barang-barang yang tak kita butuhkan. Apakah Anda berhasrat meraih kemapanan status sosial untuk nampang di depan mertua? Tenang saja, kami bikin sedan sport. Kendati bikin langit bolong, toh akan tetap kami rilis ke pasar—soalnya Kuwait dan Saudi masih stand-by di bawah selangkangan kami…; jadi, teknologi mesin efisien yang sebetulnya sudah kami miliki, bakal kami simpan dulu sampai nanti publik kami rekayasa agar bosan, untuk kemudian kami bujuk lagi habis-habisan pakai iklan baru di TV supaya bangkit nafsunya beli Porsche berbahan bakar kombinasi batere kering plus pipis kambing…. Kepingin hidup sehat, Saudara-Saudara? Tenang. Kami bikin ribuan model piranti gymnastic; monggo dibeli dengan kurs dollar. Juga ada sejuta macam suplemen-nutrisi yang menyulap kalian seolah jadi miss universe paling cantik. Misal lambung kalian melintir karenanya, ginjal meletus atau usus jadi lurus…o, kawan kami sang raksasa farmasi sudah menyediakan kapsul-kapsul turun bero’…. Bahkan dokter-dokter terbaik (baca: penentang Hipokrates dan Ibnu Sina paling radikal…), atau asuransi kesehatan kelas diamond hingga fasilitas deteksi kanker tercanggih, semuanya telah kami selenggarakan kalau-kalau kalian jatuh sakit. Makanya kumpulin duit dengan kerja sekeras-kerasnya kalau perlu sampai elu pada sakit…. Berangan-anganlah sejak kini: kalian kelak selalu berada dalam rasa puas atas kepungan barang-barang (baca lagi: benda-benda yang segera saja jadi amat menjemukan sehingga kita kembali dirasuki hasrat konsumsi berikutnya, tanpa henti).
Di dunia yang sekonyol ini, para raksasa selalu berkata, “lu semua kudu tergantung sama gua; bayar gua; beli banyak-banyak cuman sama gua…; dan kaga ada yang gratiiis!!!”
Itu satu hal.
***
Namun di Glodok, ada raksasa yang ngga bisa seenaknya bersikap mentang-mentang: raksasa perangkat lunak komputer macam Microsoft. Kedua, raksasa industri pop culture dan home entertainment, seperti Warner, Sonymusic, Columbia, EA Sports, Konami dan gengnya yang lain.
Glodok identik dengan pembajakan—yang tergolong perbuatan kriminal. Perbuatan kriminal, kata para penemu dan penentu hukum, sifatnya jahat. Kenapa ia jahat? Karena ia memerkosa hak-hak para raksasa untuk mendulang nilai tambah—hak-hak atas kekayaan intelektual—yang melahirkan produk mereka. Hak ini bernilai sangat tinggi karena menuntut kerja kreatifitas dan kecerdasan. Maka itu, di mal, sekeping cakram Windows dijual 399 US$, sedang VCD Godfather harganya 200 ribu rupiah.
Kemahalan? Tentu tidak, kata para raksasa. Harga itu sudah tersaring oleh kompetitor hingga menjadi semurah mungkin; percayalah.
Oke. Saya tetap percaya meskipun saya yang papa ini masih merasakan kemahalannya. Meskipun harga itu bagai langit-bumi jika diukur dengan bandingan pendapatan per-kapita orang Indonesia per hari.
Lantas jagad raya menyediakan informasi bahwa di negara dunia “pascasejahtera” sepanjang tiga dasawarsa terakhir nilai tukar produk-produk agraris dan mineral dari dunia ketiga—bagian dunia yang saya tinggali ini—berada pada titik terendah. Salah satu penyebabnya: kehendak politis-ekonomis yang disengaja dari negara-negara tempat hidup para raksasa; agar mudah mari kita namakan saja negeri Alengka.
Alengka membatasi masuknya produk pertanian dari negara miskin dengan segala bentuk persyaratan yang aneh-aneh, sehingga orang susah dan kapok berjualan di situ. Dibuatlah pembatasan-pembatasan lewat pengenaan tarif masuk yang tinggi. Lalu negeri itu juga mensubsidi petani-petaninya; menjaga agar produk asing tak mampu selamat dari persaingan harga. Seekor sapi di Uni Eropa disubsidi 2,2 US$ per hari—jumlah yang 7 kali lebih besar dari pendapatan rata-rata warga kota Mogadishu. Tapi sebaliknya, tuan-tuan kaya ini melarang negara-negara agraris untuk membangun sistem proteksinya sendiri. Betul-betul skema peng-kadal-an yang telanjang.
Pada saat bersamaan ratusan ribu ton kelebihan panen jagung dan gandum dimusnahkan tiap tahun—karena risiko kejatuhan harga akibat kelimpahan pasokan dianggap berbahaya; dan karena biaya pemusnahan itu lebih murah dari ongkos ekspedisi kemanusiaan andai bahan makanan tadi hendak diterbangkan ke kantung-kantung kelaparan di Sudan.
Di dunia timpang sebentuk itu, apakah sportif jika negara raksasa bisa seenaknya saja berjualan di sini, memasang harga-harga yang mahal atas produk intelektualnya, melindunginya dengan keras melalui hukum, sedangkan negara-negara non-sejahtera dibatasi ruang dagangnya, dikompori untuk menjunjung dan hormat pada kekayaan intelektual impor sementara produk ekspor agraris kita dilecehkan? Apakah setimpal jika CD Playstation asli harganya setara sekuintal beras? Sampo kita sejak dulu sudah bikinan P&G. Pembersih wajah dari Kao. Pembalut dari Unilever. Untuk hiburan, kita juga harus bergantung juga pada Polygram-kah?
Jika memang terpaksanya demikian, ya, apa boleh buat. Kita akan lihat nun di pedalaman Deli sana, gadis manis yang berusaha jadi gaul bernama Maemunah
mengeluarkan 70 ribu rupiah demi sekeping CD Alicia Keys—sama mahal dengan SPP-nya sebulan. Barangkali satu KUD miskin di Brebes terpaksa menggembungkan anggaran pengadaan komputer, hingga 2 kali lipat karena dipaksa membeli perangkat lunak sistem operasi yang orisinal—yang harganya sebanding dengan setengah ton bawang merah yang jadi barang dagangan koperasi tersebut.
Dari manakah datangnya kemahalan itu? Saya duga sikap jual-mahal itu paling mungkin berasal dari psikologi megaloman. Barangkali semacam ketamakan.
Ada filosofi mengerikan di dalam mindset para raksasa, yaitu: ekspansi tanpa batas. Tak ada kata cukup untuk memperbesar keuntungan-keuntungan kapital—yang dibiayai dari kesusahan 3 milyar manusia dunia ketiga akibat proses pelanggengan ketimpangan, seperti yang sedang berlangsung hari ini.
Ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi: itu hal yang lain lagi.
***
Raksasa sulit dikalahkan. Mereka amat cerdas dan kaya raya. Mereka ingin kita setia pada ketergantungan total kita terhadap kekuasaannya. Paling banter kita cuma bisa membuat mereka berang. Atau menimpuk kepala mereka sampai benjol, seperti yang dilakukan engkoh-engkoh dan encik-encik di Glodok.
Saya punya perasaan ’lega’ di Glodok karena terlintas pikiran bahwa pembajakan habis-habisan di sana dapat dianggap kenakalan yang berdampak positif dalam rangka ngisengin raksasa yang sewenang-wenang dan yang ngotot mau mengambil sebanyak-banyaknya nilai tambah teknologi untuk puak mereka sendiri. Dan kita semua adalah korban-korbannya, yang digiring ke arah ketergantungan, lalu dipaksa membayar mahal untuk mendapat produk intelektual mereka. Padahal mereka sendiri adalah pengutang besar. Coba renungkan, dari manakah asalnya film, musik dan perangkat lunak?
Seni pertunjukan berasal jauh dari jaman Greko-Roman sebelum Masehi, yang tanpanya ide tentang teater modern dan film tak akan pernah muncul di benak peradaban manusia. Sementara kita membayar nilai tambah yang mahal untuk keping DVD, Metro-Goldwin-Mayer pasti tak membayar apa-apa untuk desain plot ciptaan Homer dan Aristophanes yang diadopsi ke beberapa film bikinan mereka. Juga, seluruh studio rekaman dan pencipta lagu yang ada di dunia ini pasti tak pernah membayar royalti pada penemu sistem tangga nada do-re-mi-fa-sol. Tanyalah pada Bill Gates, apakah beliau pernah membayar mahal pada nenek moyang Cro-Magnon-nya atas jasa menemukan teknik membuat api, yang menggiring manusia Eropa memasuki tahap peradaban menetap? Apa beliau pernah memberi amplop buat penemu semikonduktor? Saya juga yakin beliau belum sempat menyisipkan uang terimakasih pada matematikawan-matematikawan jenius Arab abad tengah—al-Khawarizmi, al-Kashi, al-Haytam, etc— yang menemukan kalkulus dan algoritma.
Seni dan teknologi modern adalah akumulasi warisan. Produk-produk seni dan teknologi tak pernah betul-betul orisinal, melainkan unsur-unsurnya selalu bersumber pada warisan peradaban dari masa lampau. Kita cuma melanjutkannya saja; berutang pada leluhur dan mem-forward pembayarannya pada anak-cucu dengan nilai yang lebih baik. Meski produk intelektual itu sah untuk dijadikan komoditas, namun jangan serakah dong kalau jualan, Tuan….
Segala hak di atas dunia, termasuk hak atas kekayaan intelektual, selalu punya fungsi sosial. Sebab pada awalnya tujuan seni dan teknologi ialah ajang pengabdian—dan mengabdi artinya membatasi pamrih—bagi sesama, agar kehidupan jadi lebih mudah dan bermakna. Seniman dan ilmuwan yang sejati pasti punya motif dharma seperti itu. Ekspektasinya tak ingin kentara. Tapi berhubung dunia kita dikuasai para pebisnis, kita harus berkompromi. Segalanya mesti dibeli pakai harga tinggi.
Dan untuk menyokong kelancaran penjualan produknya, maka raksasa juga melengkapi strateginya dengan memasarkan imaji-imaji tentang betapa bijaknya seseorang yang mengonsumsi produk intelektual orisinal. Jika orang mengecam pembajakan, maka ia cool, intelek dan paham hak asasi manusia. O, Lord…what a dog*hit.
Lihatlah, di infotainmen, artis-artis itu menghujat pembajakan. Mereka mungkin termasuk golongan yang sadar-hak, well educated. Sebagian dari mereka mungkin termasuk pihak yang sekadar enjoy untuk sensasi-sensasi yang timbul dari rasa menganggap diri sendiri beradab serta masih tahu malu karena menentang perompakan. Tapi terus terang kalau saya jadi artis pop, pasti saya akan bersikap begitu juga. Lha ong di situ letak periuk saya, kok…. Tentu saja saya bela.
Orang awam, yang tak terpaut kepentingan industri apapun, dapat juga bersikap saklek dan benci pembajakan. Saya kira ada kemungkinan ia mengidap Sindroma Stockholm: korban yang jatuh cinta pada penculiknya sendiri. Atau, ia memang hanya lugu dan naif, atau terlanjur kronis terindoktrinasi hingga bersedia jadi agen kapitalis tak bergaji, walaupun hatinya bersih karena tak suka mencuri.
Di Hindia masa kolonial, ketika pihak yang kaya sudah begitu banyak merebut hak-hak pribumi, hati nurani menir-menir penting di parlemen secara alamiah dirundung kompleks perasaan bersalah, yang ujungnya memaksa pemerintah Kerajaan Belanda mengangkat isu Politik Etis. Isu ini diniatkan sebagai balas budi atas pemerasan yang telah mereka perbuat ratusan tahun di tanah jajahan. Memang, program itu tak sepenuhnya berhasil. Tetapi niatnya sendiri sudah cukup manis.
Kebetulan itikad ini masih cocok dengan kondisi dunia terakhir. Di bawah ’pengepakan’ IMF, World Bank, kasak-kusuk G7 dan spekulan global, belahan bumi Selatan dibikin jadi lautan orang sengsara yang bertikai sesaudara mereka sendiri. Para kaya semestinya membayar mahal atas perbuatannya tersebut. Mereka wajib memberi penghiburan, serta membantu kita dalam segala hal. Kemakmuran mereka selama 400 tahun belakangan ini tak dapat dipungkiri bersumber dari kemurahan hati kita-kita semua. Wajar sekali bila lantas mereka tumbuh pintar, menghasilkan produk-produk cerdas (tapi mahal), karena kita semua setia memberi mereka makanan enak bergizi. Kita berhak menunggu balas budi. Nah, kalau untuk soal produk-produk seni dan teknologi saja mereka sudah demikian kikirnya pada kita, begitu serakahnya… tentu dunia balik melawan.
Sikap pribadi saya tentang pembajakan, sekadar ilustrasi, begini: separuh koleksi film saya adalah kopian ilegal. Komputer jinjing saya memakai software abal-abal.
Ngapain gue beli asli…emang orang-orang bule’ doang yang bisa ngrampok rempah-rempah leluhur gue jaman dulu? Sekarang gantian gue yang nyopet elu, le’….
Kira-kira seperti itulah sikap norak saya yang sok mau balas dendam. Sifat ini timbul sebagai akibat di masa kecil saya terlalu sering nonton film cina-ngamuk.
So, thanks a lot, ’ngkoh. Kam sia, ’ncik.
Keep on f@kin ’em all, like they f@k us.
Maafkan saya, pak polisi. Saya ini memang maling, kriminal. Total 150 judul film sudah berhasil saya kopi dengan tekun dan sabar…. Tapi saya tak sedikit pun merasa jahat. Saya cuma mencicip sedikit kudapan ringan dari meja hidangan para raksasa yang sudah terlalu amat kenyang, tanpa ijin.
Ah, saya yakin sekali, meski Bang Napi bakalan nyinyir dengan nasihat-nasihat sucinya, namun Paman Robin Hood pasti demen sama kelakuan saya.
Wasalam.
…
…
ps; btw, jangan bajak semua produk dalam negeri, ye. Ingat: PRODUK DALAM NEGERI!!!
(bukan Amerika doang yang bisa bikin standar ganda. Gue juga bisa, Mrik…)
1 Comment »

“Lho, Mas ini bagaimana seh…lha kok ya baru sekarang mau menyuci’in jiwa, ngebersihin hati, tunggang-tungging nyari pahala, dan lain-lainnya téték-bengék itu, heh? Kok ngga bulan-bulan kemaren aja, mumpung harga bawang merah belom pada naek, telor lehorn sekilo belom sampe ceban, dan operator telpon seluler beloman jadi milyuner mendadak gara-gara sms marhaban-marhaban?”
…
“Lha wong Aku juga ngga pergi kemana-mana; ngga peréi dan ngambil cuti kok….
Open house melulu saban hari…
…
…ngapain pake nunggu Ramadhan segala…?”
…
“Ngapain aje lu…???”
…
“Apa gara-gara aji mumpung, karena sekarang Aku cuci gudang, ekstra bonus, banyak pahala melimpah? Biar surplus, atau seapes-apesnya impas sama dosa, eh? Atau pengen dapet jackpot seribu bulan? Lha ente ini sebenernya sedang ng-ibadah atau maenan valas, eh? Mau jadi anak soleh, atau sok pengen jadi akuntan? Anak baek-baek atau spekulan?”
tck…tck…tck….
…
“Dasar kancil semué lu padé….”
“Sontoloyo belaké….”
…
…
(…di grand-penthouse sorga itu, para Malaikat ngangguk-angguk; sedangkan Tuhan geleng-geleng…)
(Oom Iblis absen; dengan alibi sedang meeting serius dengan para penimbun sembako dan eselon penting di kantor Departemen Perdagangan, Lapangan Banteng)
Kekeke….
Marahnye di-pause,
ye….
Khan lagi puase….
…
‘alaikumsalaam; peace
be with all of you.
2 Comments »
For my sister, MMW Tobing Smith…
(Pilot Project. Episode satu; act satu, durasi 7 menit. Episode yang ngga bakal ditayangkan di TV, sebab prediksi rating-nya minus…)
(Camera: On)
“Wahaaai, wahaaai, para pemirsa…. Selamat siang. Kembali lagi di acara Wisata Keblinger bersama saya, Bondon Winnetou. Salam hoya-hoya!”
“Kini saya berada di daerah Cawang, para pemirsa. Tepatnya di pinggir kali Ciliwung. Acara jalan-jalan kita mulai episode kali ini ke depan akan menampilkan makanan-makanan indie yang sedang jadi tren bagi warga ibukota. Namun kita ngga pergi ke restoran kaya biasanya, lho. Saya bosan menu a la carte. Bosan lihat garnish sama caviar. Saya juga capek sekali berpura-pura menikmati semua masakan restoran; padahal di antara yang pernah saya cicipi sebelumnya, ada beberapa tempat yang rasa makanannya amburadul, bikin eneg…. Tapi saya terpaksa tetap harus bilang mak-nyus-mak-nyus. Ngga mungkin dong kalau saya jujur. Bisa-bisa saya di-ekstradisi dari acara ini; matilah awak….”
“Dulu, saya pernah icip-icip masakan Perancis yang kebetulan mbuh kenapa ada kecoak-item gede buanget di piringnya. Pertamanya sih saya kirain mushroom…; saya sangka escargot daging bekicot…; ngga tahunya beneran kecoak tulen! Alamak…. Terpaksa deh perasaan jijiknya saya empet-empet, pemirsa. Lha wong sedang on air, jé…. Live from Paris, darling! Saya baru bisa muntah-muntah waktu break kamera; muntah sehebat-hebatnya, 3 meter kubik, sampai produser acaranya ‘ngira saya lagi bunting.”
“Nah, pemirsa, jangan kemana-mana. Jangan pencet-pencet remote. Wisata Keblinger akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”
(…lalu terdengar bunyi drum gedubrak-gedubrak yang menandakan jeda acara, disusul jingle khas acara ini, yaitu lagu Genjer-Genjer versi reggae yang dimainkan orkes musik asuhan Pak Bondon sendiri, Bondon Philharmonic Orchestra…)
“Halo, pemirsa. Salam hoya-hoya! Sekarang saya ada di rumah salah satu warga kampung bantaran kali. Saya pingin icip-icip makanan bikinan salah satu ibu rumah tangga di sini, yang kemarin sudah saya mintai tolong menyiapkan hidangan untuk acara kita. Ah, ini dia pemilik rumahnya. Maaf, Bu. Nama ibu siapa, ya?”
“Butet Mananjak Manurung.”
“Masak apa hari ini, Bu? Saya dan para pemirsa ingin segera tahu hidangan ibu.”
“Noh, zudah zaya ziapin nazi. Lauknya ikan zapu-zapu goreng. Zayurnya kaga ada. Kebon kangkung zaya anyut kena banzir. Ada tuak zegelaz di zitu. Opung. zaya yang bawa dari kampung. Minum azza kalo doyan, Pak”.
“Oke. Sekarang boleh langsung saya coba ya, Bu?”
“Gi dah. Eiiit…, tapi zzangan kebanyakan, ya. Laki zaya belom makan ziang.”
(Bondon Winnetou beringsut ke meja makan dari triplek tipis dan membuka tudung saji plastik yang sudah berlubang di sana-sini)
“Nah, ini dia, pemirsa…kelihatannya lumayan. Aaah, aromanya cukup sengit, pemirsa. Saya mau coba ikannya dulu, nih….”
(Tanpa sendok-garpu, Bondon langsung menyuwir daging ikan sapu-sapu itu dengan bernafsu. Tangannya berdarah terkena sirip tajam, tapi atas tuntutan peran, mau ngga mau Bondon ngga bisa teriak ‘ASU!!!’; jadi, beliau hanya cengar-cengir doang)
“Hmmm!!! Ehmmmh…! Wah, rough sekali, pemirsa. Hmmm…. Ini adalah goreng ikan sapu-sapu paling enak dalam pengalaman saya yang baru sekali ini mencoba….”
“Lihat, dagingnya putih dan rasanya gurih, barangkali karena digoreng hanya dalam waktu singkat. Orang Italia bakal bilang Bu Butet ini berselera aristokrat karena suka daging setengah matang. Junichiro Koizumi dan Doraemon akan menganggapnya bagai saudara. Hmmm, mak nyusss….”
(Di belakang, Bu Butet nyeletuk pelan, “Arizztokrat palé loh…orang zzaya cepet-cepet nggorengnya biar ngirit minyak tanah…”)
“Ikan sapu-sapu ini banyak hidup di kali Ciliwung yang terpapar limbah, pemirsa. Famili Loricariidae. Panjang badannya bisa mencapai satu meter. Kalau lebih semeter orang bakal mengira dia bukan ikan lagi tapi memedi; atau malah dianggap makhluk mutant calon Godzilla. Kulitnya betul-betul badak, terutama di tempurung kepala. Tulang siripnya tebal, tajam dan bisa Anda gunakan untuk membersihkan sisa makanan yang ‘nyangkut di gigi. Pengolahannya barangkali memerlukan alat-alat masak seperti martil, golok, linggis dan kadang gergaji mesin. Betul khan, Bu?”
“Horazz, bah. Zzuka-zzuka kau-lah”.
“Ada wangi sesame-nya, pemirsa. Sepertinya memang ditambahkan sedikit. Apa betul ini diberi minyak wijen, Bu? Aromanya kok sedap sekali. Minyak apa sih yang dipakai buat menggoreng ini, Bu?”
“Wizzen-wizzen ‘cem mana pula zih, Pak? Tak pake-lah. Orang cuman pake curah biazza kok. Itu pun belinya zudah lama zzekali. Dari zzaman gapura tuzzuhbelazan di uzung gang zzono belom bediri. Zzeingat zzaya minyaknya zudah kepake buat nggoreng ikan azzin zzeribu kali, zzama berapa kali dipake nggoreng cicek zama anak tokek, buat ngobatin zakit kutu aer mertua zzaya yang zzopir Kopazza….”
(…sekali lagi, atas nama profesionalisme, Bondon harus pura-pura cool. Beliau tetap senyum-senyum biarpun hatinya masygul…)
“Uhuk-uhuk…. Pemirsa, nah sekarang saya coba nasinya juga, ya. Hmmm, lho kok…—”
“Ngapa, Lay?”
“…eh, enggak. Ha-ha-ha, ngga apa-apa kok. Anu, nasinya kok keras, begitu. Rada sepet, begitu. Beras apa ini, Bu?”
“Berazz entah-lah, Pak. Pokoknya namanya nazzi aking.”
“Oooo…. Jadi macam ini tho rasanya…. (bisik-bisik: Alangkah runyam…sontoloyo…).”
“Oya, pemirsa…sekadar informasi, setahu saya aking ini adalah nasi dari beras daur ulang. Nasi basi dikeringkan, dikembalikan ke bentuk beras, lantas ditanak lagi. Lihat teksturnya yang kasar, pemirsa. Ada yang gepeng, ada yang bulirnya bertumpuk. Warnanya cukup menimbulkan selera, agak keruh-keruh gimana, gitu…. Aromanya, hmmm…kaya aroma kerak gosong di dasar dandang. Nah, pemirsa, kini saya merasa sayang jika membayangkan nasi betulan yang dibuang-buang sama cewek-cewek ja’im yang sok ngga mau ketahuan makan banyak di depan gebetan-nya, padahal banyak orang lagi pada
kelaparan dan susah…; kaya ngga punya sense of solidarity, gitu…. Kemayu….”
“Yang makan aking ini cuma rakyat susah. Dan rakyat itu sebetulnya raja. Kedaulatan ada di tangan mereka, bukan? Maka itu, nasi buluk ini dinamai nasi a-king, pemirsa.”
(Kamerawan yang tadinya anteng bekerja tiba-tiba menyahut kencang sekali, “Ah, tai banget lu, nDon! Khotbah ni yeee…. Monyet lu, ah…!”)
(“Itu teori Rouzzeau apa Montezquieu, Pak?” tanya Bu Butet)
(Pak Bondon gelagapan ngga bisa jawab sebab beliau tadi memang cuma ngomong asal-asalan…. Biar ngga kagok, beliau langsung menghabiskan tuak sekali tenggak, lalu bersendawa panjang…)
“Haeeeeeeeeeq’…! Fyuh….”
“Wuih, pemirzza…hikz…zzueeeger bianget. Ini tuak dari pohon nira; razzanya kerazz zzekali. Betul-betul azzli Batak. Zzepertinya fermentazzinya zzudah berlangzzung zzekian ratuzz tahun, hikz. Razzanya pahit-mazzam, lebih kental dan lebih gelap dari white wine, pemirzza. Azztaga…nikmat ‘kali razzanya, bah! Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!! Pemirzza, hikz…Anda zzebaiknya…hikz…zzangan minum ini zzebelum berkendara, kecuali Anda…hikz… memang pengen zzegera darmawizzata…hikz-hikz…ke neraka….”
(Pak Bondon tiba-tiba merasa pandangannya semakin berputar. Bumi gonjang-ganjing. Warna mukanya mulai mirip kepiting rebus. Beliau berteriak, “Cut!!! Cut!!! ‘Cem mana pula!!! Apa kata dunia??!”)
(Orang-orang jadi pada bingung. Apa maksudnya? Mereka menduga, akibat rada drunk, mungkin beliau jadi lupa bahwa saat itu beliau sedang jadi pembawa acara; bukannya sutradara…)
Walhasil, karena Pak Bondon mabok sampai pingsan, syuting hari itu bubar di menit ke tujuh. Seluruh kru produksi memutuskan menunggu pulihnya kesadaran Pak Bondon yang jatuh terkapar dengan lemah gemulai di meja makan.
Bu Butet sudah menerima honorarium-nya. Kini dia sedang mengipasi kepala Pak Bondon dengan segepok duit seribuan; dan dengan rutinnya menyapukan minyak sinyongnyong ke cuping hidung beliau agar segera siuman. Ia menyanyikan sebuah lagu Batak yang berjudul Somebody To Love:
…zzom—ba—de—tuuu—lop
tu—lop—ha—tu—looo—o—ooo—op
…zzom—ba—de—tuuu—lop
tu—lop—ha—tu—looo—o—ooo—op
zzi—nang—gar—
tu—lo—ha—tu—loooooo…
Zzukup zzekian zzaza. Wazzalaam.
9 Comments »
variasi atas kicauan nenek beberapa tahun yang
lalu
(Buat ‘O’; seorang kawan yang ditinggal kawin oleh pacarnya, huakakaka…)
…
…
…
…
Cucuku yang kucinta, pujaan hatiku, assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaat
(…kini saatnya kau harus jawab wa’alaikum-salaam, seperti yang nenek ajarkan dulu, Cu. Kau tak lupa, bukan…?)
Nenek dengar kau sedang putus cinta, Cu. Emak kau bercerita kau kini jadi mudah marah, tak doyan makan, tak bercukur dan malas mandi. Katanya lagi, hampir saban hari kerja kau cuma tenggelam dalam Final Fantasy, komik silat, kadang buku primbon, kadang Kazantzakis dan Byron, sambil mulut kau menganga. Kau merokok sekencang knalpot Metromini. Ditegur perkara rokok, kau malah menjawab biar saja, bodo amat, ikan asin saja diasapi malah jadi awet…. Ondeee, itu tak elok, Nak. Macam Si Malin saja tingkah kau…. Hentikanlah merokok, sebab Sampoerna sudah dibeli Philip Morris punya Amerika.
Cucuku, nenek sangat menaruh keprihatinan pada perasaanmu. Nenek telah hidup cukup lama untuk tahu rasa sakit akibat putus cinta. Jadi nenek bisa memaklumi sikap-sikap kacaumu. Tapi kau jangan lantas kesal bila banyak orang jadi ikut kesal melihat kau membleh begitu. Bagi emak kau, menyaksikan anaknya selalu murung di rumah ibarat menemukan sebutir tahi kucing di ruang tamu.
Nenek hanya ingin menyarankan, janganlah kau ijinkan dunia menonton kau ambruk karena putus cinta. Gengsi dong, Cu. Laki-laki itu selayaknya sanggup menahan-nahan hati. Jikapun kau masih tetap ingin mengamuk, maka mengamuklah sendiri tanpa siapapun tahu. Toch kau bisa cari kebun pisang yang barusan panen. Kau bacok-bacoklah semua batang tegak di sana. Nah, itu jauh lebih terhormat dan berguna.
Cu, ijinkan nenekmu yang renta ini mengajarimu hal-hal sepele satu kali lagi. Bukan karena kuanggap kau masih kecil dan butuh petuah, Cu. Justru karena nenek merasa kau cukup dewasa untuk mencerna. Dan nenek cuma ingin membantu kau sedikit berlepas dari kesusahan. Di usia nenek ini, apalah lagi yang bisa nenek lakukan pada kau selain memberi wejangan? Nenek sudah tak kuat untuk membuai apalagi menggendong, sebab badan kau kini sebesar kingkong. Untuk menjitak kepala bekas pacarmu…tentu saja tak mungkin. Selain bersifat kriminal, tindakan itu hanya akan mempertegas kelemahanmu di hadapannya. Konon, hanya orang lemah yang mudah marah. Kalau ketahuan marah, gengsi dong, Cu. Gengsi kadang mesti dikedepankan. Dalam dosis yang moderat, ia bisa jadi sumber energi yang ramah lingkungan. Air mata sedih, air mata marah, hanya akan meloyokan tubuh kau dengan cepat. Pahamilah, cucuku sayang.
Cucuku yang tampan, tidakkah masih kau kenang pesan almarhum kakek kau, bahwa hidup ini rangkaian petualangan?
Bayangkan kau sedang naik gunung, Cu. Di sana kau sering menemui jalan setapak yang bercabang-cabang. Dan kau sedang sampai di simpang ini. Kau bingung memilih jalan mana hendak kau titi.
Alih-alih cerewet, anggaplah nenek sebagai orang yang kebetulan telah melewati banyak cabang pendakian. Kini nenek turun bukit sejenak ke tempat kau berdiri linglung, lalu memberi sedikit ikhwal mengenai jalan-jalan di hadapan kau. Nenek akan bilang, jalur yang kiri ini melandai namun menyempit. Yang kanan menanjak tajam, menyingkat waktu tapi kadang kau jumpai induk harimau. Sedang yang tengah, kendati penuh semak duri yang memaksamu merangkak, ia mengarah pada mata air tersembunyi dan pemandangan terbuka yang indah. Macam itulah, cucuku yang gagah….
Sungguh, jalur bercabang itu wajar, sayangku; sama wajarnya jika dalam perjalanan ini sandalmu putus atau sol sepatumu lepas. Kadang bekal makanmu raib digondol siamang. Malam hari bisa jadi begitu dinginnya hingga kepalamu mengerut gemetaran.
Cucuku, kau pernah menjadi pribadi yang begitu kuat dan selalu membanggakan nenek selama ini. Mengapa pula kali ini kau tak menjadi orang yang sama?
Adalah kau sendiri yang pernah berkata dengan yakinnya: dunia ini ialah rumah yang alami untuk rasa sepi, sakit dan kehilangan. Ada kalanya kantung minuman kau sarat, sedang di lain waktu ia surut. Pikir secara klise, Cu. Yang sederhana saja. Sesungguhnya, memang untuk menghayati sakit, sepi dan kehilangan-lah hidup kau itu dijalankan. Tragedi-tragedi itu tak mungkin terhindarkan, Cu. Terimalah. Kau ini manusia, Cu. Manusia! Tak sadarkah kau, betapa dahsyatnya kita dilahirkan sebagai manusia!? Jika kau memang tak dikehendaki mengalami tragedi, tentu kau dikirim ke dunia dalam bentuk iguana.
Nah, kau berani menempuhnya, bukan? O, kau cucuku nan hijau…dahulu, doberman tetangga pun meringkuk takut melihat kau menyeringai. Kini, terhadap rasa sakit itu, tunjukkanlah cengiran kau nan aduhai.
Cucuku, bila kau sanggup menerima beban-beban itu, kau akan baik-baik saja. Kau tak perlu lari dari apapun, atau bersembunyi dari diri kau sendiri. Tinggalkan saja titik percabangan itu berikut sandal jepit kau yang terputus tadi. Tak masalah jalan mana yang kau pilih. Semuanya berhulu di atap gunung, Cu. Yang terpenting ialah kau tetap melanjutkan ziarah tanpa sedih dan marah. Kau harus ringan hati agar dapat menikmati kemurnian udara dan keindahan-keindahan yang dibentangkan. Bercandalah dengan monyet-monyet yang bergelantungan, termasuk dengan seekor lutung yang sedang membaca blog-mu tepat saat ini. Weee’… .
Ambillah teladan pohon jengkol, Cu. Ia mengubah racun-racun karbon dari udara dan dari dalam tanah, bersama-sama dengan sinar mentari, menjadi sumber gizi berupa buah surgawi yang nikmat belaka tapi balado-nya dijual kemahalan di rumah makan Sederhana. Kantui’ bana ko restoran…. Nah, kau lakukanlah jengkolisasi juga. Kesedihan dan kemarahan itu dapat kau arahkan, kau ubah sedemikian rupa menjadi sumber tenaga. Kau bisa bekerja keras dengan tenaga yang kau dapati itu. Kelak jika kau hendak menjual diri pada dunia, harga kau akan lebih tinggi di atas rata-rata.
Cu, andai kau mengikhlaskan datangnya segala yang pedih, menerimanya secara santai dan terbuka, kau tak perlu latah menyebut-nyebut Tuhan. Ada begitu banyak orang di jaman kau—yang katanya maju ini—hobi menghubungkan seluruh detil pengalaman hidup mereka sebagai kehendak-Nya. Mereka mencoba mencari penjelasan-penjelasan untuk rasa sakit dengan membayangkan suatu hikmah dari-Nya sedang menunggu di ujung jalan sana. Dalam situasi yang sedang kau alami ini, mereka akan bilang, “Oh, Tuhan…aku tak dapat hidup tanpa dia…. Oh, Tuhan…aku mencintainya…mengapa kau pisahkan kami…? Oh, Tuhan…mengapa aku tak dapat melupakannya? Oh, Tuhan…terima kasih telah kau ijinkan aku mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, sebelum kami melangkah ke tahap yang lebih jauh…. Oh, ah…”.
Percayalah, cucuku…bila kau mengucapkan kalimat-kalimat itu, setelah kau cukur bulu kakimu, lalu kau pakai korset dan pengganjal dada, serta bulu mata palsu…kau akan terlihat lebih cantik dari Krisdayanti. Kau juga akan terciprat pertanggungjawaban karena makin-makin-makin membuat nama-Nya mengalami inflasi.
Bahkan seekor ayam pun memahami bahwa segala sesuatu terjadi dalam kuasa pengetahuan-Nya, Cu. Kau tak perlu sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mengulang-ulang dalil yang tak berguna untuk disematkan jadi semboyan-semboyan jika kau tak berusaha memahami intinya lebih dalam. Memang, tak ada yang melarang kau untuk menghibur diri dengan sugesti-sugesti a la lirik lagu pop, sayangku. Tuhan memang senantiasa mengambil peran dalam kehidupan siapa saja. Itu tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi yakinlah, Cu, tanpa perenungan yang panjang, tanpa kesediaan mengakui penderitaan adalah fitrah sekaligus berkah bagi dunia, maka jargon-jargon itu hanya akan membuat kau koslet. Kau akan memikirkan sesuatu yang hatimu tak mampu terima; karena rasa sakit itu begitu nyata. Id, ego dan superego kau akan berantakan.
Ah, maaf. Nenek kau ini jika usai makan jengkol suka bicara macam ilmuwan….
Cucuku yang budiman, Tuhan barangkali sedang sibuk. Selama ini Dia telah memberi begitu banyak kepada kau. Kau harus punya sedikit malu bila kau merengek-rengek melulu, meminta penghiburan dan memohonkan segala sesuatu yang sebetulnya sanggup kau perjuangkan sendiri. Buatlah Dia bangga, Cu. Menjadi kuatlah, supaya Dia melihat ciptaan-Nya ini ternyata tak seringkih yang setan kira.
Atau jika kau memang cukup dermawan, biarkan Dia lebih dahulu memprioritaskan permohonan-permohonan yang lebih gawat dari Sidoarjo, Buyat dan Timika. Dari Baghdad, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka jauh lebih butuh didengarkan ketimbang racauan cengeng kau yang minta dikasihani gara-gara perkara cinta-cintaan.
Pokoknya, Cu, pada intinya nenek tak hendak jadi panduan praktis bagimu. Tak akan memberi rumus ABC, atau memberitahu detil apa saja yang kau harus lakukan pada dirimu. Jika nenek melakukannya maka nenek pasti akan terlihat macam buku-buku psikologi-motivasi klise tapi bestseller terbitan Gramedia. No way, Cu…. No way. Manusia berbeda dari mesin giling yang butuh buku panduan operasi. Kau adalah manusia; cucuku paling sinting yang haus bimbingan rohani.
Kau masih muda, Cu. Jauh di atas eksosfer sana, di ruang yang amat dingin dan hampa, milyaran bintang-bintang yang nyaris setua jagad raya masih meledak dan menyala-nyala. Masa kau mau padam sebelum waktunya?
Maka kini kau harus bangkit. Kau mesti memperbarui iramamu kembali. Kata emak kau, anjing-anjing dan kucing-kucing di rumah telah tiga hari tak kau beri makan, sampai-sampai mereka kalap menerkam bebek goreng bahkan yang sedang dikunyah di mulut tetangga sebelah.
.
Hanya itu saja yang ingin nenek sampaikan. Tiada harapan apapun lagi dari nenek kecuali untuk melihat kau memenangkan perang melawan kecewa. Nah, kini nenek hendak kembali berlatih main hulahop, cucuku sayang. Doakan agar nenek menang besok dalam pertandingan tujuhbelasan.
I
love you; with all my heart. Wasalam.
.
Pesisir Selatan, 12 Rajab 142…H
.
NB; kalau tak ingin kupanggil ‘monyet’, jangan kau pergi ke dukun santet dan pelet. Cuma orang dungu dan sirik yang mainan begituan, cucuku….
Lagipula, malu dong sama PC tablet….
4 Comments »
(Bagian Dua)
.
Hari itu, setahun lalu, saya tak termasuk jumlah 6.500 yang tewas. Saya belum menang undian; sayang sekali. Jackpot itu cukup menjanjikan, sebenarnya. Mengingat jumlah penduduk di kawasan bencana yang mencapai sekitar 5 juta orang, tentu jumlah 6.500 memiliki peluang yang lebih kecil dibanding rasio ketersediaan kursi Fakultas Ekonomi UGM terhadap jumlah peminat. What a deal. Peluang langka.
.
Sebuah kesempatan emas bagi sepotong kepala untuk mengalami tumbukan vertikal dengan tembok atau usuk kayu. Berapakah kans terjadinya peristiwa benturan kebetulan antara sebatang tubuh bertulang belakang dan beton cor berpenampang besar yang jatuh melintang di atas tubuh itu dari ketinggian 4 meter untuk satu waktu dan tempat yang bersamaan?
.
Namun memang insting manusia cenderung ingin menghindari undian model ini. Saya tak terkecuali. Dan seisi kota mati-matian berupaya lari dari kemungkinan itu. Tepat jam sembilan, semua orang menjadi kerumunan pengendara gila pelanggar rambu lalulintas; manusia sekota tumpah ke jalan-jalan raya.
.
Ada satu kabar beredar tentang gelombang pasang air bah yang sedang mengincar kota. Dinding air yang laju dan tinggi disebut telah mencapai Jalan Lingkar. Disebut telah menghabisi dataran antara laut 30 KM di selatan hingga batas kota.
.
Saya berdiri di depan butik Danar Hadi; menyaksikan arus liar puluhan ribu orang berwajah pias dan kendaraan yang berebut saling mendahului. Arus-arus itu bersimpangan, berhadap-hadapan, chaos. Untuk pertama kalinya sepanjang hayat, saya melihat perwujudan kecemasan paling ekstrim yang bisa manusia rasakan. Orang-orang tak memandang lagi siapa dan apa dirinya sehari-hari. Tak ada dosen dan mahasiswa. Mereka bukan lagi anggota dewan terhormat atau wasit sepak takraw. Semua berubah menjadi kelenjar aktif dan serangkaian susunan saraf penuh listrik; adrenalin yang merembes di pembuluh-pembuluh kapiler yang berteriak-teriak memerintahkan seluruh sel otot agar melestarikan diri.
.
Barangkali setahun lalu Jogja tak kurang suci dari Masjid al-Aqsa. Barangkali Basilika Santo Petrus sejak berdiri tak pernah terisi jemaat yang secara berbarengan mengalami “kekhidmatan” yang sama seperti yang terjadi di Jogja.
.
Saya berdiri di depan butik Danar Hadi, khidmat. Orang-orang di keriuhan itu salah satunya mungkin seorang pegawai negeri; mungkin ia pimpro yang berani menerima selisih antara harga mark-up dan nilai kontrak sebenarnya—namun di pagi itu ia begitu takut nafasnya berhenti. Seorang lainnya mungkin sering menggentarkan nyali sesamanya dengan ancaman berupa gambar rajah di sekujur lengan, tapi hari itu ia cuma anak ayam. Seorang yang selalu tak ragu-ragu merampas hak orang lain sontak berubah jadi peragu yang ciut. Ke mana air itu? Aku mau ke mana?
.
Saya, yang selama ini berani dan bangga mendapatkan rejeki dengan memanfaatkan kebodohan dan kemalasan sesama, tak lebih sekadar makhluk ringkih pengecut yang akan ngibrit ke lantai tiga butik itu kalau saja memang benar tsunami sempat menyapu ke tengah Jogja.
.
Maka mereka berserempet-serempetan—orang-orang galau itu. Orang yang hanya bertelanjang dada, berdaster, memakai sepasang sandal yang kanan semua, berdesakan dengan anak-anak dan kerabatnya di atas motor-motor dan mobil-mobil di jalan-jalan protokol yang tersumbat. Petugas-petugas keamanan seperti lenyap dari muka bumi. Seorang saja yang saya lihat sekilas di persimpangan itu. Ia melambai-lambaikan lengannya yang kikuk di tengah jalan; seperti mencoba menjadi petugas pengatur pintu air yang putus asa—sebelum ia sendiri akhirnya segera lumer mencair di dasar kerumunan. Hilang begitu saja; mungkin teringat pada dosa. Polisi di negeri ini barangkali memang cenderung banyak menimbun perasaan berdosa.
.
Satir paling manis hari itu ialah ketika beribu massa dari arah gunung di utara, yang ngeri oleh letusan, berhadangan di Jalan Kaliurang dengan beribu massa dari arah kota dan laut di selatan, yang ngeri oleh luapan….
Ketika histeria itu reda, permukaan Jalan Urip Sumoharjo ditebari alas-alas kaki, tas, helm dan macam-macam benda yang sempat terbawa lalu tercecer dari badan-badan berjiwa pigmi pagi tadi.
.
…
.
Saya belum menang undian. Saya merasa betapa beruntungnya mereka yang termasuk dalam kumpulan 6.500 orang itu. Setidaknya saya akan merdeka seperti mereka. Jika kematian dipandang sebagai pembebasan tanpa syarat, tentu mereka yang jadi martir di hari raya itu layak berbahagia karena mereka dilepaskan dari penderitaan demi penderitaan yang sepertinya sejak awal sudah dibukukan jadi nasib dunia.
.
Well, setidaknya mereka tak akan menyaksikan satu babak pesta ‘burung pemakan bangkai’.
.
Di ladang-ladang tempat bencana terjadi dan saat korban-korban sudah dihabisi, sejumlah 200 ribu penduduk pantai barat Aceh Darussalam tak akan ikut menonton parade ‘penderitaan dalam kemasan’ melalui tayangan-tayangan televisi. Begitupun dengan 6.500 penduduk Daerah Istimewa Jogjakarta serta Klaten. Mereka telah berdamai dan tak butuh lagi pesta-pesta.
Media massa di negara ini cukup cerdik untuk mengetahui indeks rasa takut yang sedang beredar di masyarakat. Indeks yang akan naik tajam ketika sebuah bencana alam selesai membunuh banyak orang dan menghancurkan harta benda. Mereka cukup terpelajar untuk tahu bahwa rasa takut ialah motif dasar alamiah dalam sanubari manusia baik yang ’sakit’ maupun yang ’sehat’. Mereka sanggup memanfaatkannya.
.
Maka bencana alam adalah ajang bakti sosial dari institusi yang tak pernah bertujuan mengelola kegiatan-kegiatan nirlaba—seperti stasiun televisi. Di negeri lain tak ada lelucon macam Pundi Amal CNN. Kita punya. Sebab, televisi sadar bahwa mereka menjadi inti perhatian. Bencana merupakan materi pemberitaan yang jika diproduksi dengan serius akan selalu jadi program yang jauh melampaui batas-bawah-psikologis dari rating—yang adalah Tuhan mereka. ‘Tuhan’ memerintahkan mereka untuk menggali momentum itu sedalam-dalamnya; hingga nama mereka berkesempatan dikibarkan di atas kuburan korban; bendera-bendera gagah dan mentereng yang tanpa malu mengumpulkan dana-dana dari masyarakat yang terbawa emosi menjadi para dermawan-romantik-seketika sebagai imbas psikis dari acara duka-dalam-kemasan besutan para produser handal yang paham bahwa lagu Ebiet cocok menjadi jingle-nya; mafhum bahwa seniman lokal wajib ditampilkan agar menjerit-jeritkan puisi ke depan para pemirsa. Duka Jogja. Indonesia Menangis. Bencana adalah program yang butuh dirumuskan ke dalam bangunan-tema.
.
Saya bukan mengatakan televisi jahat; justru saya bilang mereka cerdas….
.
Bencana alam juga menaikkan harga saham-saham di ‘bursa agama’. Perusahaan milik publik yang bernama ‘Pertobatan’, ‘Derma’, ‘Kesadaran akan Pembalasan Tuhan’ dan sebagainya…meroket nilainya dan menjadi isu dominan saat orang mulai bicara tentang hikmah dibalik segala peristiwa. Orang-orang bersorban yang penangis—duh, Gusti…betapa cerdasnya televisi…—meraung dari mimbar-mimbar ber-spotlight dan, seperti layaknya kalkulasi seorang akuntan, ia memberikan wejangan pada kami bahwa azab telah dijatuhkan sebagai imbalan bagi dosa-dosa kami agar kosmos kembali ke titik setimbang. Siapa tak akan bergetar dan menggigil mendengarnya, kawan…? Dan kami tak akan mampu membantahnya, tentu. Mereka terlihat begitu bijaksana. Kami juga tak akan latah bertanya-tanya mengapa azab seperih ini tak ditimpakan bagi Washington dan Moskwa, atau hanya di seputaran Cendana saja sejak dulu-dulu. Sebab, barangkali Tuhan bekerja menurut cara-cara yang tak mudah dimengerti. Sebab, Tuhan yang laku keras dan mudah dimengerti mungkin adalah Tuhan yang disitir da’i-da’i dari ayat-ayat yang bernada Perjanjian Lama: Ia Yang Maha Tega. Sedang manusia sungguh suka ditakut-takuti, sadar maupun tidak. Film horor yang dirilis di negeri ini dijamin seapes-apesnya kembali modal kalau tidak untung besar.
Dan saya bertanya, takut pada Tuhan-kah mereka…atau takut pada ketakutan itu sendiri…?
.
…
.
Kini setahun sudah lewat. Tapi bencana tak akan berakhir di atas kerak bumi. Kiamat belum final sebab kita semua hidup di atas satu planet muda yang terus-menerus berevolusi hingga membolak-balik kulit luarnya—sesuatu yang dengan gemetar kita sebut bencana.
.
Tapi jangan bergetar lagi. Setahun tokh sudah lewat. Duka para korban mungkin tak akan pernah terhapuskan tapi percayalah bahwa euforia mereka yang tak bersentuhan dengan bencana mulai mereda.
.
Besok-besok akan datang lagi kehancuran-kehancuran yang lebih besar. Lalu partai-partai politik dan pialang-pialang kekuasaan akan memampangkan ikon-ikonnya kembali di tanah-tanah berdarah. Organisasi-organisasi-non-pemerintahan-kacangan akan menggelar proyek-proyek baru yang simpang-siur dalam kekacauan fungsi supervisi negara; membangun sesuatu yang sia-sia. Barangkali saya akan mengulang pengalaman saya di Aceh 2,5 tahun lalu sebagai burung nazar; mendapatkan bayaran 350 US$ sehari—tujuh jam kerja—hanya dengan bekerja sebagai tukang filing bodoh dan penerjemah amatiran—di tengah ratusan ribu korban kelaparan-kedinginan yang jauh lebih membutuhkan uang sejumlah itu. Sekian sesi lobi pemerintah dengan perusahaan-perusahaan pembiayaan dan raksasa-raksasa konstruksi akan diselenggarakan. Ada cukup banyak alasan untuk berutang. Lantas, bagaimana halnya dengan kesejahteraan perasaan dan masa depan korban, kawan? O, don’t ya worry too much. It’s not personal; it’s business as usual. Mereka tak akan tahu sejauh itu. Tak lebih dari beras, tenda dan kompor yang mereka perlu.
.
Barangkali seorang konsultan finansial akan bikin artikel di media: bila terjadi bencana alam yang besar, boronglah saham pabrik terigu dan mie instan karena 220 juta orang di negara ini akan membelanjakan uangnya untuk memborong produk mereka. Jangan pikir panjang dan bertanya-tanya kenapa orang yang sedang sedih dan luka justru disuruh masak…jangan bingung kenapa kok pemerintah ini ngga punya ide bikin pabrik nasi-rames-kalengan-siap-santap untuk mereka, yang tinggal dijatuhkan dari heli pada masa darurat…pokoknya jangan banyak mulut; pokoknya tiap ada bencana, yang untung C*N*….
(Maaf sungguh beribu maaf, saya akui dalam konteks ini saya rasialis yang buta; meski saya sendiri punya sebagian darah C*N*)
.
BM, sahabat saya yang bohemian, mungkin cuma bisa melangut dan menahan geram-tangisnya sendiri di tengah pesta-pora. Setahun lalu ia keluyuran di jantung-jantung pengungsian; dan dengan keterbatasannya sendiri ia masuk kampung-kampung membawakan bantuan bahan makanan. Tapi ia tak bawa bendera. Ia tak punya bendera. Ia cuma bisa sedih karena tak suka melihat pesta.
.
Tuhan memang suka bercanda, kawan. Dan barangkali hikmah dari seluruh bencana yang lalu dan yang akan datang hanya berupa kesempatan berolok-olok dan berpesta.
5 Comments »
buat Boemi, Romo Har dan HR Widowulan
(Bagian satu)
Resonegaran, Sabtu pukul 05.50
Saya menekur di dalam kamar terkunci di lantai dua setelah menyelesaikan sebagian pekerjaan melelahkan. Komputer dalam posisi stand-by; menunggu dibuka kembali nanti jika benak saya sudah teraliri darah lebih lancar.
Di menit-menit itu seingat saya angin seperti statik. Pendulum bambu dan besi-tala di kusen pintu, yang biasa ber-kelenting, terdengar diam. Cuaca cerah. Nyamuk tak ada lagi desingnya, barangkali kekenyangan darah. Namun anjing dan unggas-unggas milik warga perkampungan di belakang rumah-sewa yang saya tinggali menggaduh jauh sejak dinihari—seperti merasakan cemas yang lebih purba dari yang pernah saya kenal.
Pukul 05.55
Saya memegang cangkir teh. Cairan itu belum tuntas terteguk ke dalam lambung saat tiba-tiba…suara gemuruh yang memekakkkan telinga sekonyong-konyong datang dari kedalaman bumi.
Gelombang guruh yang menghancurkan nyali; yang datang seolah tanpa melalui media-hantar—melainkan langsung masuk mendobrak-dobrak otak.
Tanah tempat saya berpijak seolah dilambung-lambungkan. Lantai dan seisi kamar terkocok sekuat-kuatnya. Lemari pakaian—mungkin berbobot 100 kilogram—terbanting dari satu dinding ke sisi lain. Udara penuh benda-benda terbang. Buku-buku di rak berhamburan. Satu menimpa kepala saya—Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1382 halaman. Dan tak ada tempat lari berlindung. Kamar terkunci.
Selama 55 detik itu naluri saya untuk mempertahankan kehidupan tak mampu mengarahkan saya untuk melakukan sesuatu yang lain kecuali hanya berpegangan pada teralis besi di kusen jendela. Hanya 55 detik—tapi terasa seperti selamanya. Dalam kepanikan, saya menyebutkan sebuah kalimat dalam bahasa asing…Maha Suci Tuhan, Maha Suci Tuhan; sambil menyusun kesadaran bahwa ini merupakan hari terakhir saya di dunia.
Puluhan juta manusia di waktu bersamaan barangkali sedang menyebutkan nama-nama yang sama—dijalinkan dalam kesadaran yang sama oleh sebuah peristiwa kolosal yang mengingatkan titik kematian. Tapi di waktu itu saya tahu saya bukan sedang menyebut nama-Nya. Saya sekadar mengungkapkan kegentaran saya sendiri.
Gemuruh itu reda; seisi kota hening. Sesaat berikut guruh lain menyusul: tangis dan jerit yang mengambang ke ruang udara Jogja. Liris, macam gaung suara hantu-hantu di jalur pendakian gunung.
Saya bergegas turun ke halaman depan dengan tungkai gemetaran; dan menemukan para tetangga sudah berkumpul di luar rumahnya masing-masing. Wajah-wajah memucat. Meski tak sempat berkaca saya tahu air muka saya tak akan banyak berbeda; kuku-kuku tangan kelihatan pasi.
Lalu orang ramai pergi ke tempat terbuka yang membebaskan pandangan ke arah utara—memantau puncak Merapi. Tadinya kami menduga kerucut keramat itulah yang barusan murka; meledak tanpa ampun dan cuma menyisakan sepertiga ketinggiannya sedang pucuk dan badannya terlontar ke segala penjuru, melemparkan batu-batu berapi sebesar rumah yang akan sampai ke tempat kami beberapa menit kemudian. Tapi ternyata gunung itu baik-baik saja. Hanya asap tipis, seperti biasanya. Tak ada yang perlu ditakutkan lagi…, hibur kami dalam hati.
Orang kemudian mencoba mencairkan suasana; membuat lelucon-lelucon tentang si anu yang terbirit-birit lari dalam keadaan bugil sedang busa di kepala belum terbilas dari kamar mandi…; si ini yang kebetulan sedang menyetel dangdut keras-keras pukul enam itu sampai bumi pun latah ikut bergoyang…; atau si itu lainnya yang encok kronik-nya sembuh tiba-tiba.
Tapi memang kami menyaksikan rumah-rumah yang rekah. Kaca-kaca pecah dan genting berserak-serak ke tanah. Galeria—pusat belanja di dekat kampung itu—retak menganga dinding-dindingnya. Lobby Novotel hancur.
Pukul 08.14
Gempa susulan yang besar. Orang-orang kembali berhamburan ke jalan raya. Melihat lagi ke arah utara, tapi gunung sudah tidak baik-baik lagi, tampaknya. Kepundannya memuntahkan gas massif yang menggulung-gulung.
Di satu kampung, Sapen, seorang induk semang pemilik indekost tewas saat berusaha mengangkat jenasah seorang mahasiswi yang terjebak reruntuhan kamar mandi. Gempa susulan ini merobohkan sebagian sisa rumah yang tadinya masih berdiri; menimpanya untuk kedua kali.
Pukul 08.15
Orang-orang bingung—getaran-getaran itu berasal dari atau bukan dari gunung. Mereka, termasuk saya, masih belum paham apa yang sesungguhnya terjadi. Kami masih belum tahu bahwa sepagi itu malaikat-malaikat maut sedang mengurusi enam ribu berita acara. Namun perlahan semua mulai menduga; sesuatu yang mengerikan di luar sana sedang diselenggarakan ke atas nasib banyak orang. Satu demi satu sirine mulai memperdengarkan diri di jalan-jalan.
Tiba-tiba entah datang dari mana, belasan, puluhan dan ratusan kendaraan—ambulan, pick-up, truk—merayap di Jalan Jendral Sudirman; menuju satu arah: Rumah Sakit Bethesda. Di dalam kendaraan-kendaraan itu, kawan,…darah tumpah. Cemas mulai berkuasa kembali.
Saya dan Sulaiman—tetangga saya—cuma bisa terpesona ketika kami sampai di lahan parkir RS itu. Semangat sudah terbang dan kami tak tahu harus berbuat apa. Yang terbaik bisa kami lakukan hanya membantu menggotong badan-badan berdarah dari dalam kendaraan yang berdatangan, untuk menggeletakkannya ke sembarang tempat. Lantas segera saja tak ada lagi tempat tersisa, sedang mobil-mobil tak berhenti membawa darah-darah baru, fraktur-fraktur tulang lain—tak habis-habisnya.
Seorang nenek berkain jarik duduk sendirian di atas aspal, di tengah hiruk-pikuk. Sendirian, seperti tanpa pengantar. Tak ada sisa perhatian dari petugas-petugas medik yang telah begitu kalut. Nenek itu hanya menggumam dengan suara pelan tanpa artikulasi, “Uuuu…Uuuu…”. Telapak tangan kanannya menengadah dan terbuka. Dan Puji Tuhan…, telapak itu terbelah. Empat jarinya terkatung seperti daun lidah buaya setengah patah. Saya cuma bisa memijat bahu kurus beliau selama 5 detik sebelum berlalu dari punggungnya. Seorang laki-laki dengan kamera digital datang berjingkat dan mengambil gambar. Entah kenapa, seperti bocah tolol sok jagoan yang naïf, tiba-tiba saya menghantamkan kepalan saya sekencang-kencangnya ke rahang manusia itu—menatap matanya dengan kebuasan setan saat ia terjungkal dengan bibir pecah; lalu mengusirnya pergi.
Seorang anak gemuk digotong dari dalam sedan. Ibunya meraung-raung dalam logat Kanton. Bocah itu memutih diserbuki bubuk semen dan kapur dinding. Ubun-ubunnya terpapas, membentuk bidang datar diagonal yang lunak di puncak kepala.
Ribuan tubuh bertebaran; sebagian sudah ditutupi sarung dan kertas koran yang memerah. Tuhan diseru-seru. Rumah sakit itu jadi kolam darah hingga ke trotoar; dan kini semua mulai paham bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di sini.
…
6 Comments »
Hal paling menggembirakan dari nenek saya di usianya yang lebih dari 70 tahun ialah: kemampuan untuk terharu dan bergembira secara wajar.
Well, padahal setahu saya di usia menua orang jadi makin mati rasa. Dugaan ini setidaknya didasarkan pada observasi atas diri saya sendiri. Saat masih kecil saya bisa menangis semudah saya ketawa. Abeees nangeees ketawa makan gulaaa jaaawa, nah, begitu dulu lagunya. Dulu jaman TK saya akan menangis jeujeuritan tiap ada angin ribut dan hujan besar, dan hanya akan ditenangkan kalau almarhum Opa sudah lelah menggendong-gendong saya keliling rumah; atau bila saya sudah berbaring sambil mengutik-utik udel beliau (ngga tau, kayanya udel punya semacam zat anti-depresan). Tapi di jaman kuliah dulu saya malah enak-enakan pacaran di dalam dome waktu camping di Kandang Badak Gunung Gede; padahal shelter sudah menjelang rontok diterjang badai. Analisisnya: waktu sepanjang 20 tahun penuh badai bikin kita cuek sama badai.
Dulu ketawa juga gampang. Cobalah Anda goda anak-anak bayi pakai muka-muka jelek. Kalau dasarnya wajah Anda ngga menakutkan, mereka akan terpingkal-pingkal dengan mudah. Sepanjang saya tahu cuma si JM saja yang gagal. Anak tetangganya justru terburut-burut dan trauma berkepanjangan, dan emaknya pun dongkol, setelah JM meniru-niru muka babi; dengan cara mengangkat hidungnya ke atas memakai jari. Analisisnya: struktur geometris muka kadal dan babi ngga bisa dipaksa sinkron, Je. Bego bener lo, Je… .
(huekekekeke, ntar lo kalo ke Bandung gue traktir batagor Reni, deh!)
Barangkali pengalaman-pengalaman di masa lalu memang membuat kita dari waktu ke waktu punya persepsi yang berubah dan cara penanggapan yang lain pula, atas tiap pengalaman yang akan berdatangan kemudian. Salah satu perspektif yang mendominasi pikiran kita antara lain: waktu.
Tiap orang merasakan ‘waktu’ dalam kesan-kesan yang tak sama. Sering sekali orang bilang: waktu sepertinya bergerak makin cepat. Saya juga sering sekali merasakan waktu seakan akseleratif, makin ngebut dari hari ke hari. Anda juga pasti begitu. Kenapa bisa? Nenek saya punya teori-teori untuk menjelaskan itu.
Seorang bocah berumur empat tahun, akan merasakan masa preschool-nya yang hanya berlangsung dua tahun itu relatif sebagai separuh hidupnya. Sehari buat nenek akan terasa lebih cepat dari sehari dalam persepsi saya karena saya merasakan waktu 24 jam itu sebagai 1/10.950 masa hidup. Sementara nenek 1/27.375; suatu angka yang sangat jauh lebih kecil. Selisih ini ngga main-main. Artinya nenek relatif merasakan waktu berjalan 2,5 kali lebih cepat dari saya.
(Bayi anak tetangga JM merasakan setahun ialah sepertiga hidup sedang JM sepertigapuluh. Waktu mengalami percepatan di diri JM. Dan ini angka selisih yang signifikan, Bro. George Soros saja bisa kaya raya gara-gara perkara selisih beginian… . Maka itu jika kawan saya ini mengalami hal-hal yang buruk dalam hidupnya, seperti dipecat dari kantor karena terlalu idealis, atau tanpa sadar tabungannya ludes cuma untuk nafsu memiliki home theater dan TV plasma 32 inci, atau puyeng akibat diomelin sama mertua (kali ini gue traktir Sizzler, Je…), saya akan datang padanya macam pastor memberi penghiburan, ‘Udah, Bro…lo sedih lama-lama aja juga ngga pa pa kok, nangis aja berhari-hari ngga pa pa kok; ntar waktu bakal terasa panjaaang banget, deh. Itu anggap aja pengimbang elo yang selalu ngerasa waktu lewat makin cepat… . Kemudian biasanya kaleng bir akan melayang ke jidat saya. Kalau sedang beruntung, asbak plastik)
Kini saya hendak mencuri aji-ajian nenek saya. Mantra supaya jadi manusia normal yang menanggapi peristiwa hidup sehari-hari dengan proporsional. Singkatnya saya pengen bisa gembira dan prihatin secara wajar. Seperti nenek yang masih bisa merasakan perihnya perasaan keluarga korban terbakarnya Garuda, alih-alih saya yang melihatnya melulu sebagai kebrengsekan sistem. Lantas jadi jengkel sendiri. Nenek juga masih mampu tertawa melihat kekonyolan Dorce sedang saya bisanya dalam hati cuma menggerutu wot de fak is hi/syi duing daun der, dasar Padang gila… (eh, ini bukan SARA, Sist…gue juga orang Minang separo kok).
Jadi bagaimana, Nek, biar kita bisa memerdekakan persepsi? Bagaimana kita bisa melihat sesuatu—apapun itu; entah waktu, penderitaan, sakit, kegembiraan—apa adanya? Dengan cara apa kita menepis skeptisisme, yang kadang murahan (tapi berlebihan), untuk memahami semua peristiwa dengan jernih, dan tak selalu bersandar pada kesan-kesan situasional, atau pada stereotip dan cara pandang yang kaku sampai-sampai kita terdidik (oleh diri sendiri) menganggap hidup ini brengsek karena kita terlalu sering mengalami banyak hal brengsek?
Si Sari van Holland kemarin bilang, u should think life is a blessing. Wah, itu mah jorok, Sist… . Di Jawa, blessing artinya bleber ngising. Dengan kata lain: e’ek cair yang kececer, hehehe… . Masa hidup ini elu samain ama mencret (ups…sorry), yang bener aje luh. Tapi gue tahu kok yang lo maksud. Soalnya nenek gue juga menunjukkan jalan yang kira-kira sama.
Jalan nenek ialah shalat. “Shalat, Nak…, shalat itu meditasi mengendapkan jiwa yang sudah dikocok-kocok ribuan kali sehari. Kita punya kesempatan 5 kali maintenance”.
(…gue disuruh shalat, Bro…can u imagine that? While I’m already this bangkotan…?)
Kalau disarankan begitu saya cuma bisa bilang: okay, Nek. Saya shalat, kok, dan diusahakan ngga cuma Jumat. Tapi dengan syarat tertentu. Yaitu saya ngga mau dijadikan sumber tahayul. Sebab sungguh amat ngga nyaman kalau pompa air ngadat, CD player digondol maling, atau tiba-tiba genting bocor di mana-mana—eeeh, orang-orang malah nyeletuk: ini pasti gara-gara si Danny tumben-tumbenan shalat selain Jumat. Itu kejam belaka, saudara… .
Tapi barangkali memang benar bahwa meditasi kontemplatif yang dianjurkan semua agama—bukan hanya Islam—berfungsi psikis untuk ‘menata-ulang’ sistem-persepsi kita terhadap segala sesuatu. Purifikasi, bahasa prokem-nya. Ajaran Timur tentang ‘pelepasan’ menemukan dasar logisnya di sini. Jika orang berdisiplin keras untuk ‘undur-diri’ dari ke-aku-an—ego yang membentuk pandangan-pandangan ruang-waktu dan persepsi-persepsinya terhadap dunia—dengan sendirinya ia punya bangunan psikis yang kokoh. Ia akan relatif terjaga dari keterombang-ambingan emosional akibat bersinggungan terus dengan dunia yang me-ruang dan me-waktu. Ia bakal jadi cool, man… . Kaya nenek saya tercinta.
(Kadang saya mempersamakan anjuran shalat nenek seolah petuah biksuni Buddhis yang sedang melatih saya Kung-fu: kosongkan, Danneeeh…kosongkaaan…)
Nah, saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, silakan Anda kapan-kapan undur-diri dari ‘dunia’ (sebetulnya saya mau menyambung Haleluya!—tapi nanti pasti Cici dan emak marah sama saya…). Ini sama dengan menjalankan tradisi Socrates. Undur-diri, untuk tujuan mengenali inti diri sendiri. Recognize your self, kata beliau. Sayangnya saya lebih mudah mengikuti teladan beliau yang lain, yaitu minum racun. Tapi yang ini ada mereknya. Guinness dan Coca-Cola.
Terakhir, jangan coba-coba menjawab asal-asalan kalau kebetulan nenek Anda menunjukkan perhatiannya dengan menganjurkan Anda berkontemplasi di tengah dunia brengsek yang hiruk-pikuk ini. Sebab saya pernah kena batunya. Kualat. Ketika nenek bilang, “Bangun, Nak, sudah subuh…, shalat…”; saya malah jawab: ogah ah, subuhan bikin waktu terasa melambat.
And you know what happened next? Sungguh…paginya, saya mencret…!
Ps; Bros and Sists, Selamat Hari Raya Nyepi Çaka 1929 bagi yang merayakan.
3 Comments »

…
Saya tahu kenapa akhir-akhir ini saya sering memikirkan kematian. Berada berhari-hari di lantai delapan RSKD, berkali-kali, kematian menjadi suatu yang mengepung.
…
Televisi kamar memberitakan kematian dari semua pelosok dunia. Koran pagi selalu diantarkan tepat jam delapan. Isinya, kematian. Mbak berkerudung yang membawanya saya juluki pengantar kematian. Dan ia marah. Sebagai penawarnya, saya menjanjikannya traktiran di kantin sebulan penuh jika ada sehari saja Kompas tak berisi iklan persemayaman; atau jika halaman satu Pos Kota tak memuat maut.
…
Ada satu kamar di pangkal koridor. Kamar 801. Disitu, kematian selalu ditunggu. Pintunya dibuat dari kayu meranti berat, berwarna terakota. Berat membukanya. Saya melihat hati yang berat di mata penunggu pasien yang masuk ke sana. Sebab, membuka dan memasukinya berarti berjudi di titik tak bisa kembali—dengan ketimpangan peluang yang menguntungkan Sang Bandar. Entah hanya satu dari tujuh, entah satu dari sebelas—mereka yang singgah lebih sering tak kembali.
…
Saya tak tahu kenapa kamar istimewa itu yang dipilih untuk seremoni pemberangkatan. Atau seremoni kedatangan? Saya sungguh tak tahu.
…
Barangkali karena bilik jaga medik berada di sisi depannya; sedang elevator tak begitu jauh dari situ. Saya hanya tahu, pemandangan di ambangnya selalu berulang: orang terguguk-guguk, menelepon, pecah menangis dan bicara terbata-bata; kadang merubung, menunduk tersandar pada dinding, berangkulan satu sama lain.
…
Lalu perawat-perawat berseragam merah muda dan biru itu akan bergegasan tanpa bunyi. Dua orang satpam berdiri tanpa ekspresi, mengontak dari radio entah pada siapa. Sebuah benda memanjang akan lewat melintasi selasar. Terdorong di atas brankar. Selimut sudah menutupinya, sempurna. Orang-orang di lorong akan menepi memberi jalan. Cuma tersisa putih yang ngungun dari lampu setelah iringan itu masuk pintu lift. Sepi lagi. Dan saya merasa seakan kitab di atas pembaringan tak mampu menjawab apa-apa.
…
Saya tahu satu waktu saya akan mengalami proses yang sama. Tiap sel di tubuh saya menyimpan ingatan tentang kematian. Tunduk pada hukum-hukum kesementaraan. Barangkali besok saya akan berbaring-baring di kamar itu, dilibat selang dan melihat pulsa jantung sendiri di layar 5 inci. Atau mungkin di satu tempat lain saya tiba-tiba tertabrak tronton; atau meledak terkena pelontar granat. Mungkin diabetes membuat satu hari nanti otak saya luluh menjadi manisan jenuh akibat terendam glukosa. Apapun jadi. Absurd.
…
Namun saya tak akan meloncat dari lantai delapan.
…
Kini hanya ada yang absurd ketika saya berpikir: saya dilahirkan bersama satu kepastian untuk mati. Seratus persen keniscayaan.
/…
Sedang hari ini—dan juga hari-hari lain—mengandung 50 persen peluang bagi saya untuk mati di dalamnya.
…
Sementara, tak ada setipis apapun peluang bagi saya untuk memahami sebuah kematian; tentang kapan, tentang di mana, tentang mengapa. Tanpa persen. Mutlak.
Kecuali jika saya meloncat keluar dari jendela lantai delapan.
…
Entah mengapa saya merasa seolah kitab di pembaringan tak mampu menjawab apa-apa. Dan saya merasa Ia, Tuhan…Maha Suka Bercanda.
6 Comments »
Saya hidup dikelilingi manusia-manusia yang tidak menganut cara bicara aristokrasi Inggris.
Bingung khan lo? Begini nih maksudnya: mereka suka omong jorok dalam segala situasi. Entah sedang girang atau gregetan, santai maupun uring-uringan, kata-kata jorok selalu dengan mudah ditemui dalam percakapan-percakapan. Dan tentu tak ada diantara kami yang berdarah biru Buckingham.
Orang Inggris dan aristokratnya, terutama, terkenal sebagai penutur oral yang sopan. Dan ngga cuma Inggris, memang. Semua bangsawan di semua ras memiliki ciri ‘kehalusan’ tertentu menyangkut budaya-tutur. Semacam ada konvensi tak tertulis yang secara ketat mengatur pembawaan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain; selain juga menyediakan rujukan kosakata-kosakata apa saja yang tercela dan yang tidak. Di luar konvensi itu: barbar.
Ada begitu banyak kosakata yang haram untuk diucap oleh orang ‘sopan’ di muka umum. Mau saya rinci? Jangan, ah… . Muke lo khan umum. Jadi saya terpaksa harus membatasi ngomong jorok di blog ini, tho. Lagipula Anda pasti sudah tahu kata-kata itu mencakupi apa saja—biasanya menyangkut organ dan kegiatan reproduksi, atau nama-nama hewan tak berdosa, atau kata-kata sifat jelek yang ekstrim dan benda-benda najis. Sebagai ganti, saya mau merinci ini saja: siapa sajakah pihak yang bermulut kotor?
Begini.
‘Kasta’ yang terendah ialah mereka yang menganut paham ngomong jorok sebagai tren. Atau sebagai gaya hidup. Yang termasuk golongan ini: ABG, misalnya. Atau pasangan yang terpengaruh bokep bajakan (di sini ngga ada bokep yang pake label resmi, Bro…), lalu jadi ikut-ikutan talking dirty during intercourse.
ABG punya tipikal mencari-cari perhatian dari lingkungannya; makin jorok bicara, makin cool. Dapat dikatakan budaya omong jorok ini dianut dengan model yang sama-sebangun dengan cara mereka memilih kostum pesta. Makin jorok bicara, bakal makin kelihatan kaya rapper. Fak this fak that, syit this syit that. Udah kaya di Bronx saja. Contohnya macam kawan akrab saya, seorang
jurnalis, berinisial JM (tenang, Je…di sini kaga ada yang tahu elo kok, hehehe…berhubung elo gue kutip, ntar elo gue traktir kolak Medan…).
Semua kata benda di kalimat-kalimat dari mulutnya pasti selalu diimbuhi kata fakin-fakin itu. Pas bokek dia rutin merayu, ‘Yow, Danny boy…, c’mon yow lend me some fakin recehan goban…bla-bla-bla…’ . Lain waktu kalau HP-nya kumat error, dia pasti mengutuk fakin phone! fakin phone! fakin ulekan! Astaghfirullah… . Padahal jelas-jelas ponselnya sendiri yang uzur minta diganti. Lagian mana ada sih ulekan atau ponsel yang—maaf—bisa senggama. Yang ada mah anggota DPR senggama yang masuk ponsel, Je…. Sungguh, umpatannya benar-benar tidak signifikan… . Bego bener lo, Je… .
(sekilas info, HP-nya model 5110 buatan Finlandia, yang selalu dibangga-banggakan karena dibelinya langsung saat mampir setengah hari di negara itu. Sebuah gadget legendaris; difavoritkan oleh para teroris dan oleh pengguna jasa PPD, karena murah (sebagai detonator) dan juga aman; ngga menerbitkan selera bagi kapak merah maupun tukang copet yang paling kepepet sekalipun)
Di kasta kedua terdapatlah kaum moderat. Yaitu penutur jorok yang memang biasa ngomong jorok sebagai bagian dari ekspresi kebudayaan egalitarian (aduhai, rancak nian bahasanya…). Saya barangkali termasuk di sini. Sebab, seperti saya katakan tadi, saya dibesarkan di keluarga yang punya tradisi lisan rada-rada jorok yang jauh dari standar aristokrasi. Saya sering lihat nenek saya mengomel-ngomeli kelinci peliharaan di rumah pakai bahasa Minang jika si kelinci makan terlalu rakus. ‘Ey hey…, kelinci kalera, habia piti den. Pa(sensor)ek!’
(Tadinya saya pikir kelinci ini dikutuk biar kena sakit kolera di pantatnya. Belakangan baru saya paham bahwa arti kalimat itu ternyata jauh lebih grindcore dari yang saya duga. Benar-benar sadis… .)
Saya sendiri akan menegur adik-adik perempuan saya kalau mereka ketahuan mojok dengan sindiran, ‘Je(sensor)ut baru tiga lembar aja udah sok mau pacaran lo…’—merujuk pada rumpun rimbun tertentu di bawah perut.
Maaf kalau vulgar. Tapi menurut saya hal ini tidak jorok, lho. Ini ekspresi budaya, kawan. Tradisi umum di kalangan rakyat biasa macam saya. Gampang ditemukan. Coba main saja ke Condet. Atau ke Ciganjur, daerah saya sekarang bermukim. Keduanya enclave komunitas Betawi Udik yang luas. Perhatikan saja dialog para emak dan engkong yang ngrumpi di teras-teras. Wuih, dahsyat belaka, Bro… . Pemilihan diksi-nya itu loh…alih-alih kecil, itil; alih-alih tegak, ngaceng.
Diantara kaum emak-emak, Nyak Itik (usia 58 tahun; nama samaran, red), tetangga saya, niscaya paling pantas bergelar Ph.D dalam ilmu ngomong jorok. Beliau masuk Hall of Fame di kampung kita. Semacam thesaurus hidup yang memberikan semua entri vocabulary jorok yang pernah beredar di bumi Betawi sepanjang sejarah. Terakhir, Idul Adha kemarin beliau sempat bikin kekacauan kecil saat dengan polosnya berteriak-teriak di depan publik, ‘Oy, entu bandot nyang item peler-nya buat gua, peler-nya buat gua oooy!’ (…yang mana teriakan tersebut sedikit masuk ke Toa masjid…)
Dan tentu saja, beliau latah. Latahnya ini berstruktur, lho. Maksudnya begini: beliau melafalkan kata klasiknya—yaitu apalagi kalau bukan ‘ko(sensor)ol’—hanya jika kaget atau dikageti oleh suara/bunyi non-artikulatif, seperti bunyi mangkok pecah, balon meledak, atau suara orang sengaja mau ngagetin dengan teriak HWA! atau JGER!!! Maka, musim hujan ini saban terkejut-kejut karena bunyi geledek beliau akan melagukan litani andalannya, ‘Eh, ko(sensor)ol—ko(sensor)ol—ko(sensor)ol—ko(sensor)ol…’ .
Namun sebaliknya bila beliau sengaja dikageti dengan bunyi artikulatif, maka beliau akan otomatis mengulang suku-suku-kata terakhir yang diucapkan lawan bicaranya itu. Contohnya, kalau orang bicara, “…bener ape kaga, NYAK???”—dengan berteriak penuh pada kata ‘nyak’—maka beliau akan melatah, ‘Eh, enyak—enyak—enyak, dah enyaaak…’.
“KUTIL!!!”
‘Eh, kutil—kutil—kutil, dah—kutiiil…’.
Dengan basis saintifik inilah (caelah…), saya sering memanfaatkan beliau dengan culas. Kalau saya minta didoakan oleh beliau, saya akan bilang, ‘Nyak, doain gue bulan ini dapet fulus banyak biar kapan ari gituh gue bisa naek aji ya, Nyak. Doain nenek gue tetep sehat keja masi bisa joged ya, Nyak.
Lalu saya bentak, ‘AMEEEN!!!’
‘Eh, amin—amin—amin, dah—amiiin…’.
(Rumusnya, makin banyak dikasih amin, doa akan makin mujarab)
(sisipan sejenak, by the way, Anda kenal istilah onomatopi? Nih, ada bahan tambahan buat pengetahuan umum Anda: onomatopi ialah pola atau proses pembentukan kata yang memakai pendekatan bebunyian dari kegiatan objeknya. Misalnya dalam ‘nyamuk mendengung’. Kata ‘dengung’ ini onomatopik. Begitu pula kodok ‘mengorek’. Adik sedang ‘cebok’. Ayah ‘cepirit’, ibu ‘menabok’. Dan sebagainya. Nah, di Ciganjur ini, aktivitas seksual di-onomatopi-kan jadi ‘glepag-clebud’… . Au’ deh dari mana dan dengan logika apa frasa itu tersusun. Saya bukan ahli bahasa, Bro)
Lebih jauh, sebagai ekspresi budaya, omongan kasar dan jorok dari arek Surabaya—atau daerah pemangku sub-kultur-non-keraton lainnya—juga dapat dijadikan rujukan. Kita tahu dalam hal arek ketemu arek, pembicaraan yang terjadi selalu jauh dari suasana formal. Segala jenis satwa, anunya si ini, anunya si itu, diancuk, ndhas-mu etc akan spontan keluar. Hal ini bukan pencederaan norma, bahkan sebaliknya justru tanda keintiman hubungan sosial antar kawan. Sebuah kekayaan budaya yang ngga gampang dimengerti oleh mereka yang bergelar ‘Sir’ sekalipun.
Berlanjut ke strata ketiga. Strata yang ketiga ialah: mereka yang ngomong jorok sebagai ‘parodi kemanusiaan’. Nah, ini yang rada berat, Bro. Susah banget menjabarkan konsepnya. Tapi singkatnya begini: mereka ialah pihak yang memiliki wawasan kebahasaan yang luas dan sekaligus memasabodokan konvensi umum tentang cara-cara dan norma-norma manusia berbicara. Lebih singkat lagi: mereka kaum nyentrik dan parodik.
Di jajaran ini, kalau kita mau jauh-jauh menggali khasanah literatur esoterik, kita akan ketemu para filsuf bahasa, guru-guru besar Zen, para sufi, komedian-komedian atau ilmuwan-ilmuwan sinting—yang piawai mengajarkan bahwa sistem-bahasa ngga punya juntrungan eksak dengan makna; dan ngga terikat secara abadi dengan substansi yang ‘ditandai’-nya. Beberapa dari teks-teks mereka amat sangat jorok jika dinilai dengan standar ‘moral’ konvensional (baca: standar hipokrit yang dibiuskan dan dipasarkan televisi Indonesia).
(Maapin gue, ye… . Elu-elu pan udah pada tau, kalo gue ngomong tinggi kaya gini, itu artinye gue pengen begaya… . Dan jika Anda tak mengerti bulshit-an
saya yang terakhir ini, main dong sekali-kali ke perpustakaan. Atau lebih instan-nya, hadirilah Ma’iyah Kyai Kanjeng yang rutin diselenggarakan setiap bulan, tanggal 17, di Kasihan, Bantul, Jogjakarta. Di sana sedikit-banyak Anda bisa merasakan ‘atmosfir kemerdekaan berbahasa’—sebuah upaya komunikasi yang jorok namun sarat dengan isu kebudayaan)
Well, that’s that’s it about people talking dirty. Sekarang pertanyaannya ialah: apakah sebenarnya sifat ‘jorok’ itu?
Saya beranggapan, omong jorok ialah bukan harfiah semata-mata berupa tindak menyebutkan kata-kata yang disensor seperti di atas itu. Saya punya pengertian lain yang lebih konotatif tentang jorok.
Menurut saya ‘jorok’ artinya hanya satu: manipulatif. ‘Jorok’ sangat berbeda dari jorok biasa. Ngomong ‘jorok’ adalah segala bentuk komunikasi yang penuh manipulasi. Meliputi berbohong, berpura-pura dan ber-eufimisme.
Jika kawan saya JM dan tetangga saya Nyak Itik suka bicara kotor; apakah hal itu menandakan kebobrokan jiwa, karena substance kekotoran memroyeksikan dirinya dalam bentuk ucapan-ucapan lahir yang tak senonoh itu? Apakah mereka asosial, karena melanggar norma kesopanan?
Saya rasa tidak demikian. Subjektif, mereka orang-orang jujur yang amat jarang berdusta. Kalau saya, jelas sekali saya ‘jorok’, sebab saya masih setia memupuk hobi berbohong dan suka bicara seenak udel. Entah itu white lie, black lie, grey lie, ganggangsulai etc—pokoknya saya doyan ngibul, titik. Saya merasa diri ‘jorok’ karena saya percaya indikator sejati tentang ‘kejorokan’ selalu melekat pada ‘substansi’.
Nyak Itik memang suka ber-kontal-kontol-ria (pliz…, terimalah kata-kata ini dengan lapang dada, kawan…hehehe). Tapi beliau selalu jujur bersikap dan berkata-kata pada siapapun. Kalau dirasanya seseorang tak membuat nyaman, dengan lugas beliau akan menunjukkan sikap antipati—tanpa seni hipokrisi yang dibuat-buat sebagaimana yang biasa kita temui dalam situasi seorang profesional public relation berhadapan dengan customer rewel yang banyak menuntut macam-macam. Beliau tak akan pernah berlindung dalam senyum komersial para frontliners perusahaan-perusahaan jasa yang kinerjanya buruk (yang mungkin menganggap semua pelanggan, terutama yang laki-laki, akan mudah dijinakkan dan ogah complain demi seulas senyum perempuan). Karena itu Nyak Itik tak harus mengikuti kursus-kursus kepribadian untuk mendapatkan ‘kemanusiaan’-nya—karena menjadi beradab punya arti tak sesederhana sekadar tidak ngomong jorok.
Si JM jelas bukan bangsawan Inggris. Dia buta table-manner, dan warna kulitnya sekelam karbon. Kalau sedang kesal ya dia ngomong jorok, dong. Straight. Tanpa basa-basi protokoler. Langsung saja ngentat-ngentot, fokang faking. Bandingkan dengan Sir-Sir londo itu. Se-mangkel-mangkel-nya, paling banter mereka akan berucap, ‘Semoga lumpur terpercik ke wajahmu…’. Itu sudah merupakan pengungkapan yang sangat kasar. Klab-klab rotary mereka senantiasa menjadi ajang bertata-krama, smart conversations, basa-basi sanjung-sanjungan, sementara hati penuh intrik-intrik persaingan bisnis untuk dulu-duluan menangguk untung dengan mengibuli elit-elit di tanah jajahan, menumpahkan darah. Kibul sana kibul sini. Si JM? Ah, dia mah cemen. Dia ngga pernah sampai hati ngibulin istrinya sendiri. Nyembeleh ayam sakit saja dia gemetaran.
Teladani Bush. Kepala negara dan kepala pemerintahan negara lain selalu punya kesan bahwa Bush seorang gentleman. Pria yang alim, hangat, supel dan sopan dalam interaksi personal. Mulutnya akrab dengan Gospel-Gospel. Yesus juru selamat, Tuhan menyertai Amerika. Tapi dikadalinya seluruh dunia dengan fitnah atas sistem persenjataan Baghdad. Ia sampaikan apologi dusta setelah 9/11, sambil enak-enakan wakuncar ke Camp David, sambil Laura mem-blowjob-nya di kamar mandi. Tangan yang kiri menggenggam kontrak minyak sedang yang kanan memijat tombol mesin pembunuh 655 ribu warga sipil Irak yang tak punya salah apa-apa pada nenek moyangnya. Duh, Gusti, ngga akan ada satu kata nista terjorok yang bisa mengapresiasi ‘kejorokan’ ini.
Jadi, mana yang lebih jorok, Nyak Itik dan JM, atau para caleg yang janjinya manis saat kampanye? Mereka, ataukah seorang wapres satu negara miskin yang mengingkari janji bantuan untuk para korban sebuah gempa yang menewaskan 5000 jiwa lebih? Mereka, atau iklan suatu produk yang mengandung bahan toksik? Mereka, atau maskapai brengsek yang bilang pesawatnya laik terbang namun ternyata meletus begitu saja di udara? Siapa yang jorok dan siapa yang ‘jorok’?
Pertanyaan penting satu lagi: apa saja dampak-dampak buruk antara omong jorok dan ‘omong jorok’? Jika diperbandingkan, mana yang lebih membahayakan kesejahteraan jiwa-raga manusia?
Saya sih setuju-setuju saja, Bro, dengan tata-krama dan aturan pergaulan menyangkut tabu-tabu dalam berbicara. Tapi hanya sepanjang ia tak dijadikan meteran baku satu-satunya. Sepanjang tata-krama itu tak menghalangi ekspresi alamiah yang murni; dan selama ia tak diperalat menjadi perangkat pengukur moralitas di dalam inti kepribadian manusia. Reaksi jijik dan muak yang berlebihan terhadap omongan jorok bisa jadi merupakan gejala awal ‘sakit-jiwa-feodal’, ‘sakit-jiwa-relijius’ dan segala varietasnya. Sebab, di dunia yang demikian katro, niscaya ada lebih banyak objek lain yang lebih rasional untuk dijadikan sasaran rasa jijik dan muak Anda.
Rugi, lho, kalau memupuk sinisme dan superioritas moral buat hal-hal ngga penting. Jadi, jangan gampang bilang, ‘Yakh, tuh orang kotor banget bicaranya…sekolah ngga, sih? Nonton sinetron hidayah ngga sih…? Ngga takut diazab, apa…? Mulut jenasah luka bakar tingkat tiga… . Kita khan harus bermulut manis…manajemen kalbu…kasih…sayang…jagalah hati…’.
Halaaah… .
Yah, demikianlah pada akhirnya, curhat norak ini hanya bermaksud sekadar memberikan cara pandang alternatif: bahwa barangkali kebijaksanaan itu ialah suatu momen keinsafan ketika kita menilai bibir dan mulut manusia hanya terhadap Angelina Jolie dan Tukul Arwana. Dan bahwa seluruh klausul dalam PP Nomor 37 Tahun 2006 jauh lebih porno dari stensilan Enny Arrow.
Wasalam.
ps;
JM bilang ke saya, “Dann, misal semua orang yang demen ngomong jorok masuk neraka, kasihan Tuhan dong, ya…”.
Lho? Kenapa?
“Anu…, neraka kudu direnovasi, Dann… . Bakalan kaga muat, Bo’…”.
Astaga… . Semoga Tuhan menyambarkan petirnya ke ubun-ubun kawan saya yang ini juga.
4 Comments »
Repetisi untuk Aula Sakinah Muntasyarah
…
…
Poligami punya beberapa sisi yang enak sekali. Laki-laki bisa menikah dengan banyak istri; dan konkretnya: bisa memiliki anak dari sekian garis, merasakan romantika pengalaman hidup di dalam lebih dari satu keluarga inti, berjumbuh (berkelamin-ria, red) dengan banyak vagina yang halal menurut kepercayaan yang diyakini si pelaku.
…
Saya di sini ogah panjang lebar membahasnya. Saya mau bilang apa adanya setandas-tandasnya menurut apa yang saya yakini; dengan kadar kebebasan sama sebesar hak mereka-mereka yang berlainan keyakinan dengan saya, tentang perkara poligami ini.
…
Namun ada syarat yang saya ajukan di awal tulisan ini bagi Anda yang ingin merunut jalan pemikiran saya: berpikirlah bebas. Kalau Anda tak sudi berpikir bebas dengan menanggalkan semua dogma, silakan lepaskan mata dari monitor atau sekalian laporkan saja saya ke Komnas HAM atau ke para tukang gertak berjubah atau ke manajer FS juga tak apa. Asal jangan ke nenek saya karena dijamin nenek saya, dan juga seluruh keluarga besar saya, akan habis-habisan berseberangan dengan para pengusung poligami—meskipun kami sama-sama mengaku diri Muslim.
…
Perbedaan pendapat tentang poligami berangkat dari penafsiran yang berbeda terhadap peraturan agama. Dua kubu di sini hendak langsung saya bedakan. Satu, kubu kolot-formalis. Dua, kubu maju. Tak usah repot menebak saya berada di kubu mana. Repotlah saja untuk memahami kecenderungan jiwa Anda sendiri untuk mengkategori diri berada di mana.
…
Saya sarankan, jadilah kolot karena lebih asyik. Kita cuma tinggal menerima dogma apapun tanpa pikir panjang, tanpa renungan apa-apa. Pokoknya terima beres. Kalau dibilang poligami itu sunnah Nabi, maka melakukannya pasti akan bernilai ibadah. Kekolotan ngga harus dipaksa agar paham konteks sejarah yang njlimet. Ngga kudu memahami bahwa 1400 tahun yang lalu Muhammad—dimuliakanlah namanya dalam sejahtera Tuhan—melakukan poligami sebagai langkah revolusi besar atas sistem sosial Arab yang pada masa itu memperlakukan perempuan serupa onta. Klan-klan pemelihara berpuluh-puluh istri adalah hal lumrah dan membanggakan—sebuah prestis. Perempuan dipasung di rumah tanpa hak apapun untuk sekadar bilang tidak untuk perilaku barbar lelaki yang ditimpakan atas mereka.
…
Poligami di masa itu adalah kompromi. Kontekstual, dan berlaku hanya pada situasi sosial-kemasyarakatan yang mendukungnya, dan bertujuan membenahi ketimpangan jender yang amat ngga fair. Dan kompromi ini bukan final. Ia harus dikembangkan terus sampai tujuan-tujuan keadilan dalam Islam—yang contohnya antara lain keadilan dan kesetaraan jender—mampu dicapai.
…
Saya terpaksa mesti memelajari sejarah. Tuhan kasih saya kemampuan ‘mikir dan merasa. Saya menghina-Nya kalau jadi tukang turut tanpa juntrungan dengan otak-jantung carteran ini. Dan saya jadi bingung, orang yang poligami di tahun 2006 ini maunya apa lagi, selain untuk kompromi dengan nafsu. Dan bukan saya, lho, yang mewacanakan soal nafsu ini; saya tahu dari si pelakunya langsung. Ramadhan-nya kemana, kok biar tiap tahun selalu datang, si nafsu bisa serevolusioner ini buat jadi alasan menikah lagi?
…
Aneh banget. Memang kebodohan dekat sekali dengan sikap picik, untuk mengada-adakan alasan. Menghindari ‘jajan’, kata satu orang.
…
Busyet…, dia yang berpikir begini barangkali mengasumsikan perkawinan ialah semata institusi pemuas syahwat. Dengan demikian, logikanya, motif dasar dan tujuan untuk menyelenggarakan perkawinan yang kedua dan seterusnya ialah syahwat belaka. Pantaskah?
…
Padahal setahu saya agama mengajarkan bahwa perkawinan ialah sarana meraih tujuan ridla dan kesempurnaan hidup—tapi tunggu…, daripada kita ngomong konsep ngga konkret kaya ‘ridla-kesempurnaan hidup’, mending to the point sajalah: perkawinan ialah lembaga buat bikin pelakunya hidup senang. Bagi suami-istri, juga anak-anak yang dilahirkan, sampai ke masyarakat.
…
14 abad kemajuan ilmu humaniora, psikologi, filsafat dan tetek bengek saya yakin akan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan: siapa yang paling disenangkan dari poligami di hari begini. Dialah Si Titit. Istri dan anak bisa jadi tak merasa nyaman. Dunia bakal meledak karena kelebihan populasi dan anak cucu kita yang hidup di masa depan akan makin berebutan dalam semua hal.
…
Tapi jawaban tadi hanya untuk yang ‘mikir. Kolot lebih asyik. Konsep ‘ridla-kesempurnaan’ hidup bisa dicukupkan ke satu tujuan: yang penting nafsu tersalurkan dengan syarat-syarat yang digenapi; dan ngga ada pihak yang rugi.
Jangan heran kalau perkawinan buat sebagian kaum ‘formalis’ kolot ini, dalam peristiwa sosial sehari-hari, berwujud ekstrim dalam hal konyol, seperti kasus pria berkeluarga atau lajang Jakarta kelebihan duit yang birahi tapi mau terhindar dari dosa lantas cari bini kontrak di pantura yang siap mengangkang saja saban akhir pekan dengan kompensasi sekian rupiah per bulan.
Syarat nikah terpenuhi. Ijab-kabul tuntas, mahar tunai. Niat? Ah, ngga usah dipikirin. Tujuan? Lu udah tahu. Halal? Halal, dong…, wong dibenarkan secara formal oleh agama. Anda tertarik? Saya bisa antar Anda ke Indramayu atau Majalengka.
(Dan tidakkah Anda akan menyebut dengan mudah bahwa si lelaki serupa pelacur?)
Jangan kaget kalau Muhammad—dimuliakanlah namanya dalam sejahtera Tuhan—selalu dijadikan rujukan oleh poly-‘gamer’ goblok yang mau memain-mainkan nama agung Beliau dengan cara membakukan poligami; meniadakan peran akalbudinya yang diwajibkan untuk membanding-bandingkan perbedaan besar antara dua kurun sejarah yang jauh itu. Mereka ini sebenarnya yang jadi momok dan paling bertanggung jawab atas prasangka buruk para feminis terhadap agama Islam. Mereka seperti melacurkan diri. Sekaligus melacurkan pengertian mereka yang ngawur tentang sunnah.
…
Saya bisa merasakan, Muhammad—dimuliakanlah namanya dalam sejahtera Tuhan—akan begitu kecewa. Beliau selalu menubuatkan kemajuan adab dan tak akan sampai hati mengarahkan umatnya membangun sistem yang salah dengan mengultuskan pola hidup Beliau sebagai referensi apabila pola itu tak lagi relevan dengan jaman mutakhir dimana umatnya hidup.
…
Ah, tapi ini memang hanya feeling saya. Pembuktiannya akan ada kelak di Padang Mahsyar ketika saya, Anda, penentang saya, serta Sang Nabi sendiri akan berkumpul membahas isu ini secara terbuka tepat di depan Tuhan. Namun sementara kita belum pergi ke sana, coba pikirkan ini: siapakah makhluk yang mampu berlaku adil?
…
Adil ialah muatan mutlak dalam persyaratan poligami. Orang yang melakukan poligami secara tak langsung telah mengotorisasi, meluluskan dirinya sendiri dari ketatnya persyaratan. Tak ada yang bisa tahu definisi adil. Ia tak terukur. Maka orang yang melakukan poligami juga secara tak langsung telah mengklaim dirinya benar-benar mengerti keadilan. Sementara, orang yang terdidik dengan baik akan tahu sebuah logika yang begitu sederhana: bahwa karena setiap manusia pada dasarnya tak sempurna dan tak dapat berlaku adil, sementara berlaku adil ialah syarat yang diwajibkan dalam poligami—> maka orang tak bisa berpoligami.
***
Perkawinan itu satu ritual dahsyat yang ngga main-main, Saudariku. Seperti dua orang berjanji di depan-Nya sendiri: untuk saling bilang, “Gue sayang elo, mau berkomitmen dengan elo, menjaga perasaan elo sampai salah satu dari kita ‘lewat’. Gue ngga akan mangkir dari kewajiban-kewajiban itu bahkan andaipun satu dari kita mandul dan kita jadi ngga punya anak, atau andaipun dunia dihuni lebih banyak perempuan ketimbang laki-laki.”
…
Seolah si lelaki dalam ijab kabul bilang, “Gue tahu, wahai istriku, elo sebagai perempuan udah sepanjang sejarah dikibulin muluan sama kaum gue; maka sekarang gue mau berusaha menghargai elo lebih baik daripada pendahulu-pendahulu kita. Jangan selubungi pikiran elo dengan kepasrahan dan ketaatan palsu pada agama demi kepentingan nafsu gue yang dangkal. Gue ngga rela elo koslet…”.
…
Dan si perempuan bilang, “Hai suamiku yang ganteng, elo pemimpin di keluarga ini. Gue akan mengabdi elo. Maka please jadi bijaksanalah; curahkan cinta elo buat Dia dengan jalan memperbaiki kehidupan orang-orang yang terdekat sekaligus orang banyak. Bekerja keraslah dengan penuh dedikasi hingga elo tak lagi sempat punya pikiran ngeres. I love you too”.
…
Tapi barangkali itupun masih terlalu ideal.
…
Saudariku, saya jarang marah demi soal sepele. Saya hanya akan meradang untuk hal-hal prinsipal seperti menyaksikan agama dipakai terus-menerus dari generasi ke generasi secara picik dan tolol oleh mereka yang suka melegitimasi tujuan pribadinya—yang tak ada relevansinya dengan perbaikan keadaban orang secara luas. Sekarang mari kita tunggu dan saksikan saja sejarah berjalan. Satu saat akan terbukti ketololan dan kemunafikan sikap beragama akan mati tergilas sendiri.
…
Well, mereka yang masih mau menganggap poligami sebagai kebenaran mungkin saja pernah membaca Da Vinci-nya Tuan Brown; dan kagum pada fiksi itu (dan bahkan latah menganggapnya bagai teks teologi yang sahih untuk menyerang ‘kebodohan’ pihak lain).
Sayangnya, dan lucunya, mereka seperti melupakan pesan abadi dari si maestro, yaitu untuk selalu bersikap kritikal terhadap agama yang di tiap kurun sejarah selalu dikorupsi, dibekukan macam mummi dan dijadikan babu untuk melayani kepentingan-kepentingan remeh oknum manusia.
Whealaaah…empat belas milyar tahun usia alam semesta ini, Saudariku. Sadar ‘dikit ngapa… .
…
…
Ps;
Dan Sang Leonardo berkata, “…bukalah, bukalah mata kalian, orang-orang bodoh…”.
13 Comments »
“Whealaaah, Ngger… Gusti mboten sare. Kanjeng Nabi yo jelas mung ana siji lan sepisan”.
“Nek arep golek turon-turon thok ae mbok yo ra sah ndhadhak nggawe kancamu turu angel turu, apa maneh sisan nggawan-nggawani asmane Gusti tho, Nggeeer…Nggeeer; kayane Gusti mapan sare wae. Wis ah, aku rep micek nang Ciganjur. Wis bacut janji je, ro Dhik Dur…”.
“Eh, lonthe…lonthe!!!!”
(Aduh, Nak… Gusti tidak tidur. Sang Nabi hanya satu dan (hanya) untuk sekali.
Kalau cuma untuk cari tidur-tiduran saja baiknya tak perlu pakai bikin teman tidurmu (istri, pen) susah tidur, apalagi dengan sekalian membawa-bawa nama Gusti, Nak…Nak;
lha kok, seolah Gusti sedang tidur saja. Sudah ah, saya mau tidur di Ciganjur. Sudah terlanjur janji dengan Adik Dur.
Eh, pelacur…pelacur!!!!)
…
Maaf, jangan salah sangka, kalimat terakhir itu beliau ucapkan sambil kaget karena termos untuk bekal perjalanan beliau, sesaat sebelum saya mengakhiri wawancara ini, terjatuh karena gempa susulan yang sampai saat ini masih sering terjadi di Jogjakarta.
***
(*)Mbah Wongso Jumbleng ialah sosok misterius yang biasa ditemui di Pegunungan Seribu—kawasan berkapur luas di selatan Jawa. Ia sebatang kara. Dokumen pribadinya ngga jelas. KTP-nya banyak, tapi kolom agamanya kosong. Beliau memegang SIM B kompleks; jadi bisa bebas bawa kendaraan apapun. Waktu tsunami Aceh bahkan dia pernah ‘nyetir panser segala. Profesi aslinya sebagai penggali liang jamban tradisional (i. e. jumbleng), namun kerap juga ditemui sedang bertransaksi dengan bule-bule di BEJ. Akhir-akhir ini beliau sering terdengar menyanyikan potongan satu lagu pop. Kalau ngga salah penyanyinya Mbak Teri, mirip nama ikan kecil. Liriknya, “…titit tidak bertulang, alasan aa’ mengiris kalbuuu, hwoo hwoo…etc…etc…”. Itu aja yang dihapal Si Mbah. Diulang-ulaaang terus.
Nah, di posting-posting berikut saya entar bakal ceritain deh tentang beliau. Gue khan juga pengen ikutan ngawur bin iseng memanfaatkan kebebasan ekspresi yang sudah kita bayar dengan ‘pala benjol hidung bocor dan kuping budeg waktu jaman ‘98 dulu, hehehe… .
Dasar lonthe.Lonthe lanang!
3 Comments »
Tuan-Tuan, dunia masih berputar usai lebaran. Subuh dan isya kembali sepi. Orang-orang menjalankan jadwalnya seperti biasa, selepas cuti panjang yang melelahkan di pelosok-pelosok negeri—untuk kembali berdesakan ke kota saya yang tua. Saya cari duit, mereka cari duit; seperti halnya Tuan-Tuan. Berjualan laptop, beras atau es cincao. Ada yang menjual asuransi dan kartu kredit. Lainnya memasarkan obat kuat, apartemen atau saham korporat. Beberapa jualan agama.
…
Tuan Gym, untuk itu mari kita toast dulu sebelumnya; agar beruntung dalam usaha-usaha kita. Saya akan berdoa, berkurangnya kuantitas program Tuan di televisi sehubungan berakhirnya puasa tak mengurangi nafkah Tuan. Masih banyak kalbu yang belum mendapatkan manajemen. Di tiap pabrik selalu ada manusia-manusia urban yang haus akan makna, akibat kemiskinan. Haus hiburan. Jangan coba membayangkan pekerja kecil bisa menganggarkan dana untuk prokreasi, Tuan. Untuk makan dan rokok saja mereka sering kekurangan. Upah begitu minim. Batas moderat 2 dolar per hari (18 ribu perak)—satuan untuk menggolongkan ya atau tidak seorang disebut miskin—tak kunjung terlampaui. Dewan-dewan direksi puyeng kepala melihat payahnya mutu kerja, padahal sebelumnya mereka pun telah jengah berkutat dengan masalah pajak, perijinan atau pungli birokrasi. Meeting pun digelar. Usulan-usulan dilemparkan pada forum. Satu diantaranya: mari kita undang motivator bertuah untuk bicara kepada mereka. Saran yang canggih. Ketika nama Tuan diajukan, manajer HRD langsung menjentikkan jari dan berseru, “Aha…!”.
…
Maka, Tuan, mari kita toast lagi. “Untuk kesejahteraan Anda, lahir dan batin”, kata saya.
…
Tuan saya bayangkan membalas, “Untuk nafkah yang diberikan Tuhan”.
…
Saya yang budeg suka sering salah tangkap: waktu Anda bilang ‘…dari Tuhan’, saya barangkali seperti mendengarnya ‘…dari iklan’.
…
Ya ma’ap… .
…
Bagaimanapun, usah kuatir, Tuan. Pending order masih sangat banyak. Betul, tidak?
…
Tuan Ilham, saya menyukai suara Anda yang serak. Teatrikal. Juga karena tak semua sarjana psikologi dan komunikasi massa memiliki kemampuan memberikan impresi-impresi pada subjek, sehingga para penyimak Anda, bagai
tersihir, menyaksikan penampilan Anda di televisi dengan khidmat. Ekspresi Anda kuat; dengan cara bicara yang berjeda-jeda, seperti memberikan kesempatan kepada pemirsa untuk mencermati dulu kalimat-kalimat Anda sebelumnya. Memang, dalam masyarakat yang kerap bimbang dan terus-menerus disodori ketidakpastian, sebuah pidato yang lugas dan penuh tekanan: secara psikis akan dirasakan bagai peneguhan yang nyaman.
…
Saya selalu suka bagian yang ini: setelah melempar satu retorika yang bernada meninggi semisal “…O, bukankah semua ini milik Allah…?”—Anda akan terdiam agak lama (dengan dahi berkerut serius). Lalu tiba-tiba raut Anda berubah drastis dari yang tadinya serius menjadi mengulum senyum ‘bijak’. Saya mengandaikan, saat Anda terdiam sejenak itu, ada suatu struktur dalam pikiran Anda yang memandu irama orasi; yang seperti bersuara wait…wait…waiiiit…, still loading on ‘em,
just wait…confirming…wait…waiiiit…;
hingga kemudian suara itu teriak NOW! memerintahkan ganti ekspresi; jika waktunya dirasa pas. Dan disitulah Tuan tersenyum. Mungkin mirip seperti di dalam bus Trans-Jakarta, suara itu seksi dan renyah; memberi info, “Pemberhentian berikutnya adalah di kalimat…anu…”.
…
Saya menyebutnya sophist. Ya, ekspresi sophist, Tuan. Mimik bijaksana yang anggun dan/atau dianggunkan. Diselingi menelengkan kepala ke kiri, ke kanan. Bahkan kedipan mata Tuan pun seperti tertata temponya.
…
Tuan yang budiman, Anda seolah memahami betul karakteristik pemirsa yang Anda tuju. Memang benar, Tuan; yang Anda tuju adalah pemirsa di sebuah bangsa yang sering disakiti hatinya. Empat ratus empat puluh juta paru-paru yang sesak karena penyakit, kesempitan kesempatan, bencana-bencana alam dan kelangkaan akses untuk hidup sejahtera.
…
Jutaan orang di luar sana sedang menunggu momentum dan giliran untuk menangisi nasibnya masing-masing, Tuan. Demi nenek moyang, mereka adalah pasar yang amat besar. Ayo silakan Tuan pimpin saja mereka mengeluh ke depan Tuhan. Tak salah bila Anda mengajak mereka untuk tersedu-sedu; tanpa perlu kuatir dianggap mengarahkan jiwa orang ke arah kecengengan. Kadang tangis memang perlu bagi keseimbangan mental, kata jurnal-jurnal psikiatri. Kadang malah jadi kebutuhan. Di dalam mesin keseharian rutin yang tak manusiawi, impersonal, orang cenderung suka merindukan bahkan mencandu
pemicu-pemicu rasa haru, mencari lega yang instan; yang sementara. Entah lewat opera sabun, reality show si miskin atau acara live mendaraskan nama-Nya secara massal.
…
Anda mungkin tak akan percaya, Tuan: ibu saya pernah terisak-isak di rumah hanya karena mendengarkan lagu Syukur-nya H. S. Mutahar, setelah sebelumnya sepulang dari kantor beliau kecopetan.
…
Aha, …jangan-jangan Anda pernah belajar kedokteran juga, nih…?
…
Tuan Al-Buchori, Anda memang bukan pemain drama, namun termasuk dalam golongan mereka yang dibesarkan oleh televisi. Tuan tak kenal sejarah panjang tentang bagaimana biasanya seorang pendakwah tradisional dilahirkan, karena memang Tuan tak mengalaminya. Di jaman lampau ketika pesantren-pesantren membangun dirinya sendiri dari benih, tumbuh perlahan dan bergulat terus-menerus dengan lumpur persoalan agraris masyarakat pedesaan, Tuan tentu saja belum lahir ke dunia.
…
Dari pelosok-pelosok jauh itulah lahir komuni-komuni mini, dipimpin oleh mereka yang disebut kyai, yang mana karisma mereka, disamping karena garis keturunan, ditentukan lebih pada apa yang mereka baktikan secara nyata ketimbang sekadar penampilan atau ngomong doang.
…
Dunia yang Tuan kenal ialah era yang samasekali baru. Televisi telah meringkas dan mengubah seluruh proses kelahiran tadi menjadi catwalk dan sayembara. Tuan acap menghadiri undangan-undangan ulang tahun para pesohor, ketawa-ketiwi dan mengantungi amplop ‘tali-asih’; yang ‘tak patut ditolak sebab ia rejeki dari surga’. Sudah barang tentu kata-kata seperti ‘sawah’, ‘perkebunan inti rakyat’, ‘kredit candak-kulak’ atau ‘tukang ijon’ sulit ditemui dalam kamus Tuan yang mengkilat dan penuh terminologi gaul yang digandrungi remaja.
…
Tuan-Tuan bertiga, apa Tuan-Tuan tak merasa aneh, atau kehilangan?
…
Barangkali Tuan-Tuan telah menyiapkan kerangka (pem-)benar: bahwa kebaikan-kebaikan wajib disebarkan melalui segala cara. Termasuk melalui cara berhubungan intim dengan industri tontonan.
…
Dakwah bukannya terlarang untuk disiarkan di televisi, Tuan. Jangan anggap saya naïf. Saya tak sedang mengharam-haramkan sesuatu—apalagi mengukur motif pribadi Tuan; sebab hanya Tuhan yang punya pengetahuan tentang itu. Mungkin Tuan benar tulus atau justru mata-duitan. Itu tak penting. Tapi televisi, Tuan,… ia adalah korporasi yang punya neraca, dan hidup semata demi tujuan mencari keuntungan. Tak ada yang berani menjamin ia peduli pada akhlak, yang tak bisa diterjemahkan menjadi balok dan angka-angka. Ia adalah industri. Mereproduksi dan mengemas segalanya, termasuk dakwah agama, menjadi sesuatu yang dapat memenuhi selera konsumen. Sekali lagi, ia ialah industri, Tuan—satu pihak yang begitu hebat mencetak ‘’kerusakan-kerusakan” ke atas bumi. Anda yang begitu terlihat berwibawa dalam soal sosiologi—amat lancar mengulang-ulang frasa ukhuwah—pasti mahfum tentang dampak-dampak keserakahan-konsumerisme yang ditimbulkannya.
…
Dapatkah Tuan bermesraan dengan pihak ini tanpa batin Tuan terganggu?
…
Jangan-jangan, inilah demokrasi, menurut Tuan?
…
Ah, mungkin Tuan tak pernah sempat mengenal pesimisme ‘demokrasi’ dari pandangan Plato atau Al-Ghazali. Saya juga bodoh dan asing dari Plato maupun Ghazali. Saya hanya merasa risau jika reproduksi nilai-nilai agama, yang kadang dimanifestasikan dalam item-item yang efektifitas moralnya masih dapat selalu dipertanyakan—seperti SMS-SMS bermuatan ajaran kitab suci—ditentukan titik-tekan-produksinya semata-mata oleh seberapa besar keuntungan yang mampu diraup oleh satu perusahaan telekomunikasi.
…
Saya juga risih nama-Nya diedarkan bersama harga sebuah kaset; atau beriringan dengan animo khalayak untuk tampil dengan ‘saleh’ melalui konsumsi tren pakaian lebaran atau nada tunggu lagu pop yang disana-sini dibumbui lirik berbahasa Arab. Petuah-petuah dan tuntunan hidup dibawakan di sela-sela deret commercial-break.
…
Kebijaksanaan dan kesalehan, tidakkah ia hasil pergulatan keringat manusia nyata dan tak tergantikan melalui jargon atau slogan apapun, Tuan? Meskipun ia menjejalkan, dalam dirinya, nama-nama Tuhan?
…
Sekarang mari kita lanjutkan sajalah semua hiruk-pikuk relijius ini dengan psikologi keterlanjuran. Kepalang basah; kontrak telah diteken—dan mungkin akan selalu diremajakan. Ayat-ayat Anda, fatwa, penghiburan dan peneguhan—well, bukan milik Anda, sebenarnya—sedang menunggu akses dari masyarakat yang butuh pelipur lara, melalui sebuah pesan pendek seharga dua ribu. Dua ribu, seharga seliter beras paling buluk. Tapi Tuan mungkin jarang main ke Pasar Induk.
…
Rasul dan para Nabi tak pernah memperdagangkan dakwahnya dalam kehalusan bentuk apapun, Tuan. Dan Muhammad—dimuliakanlah namanya dalam sejahtera Tuhan—hidup sederhana, bahkan begitu miskin sampai Beliau menjahit kasut dan pakaian dengan tangannya sendiri. Asketisme para pengemban dakwah keagamaan di masa-masa lalu, suatu sikap menjaga jarak dari kekuasaan dan kekayaan kebendaan, termasuk di dalamnya sikap berhati-hati untuk tak dilibatkan maupun melibatkan diri terlalu jauh dalam proses mencari keuntungan, barangkali memang sudah jadi pilihan yang tak
relevan di jaman marketing ini. Negeri bernama Amerika pernah mengenal seorang pendeta karismatik keturunan Korea, Mr. Moon—yang acara televisinya digemari jutaan pemirsa—sampai ia mampu hidup super-luks di atas yacht. Dan di Indonesia seorang komentator acara kontes-menghafal-teks-relijius bagi anak-anak, sampai hati berkata, “Satu saat, Nak, penampilanmu menasihati orang banyak akan membawamu hidup makmur dengan rumah dan mobil mewah…”.
…
Dan perempuan bukan donat, Tuan. Begitulah yang pernah Anda ibaratkan di satu sesi: bahwa pakaian perempuan ibarat plastik donat dan dengan demikian menghindarkan ‘tangan-tangan yang hendak mencolek, mencicipi tanpa membeli’. Ibu saya bahkan sampai mengucapkan satu kata memaki yang merujuk pada alat kelamin laki-laki ketika tanpa sengaja mendengar perumpamaan tadi.
…
Tapi tak apa.
…
Setidaknya sisi baiknya ialah saya jadi bertambah mengerti bahwa bagi Tuan isi bukanlah segalanya; tak lebih penting ketimbang performa Tuan di hadapan lampu studio dan rolling camera.
…
Tuan Gym, Ilham dan Buchori, dan juga Tuan Mansur, akhir kata, saya hanya hendak minta maaf atas kata-kata saya yang sombong. Orang sombong memang tak bisa masuk surga. Maka saya kelak plesir di neraka.
(Mungkin nanti saya akan gembira bertemu Pak Ali Sadikin yang mau berkorban masuk neraka demi niat taktis beliau untuk melegalkan perjudian di Jakarta)
…
Tapi Tuhan senantiasa Maha Besar, Tuan. Selebar apapun, mulut tak akan mampu memuat nama-Nya. Bisa jadi, jangan-jangan kesombongan justru adalah satu suasana batin ketika kita merasa seolah menguasai seni mengubah jiwa manusia lewat industri persuasi dangkal yang dibiayai kekuatan-kekuatan modal.
…
O, Tuan jangan mimpi mengubah dunia dengan cara demikian. Jangan terlalu mencemaskan bumi.
…
Di luar sana tetap tersisa manusia-manusia jujur yang menolak tunduk pada kaidah-kaidah pemasaran. Masih banyak kustodian pencerahan, tempat kita bisa menitip harapan. Masih ada Nadjib. Masih ada Sobary.
…
Lebih dari itu, masih ada sejumlah anak muda sebaya Tuan-Tuan, orang-orang ‘sinting’ tanpa pamrih yang mau bersusah-payah mengimani dan mengamalkan fungsi profetik keagamaan asali yang sejatinya memang untuk membebaskan nasib manusia dari kemiskinan, kebodohan dan pemusnahan diri.
…
Dan bukan sekadar bicara.
…
Tak cuma menasihati ‘kebersihan sebagian dari iman’, mereka naik-turun gunung mengangkuti sampah-sampah non-organik.
…
Tak cuma menghapalkan ayat ‘perbedaan ialah rahmat’, mereka menggalang dialog lintas-iman dan mencoba menghargai keyakinan orang lain. Tak cuma khotbah soal ‘Tuhan tak mengubah nasib satu kaum’, mereka berwirausaha di atas kaki sendiri; sebagian rela belajar membangun sistem untuk mengalirkan kredit mikro bagi pengusaha kecil sambil giat melawan penjajahan oleh pasar-bebas.
…
Tak cuma menyitir serampangan hadis ‘carilah ilmu ke negeri Cina’, mereka masuk hutan dan menyeberang ke pulau terpencil, memasabodohkan penghasilan kantoran senilai 7-8 juta rupiah sebulan sebagai seorang sarjana, untuk memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak komunitas terisolir tanpa gaji yang pasti. Tak cuma mengancami orang soal ‘celakalah mereka yang membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menanam pohon dan memperjuangkan Protokol Kyoto.
…
Mereka memang bukan pahlawan, Tuan. Jaman edan tak perlu lagi pahlawan-pahlawan, tapi butuh orang biasa yang peduli. Saya pun tahu Tuan juga pernah dan akan mewujudkan beberapa dari tindakan-tindakan nyata tersebut. Saya tak bermaksud menyebutkannya karena memuja mereka, atau menyisihkan Anda. Bukan itu. Melainkan, untuk memberikan garis-batas-besar antara apa yang mereka buat dengan apa yang anda lakukan. Garis itu ialah: modal tak jadi tempat menghamba; Tuhan dan agama tak berbusa di mulut mereka.
Well, jika Tuan-Tuan hendak berpetuah ‘kita tak boleh menjelek-jelekkan orang lain karena bisa saja orang lain lebih baik dari kita…’—ijinkan sedikit saya luruskan: Anda bukan Nabi, Tuan. Saya tak berdarah Quraisy. Saya jelas hanya orang biasa yang begitu sumpek, dengan asam lambung bergolak, menyaksikan wajah-wajah ber-make-up Tuan di layar kaca; amat sumpek hingga saya berharap dan percaya satu saat bila kesadaran batin dan kualitas hidup jasmaniah di masyarakat saya mengalami derajat peningkatan, Tuan-Tuan tak akan laku lagi untuk dikonsumsi.
…
Then you all shall enjoy your bench, Preachers.
…
Selamat makan; selamat berbelanja.
…
6 Comments »

Toean-Toean dan Njonjah-Njonjah Jang Terhormat,
berhoeboeng beras semangkin mahal djoega semangkin langka, ada baeknja orang pendoedoek Batavia koerangken itoe portie makan nasinja sampe separohnja, soepaja achirnja keboetoehan beras karesidenan itoengannja djoega soesoet djadi separoh.
Atawa djangan tjoema makan nasi toch ada roeti sama tela poe’oen atawa oebi jang djoealnja moerah. Asal djangan pada makan Indomih soalnja Oom Soesoei Liong pan soedah kajaraja (tapi oetangnja misih banjak sama Gopernemen, olala…).
Demikian maka Gopernemen kaga boetoeh itoe import beras dari Siem. Djadi petani-petani di Djawa kaga perloe poejeng-poejeng. Tjoekong-tjoekong beras djoega bakal kaga banjak dapetin itoe oentoeng disebabken beras kaga djadi langka.
Tjoekoep segitoe sadja pengoemoemannja.
Boeat orang Slam, slamet mendjalanken poeasa.
ttd Opas Beras Gopernemen Mr. Tjoklat Van Houten
3 Comments »
(So, this time I’d like to tell u some ngalor-ngidul things belaka…)
…
…
Menyenangkan sekali mengetahui kesukaan-kesukaan sepele orang lain.
Saya dan pacar saya sudah cukup lama bikin deal memberi porsi lebih di diri kita masing-masing untuk memerhatikan kesukaan orang yang kadang aneh-aneh dan ngga masuk akal. Pemicunya ialah buku-buku bekas cetakan kuno tentang psikologi-strukturalis karangan ahli-ahli jiwa postmo yang kami bacai beberapa tahun lalu (lu kaga ngarti soal ‘psikologi-strukturalis—ahli jiwa postmo’, khan…; sama dong. Gue juga pake istilah itu cuma buat begaya doang kok…).
…
Maka kami sejak dulu jadi sering saling melaporkan tentang hobi aneh si ini yang begini dan si itu yang begitu. Apalagi, sejak pacar saya pindah tugas ke Pare-Pare dan berarti ongkos komunikasi jadi membengkak, kami bersyukur punya bahan rumpian tambahan yang betul-betul refreshing dan berguna ketimbang ngomongin soal negara. Biasanya ujung-ujungnya kami bikin sedikit komentar atas kesukaan orang itu, merujuk pada teori-teori kompleks yang ada di buku—tapi tetap saja lebih seringnya sih asal njeplak saja.
…
Terakhir tadi, dia melaporkan kawan kantornya yang suka berbudaya show off, pakai cincin emas berat di empat-lima jari (yang bikin saya teringat anekdot usang tentang Tante Girang Bercincin & Tukang Duren Bergigi Emas; yang saya yakin Anda pasti pernah dengar ceritanya…). Komentar saya yang pada dasarnya husnudzan (caelah…mualaf, gituloh…): si kawan itu memakai semua perhiasannya karena kunci lemari di rumahnya sedang rusak.
…
Saya balas melaporkan tentang mama saya di bulan puasa yang punya hobi baru: memotong sayur tertentu sambil dengar MP3 hip-hop punya keponakannya (aneh khan kalau nenek-nenek dengerin musik macam BlackEyedPeas…). Kenapa sayur tertentu? Karena, kata mama, mengiris daun bawang, kangkung atau seledri ngga ada hentakannya: hanya kres—kres—kres. Lain dengan memotong labu siam atau wortel. Bisa jedok—jedok—jedok. Lebih nge-beat dan berperforma. Karena itu jika kebetulan Anda mampir ke rumah saya berbarengan mama memasak untuk buka puasa, Anda bisa saksikan secara live nenek lincah pemasak sop yang giat memotong kentang dan dengan mantapnya menyesuaikan gerakan mengikuti irama Where Is The Love. Pacar saya kasih komentar: wah, bahaya; jangan sampai mama sempat baca iklan fitness center yang buka kelas ngebor. Dasar calon mantu kurang ajar… .
…
Si Demi, kawan saya, sejak lahir hobi baca koran sambil—maaf—be’ol. Jadi kalau Anda menginap di rumahnya, bersabarlah menunggu giliran mandi. Setelah 14 jam tidur, pagi-pagi dihabiskannya 2 jam lagi di kamar mandi. Kalau digesa, ‘Woi, lama banget sih luh…beranak kali lu ye di dalem situ..!?—dia akan dengan santainya jawab, “Entar, masih bersambung halaman 11…”. Walhasil, sebagai pewirausaha, waktunya hanya tersisa 8 jam sehari buat menyalip dan mengalahkan imperium bisnis orang Cina.
…
Di bulan puasa ini adik sepupu saya dilanda euforia mengaji. Tiap usai berbuka dan shalat magrib dia mengaji terus hingga masuk waktu tarawih. Setelah beberapa kali mengulang rutinitas yang sama, saya dan orang serumah baru tahu ada yang janggal: tiap mengaji, ibu jari kaki kirinya tremor, bergoyang-goyang terus. Berkali-kali saya sudah koreksi secara lisan sikapnya itu, sebab saya pikir sikap mengaji yang baik ialah sikap yang tenang dan khusuk. Kadang saking gregetan-nya jempol itu saya ringkus. Jurus Judo saya sampai keluar semua. Namun dasar ndableg, ia tetap tak peduli dan malah pasang pledoi, “Aku nyaman begini kok… Tuhan aja ngga protes kok elu rese’… .
…
Wah, kalau sudah minta backing Tuhan—ampun, deh…gue nyerah.
…
Lagipula belakangan saya menduga jangan-jangan ada hubungan kausal antara kualitas mengaji dan goyang jempolnya. Jika jempolnya saya tangkap, tajwid dan nada mengajinya mulai agak kacau. Dus saya biarkan ia dan jempolnya berbahagia agar kualitas mengajinya tetap prima. Dan pacar saya berkomentar (sok pinter banget nadanya…): ada kecemasan kronis yang tertanam di bawah sadar. Saya mah kalem saja; menerapkan hak untuk tak berkomentar.
…
Kembali ke perihal per-be’ol-an, si Mang Encim lain lagi. Dia seorang konstruktor langganan yang berkali-kali memugar rumah saya (sudah saya bilang kalau saya ini memang berhati lembut, makanya saya kurang sreg menyebut ‘abang tukang bangunan’…). Dia suka—sekali lagi maaf—be’ol sambil merokok. Memang sih, banyak perokok yang punya sugesti bahwa si tinja ogah mrucut tanpa disambi ngudut. Tapi Mang Encim punya sesuatu yang lebih estetik dari sekadar sugesti.
…
Diceritakanlah bahwa kebiasaannya itu dimulai sejak ia kecil di kampungnya di Ciseeng. Jamban di rumahnya non-permanen. Atapnya dari material murah yang tak bisa rapat. Karenanya di pagi hari—saat paling afdol untuk menuntaskan tugas manusiawi yang satu itu—dalam jambannya selalu ada berkas-berkas cahaya yang menerabas masuk dari celah-celah atap. Si Encim Kecil dari sumur di luar jamban kerap memerhatikan kepulan asap rokok bapaknya saat si bapak berjuang di dalam sana. Hal itu berlangsung lama sampai saat Mang Encim tumbuh besar, sanggup beli rokok sendiri, lantas bisa meneruskan teladan jamban dari bapaknya.
…
“Kebulna (asapnya) nari-nari, bagus banget. Pas yang kena cahaya, keliatan jelas kaya kapas. Kalo kita gosah (maksudnya mungkin: dikibas), langsung nari-nari meleot (meliuk), pertama mah meleotna cepet-cepet tapi lama-lama jadi anteng. Kalo mau nari dei (lagi) kudu digosah heula (dulu)”.
…
Kira-kira macam itulah kuliah deskripsi estetika yang dia jabarkan ke saya. Setelah saya coba sendiri ternyata koreografi asap ala Encim memang indah. Ngeden, melamun, sambil menonton gerakan aerodinamis asap-asap itu memang jauh lebih estetis dibanding joged dangdut-remix di televisi. Namun bukan tanpa dampak juga, sebenarnya. Ketika eternit di toilet rumah saya tiba-tiba berlubang, saya hampir tak dapat menahan godaan untuk menunjuk Mang Encim sebagai kambing hitam.
…
Pacar saya berkomentar: satu dari leluhur Mang Encim barangkali dalang wayang golek. Saya berkomentar (sok pinter banget juga nadanya…): jika Mang
Encim hidup di Irak pra-penjajahan-Amerika atau di Kuba, mungkin ia akan cukup mengenyam pendidikan dan bisa-bisa bekerja sebagai kurator satu lembaga kesenian yang bergengsi (untuk Anda ketahui, di Irak dan Kuba orang bisa kuliah gratis). Mama saya (ikut-ikutan) berkomentar: biar Encim sering bikin WC jadi bau tapi dia mah rajin, ngga kaya kamu, Dan… seringnya cuma bikin rumah berantakan doang, huh… !
Saya sedih sekali dibilang begitu. Serasa bagai Ari Hanggara.
…
Well, mungkin sampai tua saya dan pacar saya bakal terus memupuk hobi ini. Bahkan satu saat nanti, di perusahaan kami, kami mau menerapkan hobi ini dalam kebijakan personalia. Barangkali dijadikan materi wawancara dalam rekruitmen karyawan baru. Atau, disisipkan sebagai satu kolom isian yang harus dicantumkan oleh para pelamar di dalam riwayat hidupnya. Tujuannya: yah, iseng ‘aja.
…
Khan lumayan. Nanti kami bisa memantau calon-calon karyawan baru yang misalnya terpaksa ‘nulis:
…
Pendidikan: Fakultas Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada (1999-2004)
Hobi Aneh: Mengupil dan mengoleskannya ke bawah meja kepala bagian di kantor saya yang dulu;
atau
Pengalaman Organisasi: Kepala Litbang Pusat Studi Agama-Agama Timur, UCLA
Kegemaran khusus: Memiringkan pinggul sehabis makan salad kol guna meredam bunyi.
…
…
Nah, khan…kalau menulis ngga terasa sekarang sudah jam 17.25.
Wasalam.
5 Comments »
(Tulisan ini khusus untuk orang yang sudah dewasa menurut Burgelijk Wetboek; dan mereka yang rada-rada pernah dengar —syukur-syukur pernah baca— Wardhana atau Jung atau Derrida (syukur-syukur langsung dari teks bahasa aslinya, caelah…) atau minimal pernah rada-rada keki dan gerah menyaksikan semacam hipokrisi kolosal yang rutin melanda negeri tiap Ramadhan tiba)
Penghargaan ialah kebutuhan rohani. Anak kecil kerap kali langsung mengalaminya. Mereka yang dapat nilai bagus dari ibu guru tentu, menurut buku-buku konseling orang tua yang judul awalnya pakai ‘How to bla-bla-bla’, wajib diapresiasi dengan ciuman atau es krim; dengan tujuan mengenalkan sejak dini konsep reward atas usaha si anak.
…
Anak juga wajib dikenalkan pada sikap respek.
…
Di negara saya yang amat berbudaya, sikap menghormati orang lain ialah hal niscaya dan dipercayai sebagai emang udah dari sononya (mau pakai frasa taken for granted, ‘ntar saya dianggap sok intelek, bleh…). Karenanya, jika seorang asing menanyakan sebuah alamat pada warga lokal dengan standar sikap tertentu dibawah yang berlaku, ia bisa dengan mudah menimbulkan kesan tak punya rasa penghargaan.
…
Kawan saya si KTR, mantan pekerja teater lokal, dulu pernah bertingkah sedeng. Waktu ditanyai alamat oleh orang bermobil plat luar kota yang dengan pongahnya masih duduk di balik setir dengan mesin menyala, KTR mendadak sengaja (belagak) gagu.
…
“Hawwawa’eheee’ok, haiyaaa…awanyamnyam… .Ewok whiwhi eyus eyu hwawwaaaaang, howak…“, jawab dia sambil pasang ekspresi yang samasekali ngga signifikan.
…
Saya kira lutut si penanya saat itu jadi mendadak kelu. Salah tingkah berat. Mau marah jelas ngga bisa, mau buruan cabut ‘ntar dikira menghina. Pokoknya ribet-lah. Membayangkan mimik orang itu, barangkali isi pikirannya cuma bagaimana caranya menyela celotehan-celotehan gila itu dan pergi secepat mungkin. Saat kesempatan itu tiba, seusai bilang ‘makasih secara kilat pasti mobilnya sekonyong-konyong melesat tanpa sempat lagi mendengar si KTR menimpali, “Hwama-hwama, hsyu… . Huch-huch hotaheee, khwireeek”.
…
***
…
Indonesia bulan Ramadhan ialah tempat yang amat mengakomodir rasa hormat. Gereja, vihara dan kelentheng (yang kemudian dicontek oleh parpol-parpol dan calon-calon bupati) memasang spanduk pesan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’. Presenter-presenter televisi mendadak ramai-ramai beli kain ke Tanah Abang yang baru buka pasca-kebakaran-buatan buat memodifikasi kostum mereka sehari-hari yang kata para pendakwa (tanpa huruf ‘h’) selalu untuk 11 bulan lainnya kekurangan bahan. Warung-warung makan diberi tirai. Hotel-hotel melati jadi kerap dirazia petugas. Semua dilakukan oleh baik Muslim atau bukan, untuk menghormati Muslim yang beribadah puasa.
…
Kawan yang Muslim maupun dari agama lain dalam adaptasi demikian mungkin punya alur pemikiran begini: saya ngga mau merusak kualitas ibadah kawan Muslim; saya ingin menghindari hal-hal yang potensial jadi godaan lahir untuk yang berpuasa. Dasarnya mungkin toleransi dan solidaritas sosial.
…
(Itu sah sekali dan memang perlu. Di momentum lain umat selain Hindu juga perlu untuk tidak memasang tape keras-keras di Hari Nyepi apalagi kalau lagunya’ SMS’ versi Yopie Latul (ancur berat ni lagu, coba lu simak ‘ndiri).
Umat non-Katholik tak patut melirik-lirik sambil ‘ngikik atau malah sok menawari tisu basah saat Rabu Abu.
Dan bila ada jemaat hendak membangun tempat ibadah, tentunya diperlukan juga rasa toleran yang mumpuni untuk berbesar hati mengijinkan hal itu terlaksana ketimbang alih-alih curiga terlalu dini dengan pasang teori-teori kependudukan, yang mati-matian diperjuangkan sampai jadi klausul dalam Undang-Undang—sebab tak semua lembaga umat minoritas mengusung agenda konversionis, Ikhwan-ku tersayang… . Tak harus gara-gara metanol setitik rusak vodka sebelanga, kata nenek saya.
Maaf, analogi tadi cuma becanda)
…
Well, semua respect tersebut berlaku dalam konteks sosial. Lengkap pula dengan sanksi-sanksi sosial; antara lain berupa celotehan gagu si gila tadi (hehehe, sorry, Kun…kowe ora edhan kok, mung rodho kenthir…).
Anda yang mau cuek makan es krim atau merokok di tempat umum saat puasa mungkin harus siap mental buat dilirik sinis atau di-dehem-dehemin orang
…
(asal jangan cuek merokok di Kantor Walikota Jakarta Selatan lho; swear deh, di situ mah belaka tongkrongan Tramtib. Bukan cuman didehemin tapi positif Anda bakal ke-tilang goban!).
Pokoknya tak ada masalah, karena inilah Indonesia: tempat dimana ‘agama’ masih jadi kenyataan sosial yang memengaruhi skala-nilai kehidupan keseharian warganya.
…
Dalam konteks umum sikap hormat memang tak masalah. Meskipun memang muncul indikasi ‘patologis’, hal tersebut masih bisa diterima. Hipokrisi massal adalah hal umum di seluruh dunia, bukankah adanya demikian?
…
(No problem andaipun ada segolongan minoritas menyimpan pesan ketidaktulusan tersembunyi ‘hormati kami juga di hari lain, wahai mayoritas… ‘.
Atau, mungkin saja TV menyimpan pesan: berhubung kami panen besar it’s okay-lah kami turuti konsensus Ramadhan. Toch kami cukup akrab dengan teknik make up dan seni peran. Ini bisnis trilyunan, Bung… .
…
Big money’s worth to our annual efforts of fascilitating people’s self-forgiveness and mass-hysteria due to their religious-guilty-feelings they’ve accumulatively got by running their daily life, fool. We’re the good guys for ‘rate’ sake!
…
Aparat susila seperti berpesan: kalau mau indehoy tolong cari jablay mahal di hotel bintang banyak, jangan ke Prumpung doang dong, Tuan.
…
Wajar bila Mbak Seh, penjaga satu warung Tegal di Rawajati, ngedumel karena ia jadi repot bongkar-pasang tirai yang fungsi awalnya memang buat menyekat bilik kamarnya dari pandangan anak-anak supaya dia bisa bercampur dengan suami tercinta tanpa terpublikasi (maka sebulan ini terpaksa tiap malam syahdu tertentu dia membentang-bentang rafia dulu sebelum membentang-bentang tungkai. Waktu saya sarankan agar beli tirai baru lagi saja, dia malah sewot pakai dialek betawi campur ngapak, “Emange pakek dhuwit nenek loh…!”
Wah, lagi-lagi nenek saya dibawa-bawa…))
…
***
…
Konteks sosial tentu lain samasekali dari konteks privat. Dalam konteks privat ini ada yang lumayan jadi masalah.
…
Muslim sejak awal telah diwanti-wanti untuk memahami kekhususan puasa dari segi peribadatan: ia adalah ibadat yang murni, intim dan pribadi dalam pengetahuan Tuhan; dan semata hanya demi mencari perkenan-Nya. Tak ada ayat satupun dalam Kitab yang meninggikan derajat perkenan-Nya jika ibadat puasa dilakukan berjamaah, bersama-sama, seperti dalam ibadat shalat, misalnya.
…
(Maka bagaimana mungkin ibadat ini dibingkai dalam politik ‘kami-kalian’; lantas dirumuskan menjadi simbol laku atau identitas sosial yang mensyaratkan penghormatan dan penghargaan pihak lain, sehingga seolah sang ‘kami’ lebih dahulu meminta reward duniawi atas ibadat yang bahkan belum tuntas dikerjakan?)
…
Sebuah bulan qomariah dalam tahun lunar memang disucikan dan ditinggikan dari yang lain. Sayangnya, mungkin, dalam interpretasi lanjutan dari manusia modern Indonesia bulan baik itu justru jatuh menjadi gegap-gempita produk tontonan mutakhir, parade kesantunan maupun toleransi yang tak alami dan bahkan, semoga tidak, jadi ajang politis dari pihak-pihak penghasut sentimen agama untuk mengibarkan tuntutan moral agar seluruh dunia mau ‘menghormati’ bulan puasa menurut cara-cara yang mereka tentukan sendiri parameternya.
…
Secara pribadi di diri saya timbul beragam gugatan. Sebagai pemegang KTP Muslim saya hanya ingin tanya khusus kepada Anda sesama Muslim: apakah Anda pernah sudi mendalami hakikat ibadat puasa dalam konteksnya yang bersifat privat dan intim?
…
Barangkali, jika ada kesadaran relijius dalam hal itu, Anda tak akan ambil peduli berlebihan terhadap sikap orang lain yang kebetulan tidak menjalankan ritual berpuasa. Biar orang merokok atau makan enak atau pakai bikini atau malah bercinta terang-terangan di hidung Anda, tentu Anda don’t give a damn about that karena yang suci, yang menjadi kesalehan pribadi, selalu terjaga dan terkunci hanya antara Dia dan Anda.
…
Jika orang yang menjalankan ibadat puasa meminta (atau malah memaksa(?)) dihormati, apakah ia tak terdengar macam: “Hoi, gue lagi ngejalanin perintah tuhan gue nih; elo hormatin gue, dong…orang gue disuruh tuhan masa’ elo mau nantang, seh…?”
…
(selalu saja, Tuhan dicatut dan di-fait-accomply… . Shame on u, dude… .)
…
Orang saleh sungguhan menurut nenek saya ialah orang yang tak punya konsep respect dan reward dalam tiga cara:
…
ia tak meminta penghargaan dan penghormatan dari dunia jin atau manusia untuk laku-laku serta pelayanan-pelayanan yang sejak dari niatnya memang ia tujukan hanya untuk dan dalam nama Tuhan;
…
ia, seperti dalam tingkat pencapaian sufi perempuan al-Adawiyah, bahkan tak meminta perkenan-perkenan seperti pahala atau surga bahkan dari hadirat Tuhan sendiri;
…
ia (ini yang nenek saya tekankan sungguh-sungguh), adalah orang low profile yang kritis pada dirinya sendiri dan menjaga jangan sampai terjerumus merasa sok dekat dengan Dia hingga merasa berhak mengambil peran mengatur sikap sang ‘kalian’; atau dengan kata lain, ia senantiasa beriman pada kenisbian manusiawi bahwa ‘…susah sungguh, mengingat-Mu penuh seluruh…’ (satu kali di masa remajanya beliau pernah naksir Anwar, maklumlah…).
…
***
…
Kemarin di TV kabel siang-siang saya nonton Paris Hilton bersama nenek. “Nyanyi aa ko? Indak ado lamak-lamaknyo bana. Ondeee…”, celetuk beliau, mengomentari televisi.
(Indonesianya: lagu apaan sih ini, ngga merdu banget)
…
Saya jawab, ini klip yang mensubsidi nilai puasa dan kesalehan kita dengan additional seduction, Nek.
…
“Muke lo ngga signifikan… ! Ganti-ganti-ah, nonton Dorce ‘aja”.
…
Daripada berisik, saya cari Dorce, acara favoritnya, tapi ngga ketemu. Acara-acara jam itu jelek semua. Jadi akhirnya TV-lah yang menonton kita ‘ngobrol tentang hal-hal seperti yang saya tulis di blog ini secara amat goblok.
…
Saya sempat tanya, kalau saya rajin menulis hal-hal kritikal tentang krisis kesalehan, apakah itu tandanya saya sedang berusaha jadi anak saleh, Nek?
…
Beliau menjawab tandas, “Sampai kiamat ala (sudah) takdir-nyo kau indak bakal jadi anak Saleh, kau cucu-nyo…”.
…
Selanjutnya kita berbincang lama tentang RUU-AP (bukan RUU-APP lho…catet…), pohon rambutan di halaman yang telat berbuah, wajah Condy Rice yang mirip Bibi Kus bekas pembantu rumah tangga terbaik kita jaman dulu dan tentang rencana resepsi perkawinan kakak saya; ngabuburit menunggu waktu beduk Magrib yang demi Einstein terasa sungguh amat-sangat-lama.
Ps;
barusan paklik Gordon Sumner terdengar di radio, titip pesan: men go crazy in congregations but they only get better one by one.
…
Satu lagi, nama almarhum opa saya: Muhammad Saleh bin Si’un Datuk Rangkayo; asli urang Muara Labuh, Solok.
4 Comments »
Atas pengurangan masa tahanan saya dari 20 tahun menjadi 3 bulan kelak di neraka akibat pemaafan Anda buat saya di bulan Ramadhan ini, saya haturkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya.
Dan jika ada penambahan masa tahanan Anda di sana kelak dari 14 hari menjadi seumur hidup akibat sudi memberi pemaafan buat saya; please, berani sumpah untuk soal ini saya ngga tahu apa-apa… .
Amin, Wasalam.
2 Comments »
This morning 5.40 AM, I saw death. An old fella—beloved father in law of my aunt—died just right in my arms.
Never in my whole life that I see the death this very close and clear. The house was empty. I was all alone with him only.
Since 2.00 AM on, the breathing of that old man turned deeper and harder, sounding kind of periodic shaking liquid within his throat. The expression of his face looked like he’s running out of time—indeed he was. Looked like he tried to solve escaping from…I don’t know—could have been a greater pain.
I had no idea to lighten the burden but to read repetitions verse by verse of the holy book lied just by the bed, murmuring. I didn’t know whether the air-cond turned down my blood heat. A strange temperature. Too strange that in sweat I couldn’t stop shivering. Until then in a last gentle rhyme, it all stopped. I closed his sad eyes.
Pagi tadi, Jumat pukul 05.40 WIB, Soetrisno, lahir 1917, wafat pada usia 88 tahun akibat infeksi organ-organ dalam. Meninggalkan seorang isteri dari perkawinannya yang kedua, 6 orang anak—yang semuanya tiba begitu terlambat—serta belasan cucu. Siang pukul 01.21 WIB beliau dimakamkan secara sederhana, tanpa salvo dan pengungkapan jasa (hal-hal yang tak memadai bagi beliau sebagai sumber motivasi), di TPU Kompleks BBD, Ciganjur, Jakarta Selatan.
Orang tua sederhana yang pernah mengangkat senjata dalam revolusi fisik 1945-1949 di sekitar daerah yang kini terkonversi dalam wilayah Kodam III Siliwangi. Mencatatkan luka tembak di atas tulang belikat pada clash Belanda II. Dipenjarakan selama 11 tahun akibat terdaftar pada satu lembaga afiliasi di bawah partai komunis, dimusnahkan harapannya untuk hidup wajar dan bebas dari prasangka, dijalinkan ke dalam rangkaian nasib pedih yang berkepanjangan bersama seluruh anggota keluarga besarnya, oleh rezim soeharto—Demi Yang Tertinggi tak akan pernah tertulis namanya dalam kapital melalui tangan-tangan saya dan semoga Maha Penyelia membebankan sebesar-besar kehinaan atas jiwanya.
Beliau seorang tua yang selalu menghargai dan mencari pagi dengan siulan, panggilan perkutut dan langkah-langkah tegas di selasar-selasar antara kandang-kandang ayamnya yang acap malas bertelur. Seorang tua yang mengajari saya membuat ketapel dari ranting nangka dan baling-baling dari selongsong biji pohon karet di tepi timur Ciliwung. Beliau pernah menyediakan bagi saya timangan-timangan kecil yang manis. Seorang tua hampir dengan kelembutan bidadari, yang fasih meruntut seluruh silsilah: tentang bangsa-bangsa bersejarah, atau kekerabatan burung-burung; dan tentang leluhur-leluhur bisu di dalam album.
Ciganjur barusan saja gerimis. Gerimis pertama sepanjang bulan-bulan terakhir.
A Dio, Mbah Tris. Sejahteralah.
2 Comments »

…
Satu karakter gangster dalam film Martin Scorsese (dilafalkan: skorsesi) yang telak-telak memarodikan machoism, Good Fellas, beranggapan bahwa keutuhan rumah tangga amat berharga dan wajib dipertahankan. Paulie, si karakter itu, mengetahui anak buahnya selingkuh. Ia melihat peselingkuhan itu sudah berdampak. Suami-istri jadi sama-sama temperamental, anak-anak terbengkalai.
…
Lantas ia menegur anak buah itu supaya lekas membenahi keadaan: laki-laki memang wajar cari hiburan, tapi jangan terbuai. Lepaskan pelan-pelan gundik itu, biar bagaimana perasaan istri dan anak lebih perlu dikelola. Jangan sampai ada perceraian. “Kita bukan binatang”, katanya.
…
Bayangkan; preman yang kesehariannya bekerja lewat praktik-praktik pemerasan dan pengkhianatan ternyata masih menganut nilai-nilai keluarga tradisional—selayaknya penganut tradisi Katholik di Italia umumnya.
…
Barangkali memang cuma hewan di luar fabel yang kowan-kawin muluan. Kucing dan burung onta tak dikenai aturan formal dan material perkawinan (belagak kumpeni banget bahasa gue…).
…
Mereka tak tahu konsep kontrak; tapi entah dalam perkara kesetiaan—sebab ada beberapa spesies yang tak berganti-ganti pasangan. Berhubung saya spesies manusia yang ‘emang bakatnya berlagak sok sempurna, saya pikir kesetiaan hewan tertentu tersebut tak akan lebih dari pola terprogram yang datang dari komposisi kimiawi di otaknya saja. Hormonal belaka, bukan datang dari kesadaran
(sorry, Bro, saya ‘emang bukan anak eksakta; tapi emak saya punya laborat kok, jadi saya bolehlah ‘nebeng
kompetensi ‘dikit…kekeke).
…
Jadi, yang formal-material buat buaya dan anjing mungkin hanya sebatas mereka bisa okay-okay saja kawin kapan saja dengan siapapun dalam sungai tercemar limbah formalin atau di sebelah toko material. Manusia tidak bisa.
…
Selebritas juga manusia. Punya rasa punya hati.
…
Kalau televisi selalu saja menyasar kehidupan perkawinan mereka, bukan Anda atau saya, itu jelas karena faktor nilai jual produksi.
…
Kalau Anda rajin nonton televisi pasti Anda bakal sering-sering menyasar saya buat dinasihati agar jangan demen selingkuh-selingkuh kaya selebritas.
Dan kalau saya menyasar televisi untuk tulisan ini, so pasti karena melaluinya kita dapat belajar banyak tentang rasa dan hati selebritas (selain untuk nonton berita mayat korban ketusuk pisau sama kesabet belati).
(Udah, Dan…serius dong, tai lu ah…)
…
Okay, begini neh:
…
Satu sebab klise dari rusaknya perkawinan tak pelak lagi: perselingkuhan. Andai kita menganggap soal perkawinan sebagai mesin Bajaj maka hal pertama yang wajib dibenahi ialah karburasinya, supaya orang lain tak tahu dan terganggu oleh gas buang. Semua Bajaj yang beroperasi di Jakarta mesinnya memang brengsek. Tapi mengganti Bajaj dengan moda lain yang tak terjamin efisiensi dan kemudahan perawatan mesinnya sama saja dengan menolak perkawinan sebagai sebuah institusi tanpa mau mendalami mekanisme-mekanisme apa saja yang merusaknya. And why the hell do we cheat?
…
Saya pernah selingkuh. Tapi karena belum kawin saya tak berkhianat pada anak-istri, kecuali pada pacar yang luar biasa baik dan tetap penyabar walau sempat minum air tuba dari saya. Terus terang waktu itu saya gatel. Ngga ada ceritanya saya menemukan pribadi menyenangkan di diri sang selingkuhan, enak diajak ngobrol-lah, penuh pengertian bla-bla-bla—semua itu omong kosong untuk kamuflase dari motif seks, seks dan seks. Sampai kini saya cuma yakin motif orang selingkuh ialah lendir.
…
Betapa konyolnya saya bayangkan, andai motif seksual jadi pendorong perselingkuhan yang membuat rusak rumah tangga sampai Anda terpaksa berada di situasi culun antara menyesalkan perkawinan dan mencantumkan kehendak Tuhan untuk keputusan-keputusan yang Anda buat sendiri. Secara linear: saya kawin-> saya gatel-> main mata sama orang-> cerai-> Takdir?
…
Mari kembali ke selebritas dan televisi.
…
Tak seperti mafia, selebritas adalah golongan di masyarakat yang jauh dari kesan jahat. Mereka tak suka menembak orang dan jual narkoba. Paling-paling cuma membintangi iklan produk-produk yang dalam jangka panjang membunuh ratusan ribu orang saja. Mereka sopan dan wangi. Tidak provokatif kaya saya. Kalau saya tak becus membujuk adik perempuan saya rajin baca buku, mereka dengan mudah saja menggerakkan jutaan ibu supaya getol ‘nyalon, belanja dan kirim SMS dua ribuan. Sayangnya mereka adalah agen pemasaran yang buruk dalam soal perkawinan.
…
Televisi memublikasikan kehidupan perkawinan mereka seperti pentas drama. Makin rusak makin bagus. Bad news is good news. Dan orang-orang menyukainya. Orang suka menyaksikan tangis atau pasangan yang bentak-bentakan. Orang suka pergunjingan siapa kawin dengan siapa dan siapa-siapa yang cerai atau bikin rusak perkawinan siapa.
…
Saya tentu tak punya hak sepicis buat melarang kesukaan orang, memang. Saya juga tak mau bilang hal-hal seperti itu bikin kesan perkawinan kurang suci. Jika saya jubir Vatikan sekalipun saya tak yakin otomatis punya otoritas melarang-larang. Infotainment khan pada dasarnya komedi, biarpun ngga lucu. Bagaimana ngga, wong isinya selebritas alim-alim. Suka ke tanah suci. Rekaman wawancara mereka andai di-crop jadi tinggal kalimat-kalimat yang ngga mengandung idiom keagamaan macam Insyaallah, Alhamdulillah, Puji Tuhan dsb—durasinya sisa 50% (dan kalau dikurangi frasa-frasa kaya ‘kembali ke pribadi masing-masing…diserahkan pada Yang Diatas…dsb’, Anda mungkin ngga nonton apa-apa). Tapi biar sealim itu mereka kawin seolah tanpa janji di depan mata Tuhan, lho. Buktinya, cuma berapa tahun berani cerai. Mirip teken-kontrak bikin PT biasa saja, bisa bubar lalu bagi-bagi saham, kadang pakai rebutan di pengadilan. Paradok-nya, ketika cerai—yang sesadar-sadarnya diputuskan sendiri—mereka bilang ini kehendak-Nya. Nah, dari sisi manapun ini lawak.
…
Saya sendiri konsumen infotainment. Waktu senggang saya banyak yang bersinggungan dengan jam tayang acara yang slot-nya merentang dari subuh ke subuh ini. Situasinya kalau kata Iwan Fals, apa boleh buat? Tai kambing bulat-bulat… . Karena acara-acara kesukaan saya ngga ada, terpaksa saya libas juga itu gosip bulat-bulat. Peribahasa India bilang, tak ada rotan raam-pun jabi.
…
Sebagai konsumen saya punya hak ngomong macam-macam, dong.
…
Pertama, saya minta supaya pemilik stasiun-stasiun TV dan PH-PH yang bikin acara-acara komedi yang tak lucu itu mau mengubah format acara ke film semi-dokumenter saja. Dengan sedikit belajar dari National Geographic atau Discovery Channel, pasti dihasilkan film tentang dunia binatang yang jauh lebih
bermutu tayang.
Kedua, saya minta agar dewan di PSSI tidak menunjuk pelatih Timnas dari kalangan selebritas; sebab bikin sinergi dua orang saja mereka kerepotan, apalagi sebelas?
Ketiga, (ini serius nih, cing…) saya mohon negara yang pemerintahannya berdaulat atas udara Indonesia beritikad menghentikan semua pemborosan gila-gilaan ini:
pemborosan energi masyarakat yang men-download fail-fail sampah ngga ada gunanya dari televisi secara amat bebas padahal kita sudah tahu kecepatan prosesor dan kapasitas simpan super-komputer rata-rata di otak masyarakat kita tak sebaik di negara tetangga;
pemborosan duit masyarakat yang mudah saja dipengaruhi dan dibentuk jadi pasar baru industri gaya hidup, barang-barang dan jasa-jasa komplementer; dan
pemborosan waktu produktif.
…
Percayalah, Pak Menteri (gebleg lu, Dan…mane ade baju sapari maen FS…), informasi publik kudu diatur biar ngga chaos kaya sekarang. Coba lu bayangin, Tri, gosip-gosip bisa diakses bebas; padahal mestinya biar saja jadi konsumsi sambil lalu buat orang-orang makmur yang sanggup beli majalah-majalah yang kertasnya mengkilat-mengkilat. Eeeh, sekarang doa-doa sama kalimat-kalimat dari Tuhan yang harusnya bisa bebas diakses semua orang malah diobjekin jadi SMS kodian khusus untuk mereka yang punya ponsel berpulsa… . Oalah, Tri…, po rak yo edhan tenan to kuwi?
***
Lebih dari semua, ada banyak besaran tak terukur selain tenaga, waktu dan uang, Brur.
…
Kembali ke juntrungan di awal cerita, saya merasa sayang jika pencitraan buruk yang berlebih-lebihan atas lembaga perkawinan, parodi-parodi yang hanya menghasilkan duit banyak buat cecunguk-cecunguk industri pertelevisian yang ‘ngumpet di ketiak prinsip kebebasan informasi—yang kadang tak sadar bahwa mereka sendiri tak kurang fanatik-nya pada duit ketimbang pihak seberang yang mereka klaim fanatik pada agama tertentu—dibiarkan berlangsung terus sampai ke tahap merusak rasa percaya orang pada nilai kesetiaan.
…
Saya kuatir kita jadi punya preseden untuk ‘nerobos lampu merah karena kendaraan di depan kita ramai-ramai tancap gas, sedang yang di belakang ‘ngasih support pakai klakson-klaksonnya.
…
Saya pernah ngga setia. Tapi sekarang saya punya kiat buat betulin karburator Bajaj. Bertolak dari keyakinan sederhana bahwa perselingkuhan cuma urusan lendir, tiap saya mau main gila sama orang: saya masturbasi!
(soalnye mana lu mau percaya kalo gue istighfar dan puasa, hai, para saudara…)
Kawan-kawan saya yang sama bego dengan saya (antara lain tentu saja si DMNS) tak sedikit yang setuju efektifitas masturbasi. Biar kata Madonna kek, Britney kek, bahkan Nyai Roro Kidul sendiri yang pasang pose paling semlohay mengangkangi laki-laki brengsek macam Anda sekalipun, kalau memang semen Anda sudah tuntas keluar: taruhan 17 juta perak Anda ngga bakal selera. Bawaannya pingin molor doang ‘aja.
…
Maka, wahai, laki-laki yang beriman…terutama yang berstatus kawin…kalian adalah segmen jender paling beresiko untuk tak setia…jagalah hati…jangan kau nodai…jagalah setiamu dengan masturbasi…bisa pake minyak…atau pake oli…jangan sambil berak…tapi sambil mandi… .
(eh, badan sensor udah dibubarin apa belom, seh…?)
(Orang Jepang dan Belanda pasti bakal fasih membeberkan keuntungan masturbasi karena mereka dikenal sebagai bangsa efisien. Pikir saja; Anda tak perlu biaya hotel, makanan plus minuman suplemen. Bensin mahal lho; kalau Anda jajan tiap weekend, kalikan 52, jumlah itu pasti jauh lebih besar dari PBB Anda dalam satu tahun. Belum jika dilihat keuntungan non-finansialnya. Penyakit berbahaya terhindari. Nama baik terjaga, keluarga inti tenang, keluarga
besar terkesima. Anda tak harus menempuh resiko jatuh malu karena kepergok check-in. Dan Anda terhindar dari sanksi sosial paling mengerikan yang biasa diterapkan untuk pasangan selingkuh: diarak bugil keliling kampung! Hiiiiy, sereeem…! Bisa masuk angin… .)
***
Mendingan sekarang daripada kita demo dan marah-marah saja, lebih baik mengkhayalkan yang baik-baik.
…
Dari obrolan kawan-kawan sesama pasien mental Ghrasia (si DMNS ketua kelasnya), didapat satu ide untuk menggalakkan masturbasi. Yaitu dengan persuasi massif menggunakan media. Temanya ‘Kesetiaan Antar Pasangan Adalah Tonggak Bagi Rasa Percaya Antar Warga Bangsa’. Busyeeet, mantap, Bro… .
…
Kelak kami akan mencetak jutaan selebaran, kaos u can c, spanduk, baliho, umbul-umbul dan pasang iklan di koran-koran. Dan kami merilis iklan layanan masyarakat di televisi juga tentunya. Akan kita data itu selebritas-selebritas tukang selingkuh-kawin-cerai yang sempat jadi headline infotainment; dipaksa jadi bintangnya tanpa fee sebagai bentuk kompensasi mereka yang sudah memberi panutan ketidaksetiaan pada banyak orang. Harus mau. Kalo ‘ngga, diarak bugil… .
…
Lantas dananya dari mana; khan pemerintah ngga punya duit?
…
O, tentu saja dari mafia, dong. Selain mafia betulan macam si Paulie yang jualan narkoba, kami khan juga punya data-data akurat cecunguk-cecunguk mana saja yang mainan TV berikut penghasilan bersih mereka setelah menggelapkan pajak. Kami palak 2,5 persen ‘aja, kaya zakat. Ngga usah banyak-banyak. Itung-itung sebagai kompensasi juga buat masyarakat.
…
Dan nanti salah satu seri coming-soon iklan kami di TV bunyinya begini, “Masturbasi…, Anda tak pernah tahu…berapa kali masturbasi menyelamatkan jiwa Anda…”.
…
Jadi, Anda-Anda mau ‘nyumbang khan…, Tik, mBang, Tut, Tom…????
…
…
(kekeke…, udah ah, gue
mau cari duit…)
2 Comments »
(Tulisan ini saya tujukan buat Anda yang sedang bokek-pailit dan Anda yang pakai sabuk bom dan Anda yang ngga lulus UAN dan Anda yang putus cinta juga Anda yang doyan shabu-shabu paket hemat gobanan)
Anda pernah ingin bunuh diri?
Saya pernah—dulu sekali waktu SMA. Saya pernah ingin menembak kerongkongan saya pakai revolver ilegal milik bapak, dengan alasan bosan menemui dunia, yang masih saya anggap melulu brengsek, sebelum akhirnya saya ketahui belakangan ia punya banyak sekali keajaiban.
Dulu itu sebenarnya saya diselamatkan Aa’ Gym… . Waktu laras itu sudah masuk mulut, beliau datang dan bilang, “Hayoo, mau bunuh diri, khan? Betul, tidak? Betul, tidak?”
Jarang ada orang tahu persis maksud perbuatan saya, makanya saya kaget. Apalagi, dasarnya doyan dilempari pertanyaan, saya jadi terpancing belagu, sok-sokan akademis, pingin tahu apa itu hakikat tindak bunuh diri sebetulnya. Lantas saya jadi lumayan sibuk cari referensi ke Bibel dan Quran; ke biografi Van Gogh, Perang Puputan, sampai UU Lalulintas (karena saya pikir peraturan ini melarang keras orang yang suka ‘ngebut tapi emoh pakai helm agar bisa bunuh
diri di jalan raya). Cukup sibuk hingga saya lupa mau cepat-cepat mati, dan
malah awet hidup sampai sekarang. Maaf ‘nglantur.
Semua agama kitab punya ayat-ayat yang mengutuki tindak bunuh diri. Tuhan sebagai pemberi hidup saja yang pegang kewenangan mutlak menetapkan
kematian, lain tidak. Saya setuju sekali. Maka saya kutuki kalian-kalian, hei, yang mau mati sebelum bayar utang ke saya. Maaf ‘nglantur lagi.
Namun memang selalu ada keindahan tragikal di tindakan satu itu. Ada semacam penegasan kedaulatanyang heroik; bahwa dengan sadar orang menerapkan hak memilih sendiri untuk mengakhiri eksistensinya. Saya juga setuju sekali.
Dalam Dead Poets Society dilukiskan detik-detik sebelum Neil mencontek bekas calon perbuatan saya: menembak diri. Malam terakhir itu hening. Angin pelan, memperdengarkan bunyi-bunyian langkah dan detak-detak jam. Seorang
pemikir besar dari Prusia bahkan menamai setting menjelang kematian seperti itu—saat-saat ‘Keheningan Agung’—saking indahnya.
Ada kesadaran yang amat jernih di diri Neil di malam itu. Ia melepas seluruh pakaiannya dalam gerak lambat, bergeming tegak di jendela yang dibukanya untuk menarik nafas dari udara luar, lalu mengenakan sebentar mahkota Puck-nya buat terakhir kali sebelum menuruni anak tangga. Ia memasuki ruang kerja ayahnya, dan hidupnya selesai.
Mungkin jiwa manusiawi di dalam diri Neil mengatakan makna hidup tak dapat ditemukan ulang setelah yang lama dihancurkan. Hasrat batinnya—yang sejak lahir diperjanjikan bahkan oleh Tuhan sendiri untuk merdeka—telah dipatahkan dan disabotase secara kejam oleh kediktatoran sang ayah. Dan itulah lantas yang diperbuatnya. Ia wujudkan kemerdekaan diri ke dalam tindakan; seolah bilang, “Saya berkuasa penuh, berhak penuh”. Hanya sayangnya Neil tak pernah bisa kembali untuk mengenyam hak yang sudah tegas-tegas ia nyatakan.
Saya pikir dua motif manusiawi terbesar pelaku bunuh diri ialah pembalasan rasa sakit dan ketiadaan harapan; satu-satu maupun sekaligus, atau kombinasi satu melengkapi yang lain. Orang yang memandang nilai tertinggi hidup satu-satunya terletak di diri seorang perempuan yang disayangi tapi menolak cintanya akan senang hati minum Hit (modal sedikit kek, masa mau mati ‘aja pakai barang gratisan); yang memuja keeratan ordo rela mati sama-sama; yang mengagungkan keksatriaan dalam pengabdian entah kepada leluhur, klan, bangsa atau ‘agama’-nya yang diinjak-injak pasti bersedia mengorbankan nyawanya. Semua dilakukan dalam keadaan sakit dan tak ada harap.
Tapi bukankah dalam melaksanakan tindak itu mereka menyisipkan setidaknya sedikit harapan? Bahwa akan ada itikad lebih berlaku adil di diri sang tiran, kata para pembajak United Airlines. Sukardal, seorang tukang becak yang puluhan tahun silam ditemukan menggantung diri di sebuah pohon di Bandung, mungkin saja berharap satu saat Tibum yang sehari sebelumnya merazia dan merampas becaknya—satu-satunya alat pencaharian bapak malang itu—bisa menyesali kebijakan kotapraja yang tak bijak-bijak amat itu. Bukankah itu juga bentuk harapan?
Jika Anda bertanya retorik demikian saya kuatir tak bisa jawab disamping tak harus jawab.
Mungkin bagi saya sendiri berharap berarti mau gigih mencari semua kemungkinan menemukan makna-makna hidup di luar apa yang telah kita
yakini tapi dihilangkan atau direbut paksa dari diri kita. Jikapun saya cuma bisa
percaya bahwa biarpun sejak dulu mau diapain juga dunia ngga bakal berubah baik, saya tetap harus berbuat sesuatu, nonetheless, begitu kata almarhum bapak saya (biar gebleg ternyata bapak saya bole juga.’ngasih petuah…). Skeptisisme barangkali wujud tak sadar dari kemalasan dan kebobrokan cara berpikir.
Wojtyla, bapak mulia itu, mewanti-wanti supaya jangan takut berharap di tengah dunia yang kita huni ini, yang memang kebetulan tempat terbaik untuk putus asa. Kian hari bakal makin banyak orang menemukan alasan berputus
asa jika keadaan serta cara dunia dan manusia bekerja masih bertahan sama seperti yang lalu-lalu, kata beliau (dan beliau tak ada sekalipun terhadap pihak
sesinikal apapun mengecap kata ‘dosa’…).
Jika saya sekularisasikan ajakan beliau tersebut: u gotta keep ur guts, dude. Maybe u can’t change the world, yet as long as u’re alive u may at least keep on tryin’. Itulah martabat dan kehormatan manusia dalam pengertian saya yang sederhana. Juga dalam pengertian kawan SMA saya yang pernah dalam satu malam menangguk 4 juta perak dari satu koin senilai goceng.
Alkisah, dia hobi berat judi mesin di Grogol. Di saat matanya sudah lebam runyam akibat begadang 2 malam berurut ditambah efek Cap Rajawali yang botolnya baris di kap mesin, dia mau menyerah pulang. Tapi seekor setan di sisinya (bukan saya lho, sumpah…) berbisik, “Udeh, ‘nanggung lu cabut, pake aje dulu tu biji, emang lu pengen kerokan ape di rume?”
Dus masuklah itu koin ke slot. Putar punya putar, 10 detik kemudian 200 keping koin berhamburan keluar kaya bubaran anak SD dari tudung output,
sampai dia kelabakan ‘mungutnya. Tentu kantuk raib sekejap kalau sudah begitu. Lantas dia pindah ke blackjack buat menambahi lagi sejumlah 3 juta ke kantongnya hanya dalam 25 menit. Setelah saya ingatkan besok hari Minggu dan berarti harus ke gereja (alim khan saya…), baru dia angkat pantat, pulang dan tidur sambil senyum-senyum bahagia.
Moral dari cerita ini adalah: legalkan perjudian (lho…salah, ya…?)
Maaf, maksud saya, selalu ada peluang yang kita tak pernah ketahui untuk, menyitir Anwar, “Berjaga terus di garis batas pernyataan dan impian”.
Pernyataan adalah hidup kita sendiri, saya rasa.
Manusia lahir dengan melewati peluang matematis yang tipis untuk tetap bertahan hidup hingga detik ini: debu kosmik yang dibangkitkan jadi senyawa protein hayati; satu sel lendir beruntung dari jutaan di sperma; karena itu ia layak dijaga. Coba temukan prinsip ini dalam novel-novel pasarannya Gaarder. Ia begitu memuja matematika-peluang atas hidup, menceritakannya dengan cara yang mudah dimengerti.
Impian ialah harapan, tak lain.
Bermain-main dalam batas antara keduanya, ‘berjaga’, saya rasa sangat menyenangkan—satu seni berkelas tingkat tinggi. Hanya seniman bermartabat yang bisa; saya harap itu Anda.
***
Memang selalu ada kebesaran dalam tindak bunuh diri. Saya mengakui hak tiap orang untuk jadi martir demi suatu tujuan yang besar, atau bahkan tidak untuk apa-apa sekalipun. Orang bebas menentukan harga-harga untuk dirinya sendiri. Bebas memilih makna-makna yang dijadikannya sumber acuan dan tujuan. Bebas pilih hidup atau mati.
Dan memang bunuh diri itu indah. Saya takjub dan mengakuinya.
Tapi barangkali seni hidup hanya sesederhana memilih antara nilai goceng atau tak terhingga. Kalau cuma goceng, ya sudahlah…matilah saja. Kalau
memang soal asmara, rasa malu atas kegagalan, kesumpekan perjuangan (ni khusus buat elu-elu teman gue yang pegawai NGO romantik)—yang remeh-temeh menurut saya, maaf—begitu dihargainya sampai dijadikan alasan putus asa atau mati, padahal sebetulnya cumasenilai goceng, well, Anda mungkin keliru memilih berhala. Jika saja Anda ngga gampang ‘nyerah, siapa tahu Anda bisa pulang bawa 4 juta.
Begitupun seterusnya untuk soal tak terhingga seperti Ketuhanan dan Kemanusiaan. Kalau Anda rela mati bagi keduanya—bahkan mati sambil ‘ngajak orang lain yang ngga tahu apa-apa—jangan-jangan Anda sudah mempertautkan sentimen harga diri atau ego pribadi picisan Anda dengan Kebenaran, yang Anda klaim sendiri. Lhah, memang Anda ini siapa kok lancang amat mengangkat diri ke tingkat seolah mau jadi pengacara Tuhan dan Kemanusiaan? Semua orang waras akan berpikir Anda manipulasi ceban. Goceng kali dua.
***
Dulu itu, sejujur-jujurnya, saya membatalkan bunuh diri karena takut. Bukan takut neraka karena waktu itu saya masih belum begitu percaya dan paham konsep neraka. Saya hanya ngeri membayangkan kekecewaan luar biasa yang
bisa terjadi di diri ibu saya, terutama. Lagipula rumah saya dulu dekat rumah
sakit dan kuburan, jadi saya pikir ngga seru banget mayat saya nanti ngga bisa banyak jalan-jalan.
Sekarang saya tak punya pikiran untuk bunuh diri lagi. Mungkin karena saya suka menuntut diri saya mencari-cari alasan—termasuk mencari dalih-dalih kenapa berharap itu mungkin. Semacam mendisiplinkan harapan, begitulah. Awalnya memang susah. Tapi lama-kelamaan semua jadi biasa. Asal masih bisa makan nasi dan tempe saja, saya yakin kebutuhan otak akan nutrisi buat berharap sudah tercukupi.
Saya pernah punya dua kawan masa kecil yang bunuh diri. Satu berhasil, lainnya tidak. Yang sukses mati itu membuat saya merasa tragik dalam waktu cukup lama; semacam perasaan bersalah besar sebagai kawan, yang jadi hantu paling mengerikan di kesadaran saya, dibarengi rasa sedih tiap melihat dampak psikis di tengah keluarganya. Yang gagal mati bikin saya cemas; bikin saya berjaga-jaga jangan sampai dia jatuh ke kekonyolan yang sama.
Saya harap Anda yang kini mau buruan mati berpikir ulang berkali-kali. Bikin ‘legal opinion’ dulu sebelum bunuh diri, yang tahan kritik, terutama kritik dari pikiran Anda sendiri. Saya tak berwenang melimpahi ayat-ayat suci ke dalam proses itu. Anda sendiri yang tanggung jawab.
Paling saya cuma bisa bilang klise: carilah mati yang bermartabat, hidup yang juga bermartabat. Betul, tidak? Betul, tidak?
Martabat itu sederhana saja. Sekadar punya satu saja dalih—satu saja—untuk menemukan dan melanjutkan harapan.
Hingga satu saat kalau Anda siap menarik picu dengan jempol, pucuk pistol di pangkal lidah, Anda bisa sontak bilang pada Malaikat Maut yang nongkrong siap mencoret nama Anda dari notesnya sambil pilin-pilin janggut di sebelah Anda, “Oom, Oom, lain kali ‘aja datang lagi. Maaf, saya sudah bertemu alasan”.
Saya yakin beliau spontan undur diri keki, tapi diam-diam bangga, seraya ngomel-ngomel, “Excuse is like an asshole, fool…everybody got one…”.
Semoga.
4 Comments »
Kawan saya, seorang pengusaha dengan inisial DMNS_NP, satu kali bilang dia pernah ‘ngimpi punya ide baru untuk memperkaya komoditas pariwisata Indonesia: bikin prostitusi.
Anda bilang ini pasaran…? Eit, tunggu dulu.
Bukan sembarang pelacuran yang doi mau bikin; tapi ini pelacuran tematik. Kelak Anda disediakan fitur baru: memilih cowok atau cewek bukan hanya dari menu kuno seperti etnisitas, model penampilan, durasi pemakaian atau tipe layanan. Anda ngga cuma bisa pesan “Wey, kasih cewek Madura dong buat short-time…ABG Manado 5 hari bayar 4 (diskon) dong…minta jejaka Ambon yang khatam Kamasutra III, coy…or…tolong sediain Cina dua-limaan yang jago ngebor plus Poco-Poco… “. Ngga cuma begitu doang… .
…
Nanti disediakan menu agama.
So, Anda bisa pesan di resepsionis, “Mbak, minta cewek, mahasiswi lho ya, jangan yang banyak kutilnya. Umur 20-an, rambutnya kalau bisa yang model Sujiwo Tejo, yang megar-megar gitu dah… , seksi tauuu… . Oya, yang Yahudi, ya. kalau ngga Yahudi ngga usah aja. Kalau fully-booked saya inden“.
Bagus idenya, bukan.
Dan tentu Anda juga bisa booking yang Katholik, Kristen, Hindu, Konghucu, Taois, Buddha, Zoroaster, Voodoo dan sebagainya. Bahkan Anda bisa pesan yang agamanya Penyembah Pu’un juga (yang Muslim sengaja ngga disediakan, ‘entar saya dikira yang ngga-ngga sama pihak yang sensitifitasnya kelewatan).
That’s all. Nanti saya kabari lagi perkembangan selanjutnya.
…
…
ps;
kata kawan itu, khusus yang Yahudi tarifnya paling mahal (bisa-bisa 17 kali lipat dari tarif yang lain). Sebab, disamping karena orang Yahudi langka, ‘ngga makan babi, dijamin sudah sunat (untuk cowok), juga karena tiap kali kelar di-booking mereka punya perasaan berdosa yang besar (jauh lebih besar dari perasaan berdosa membantai anak-anak Libanon dan Palestina).
Semoga Tuhan menyambarkan petirnya ke ubun-ubun kawan saya itu.
Amin.
2 Comments »
MAHARDIKA RIKIBLIK, 17 AGUSTUS 2006;
Sebuah Persuasi Bubrah
Bagi yang merasa jadi anggota kebangsaan, penduduk dan warga negara Indonesia, saya ucapkan selamat Hari Kemerdekaan. Buat yang ‘ngga ‘ngerti Bahasa, let me tell u that right today is Indonesian Independence Day. Indonesian 4th of July, u fool yankees!
…
Mungkin di jaman ini nasionalisme terasa norak. Si patriot juga kadang mewujud ‘ndeso sebagai partai oposisi cari perhatian yang ‘nolak pencabutan subsidi.
…
Tapi sebagai manusia toh kita sama-sama punya bakat romantik; bisa terharu juga oleh ide-ide tentang kebebasan, kemerdekaan dan keadilan, seperti yang tertulis dan ditayangkan hampir semua media di hari-hari ini. Dan dalam hal ini saya tiba-tiba punya keinginan.
…
Saya kepingin Anda sudi jadi turis backpacker sehari; main dan nongkrong ke tempat kumpulnya orang banyak dari seluruh Indonesia. Ke Muara Angke, misalnya, atau tempat lain yang Anda kenal—sembari melepas semua atribut keseharian macam id card, lencana, bros cakra, strip pangkat atau apapun yang selama ini menyisihkan Anda dari mereka (atau sebaliknya menyisihkan mereka—orang banyak itu—dari Anda). Keluarlah sebentar dari ruang privat yang nyaman, dari kabin-kabin berpengatur udara. Copot dasi, tukar blazer dengan T-shirt, komunikator dengan duit receh. Jangan lupa bawa rokok yang banyak.
…
Saya kepingin Anda sudi barang sehari bergaul dengan orang banyak. Mereka orang Indonesia, bisa bahasa Indonesia. Yakinlah, hanya dengan sedikit penguasaan teori komunikasi, profesional-profesional selevel Anda pasti bisa menikmati suasana folk nusantara di sana (suatu yang mirip dengan kesan ketika Anda nonton acara-acara wisata petualangan televisi yang menjadikan sensasi folk tadi sebagai komoditi).
…
Tak lama Anda akan tahu mereka murni pekerja keras. Orang-orang pelabuhan yang banting tulang gila-gilaan; merokok lebih gila-gilaan lagi; dengan penghasilan minimalis. Anehnya, dalam kekerasan kerja macam itu mereka tak hilang semangat dan kegembiraan. Mentalitas kelas menengah Anda yang kalang-kabut cuma karena ditinggal pembantu mudik lebaran pasti tak masuk nalar mereka. Semua di sini bersifat keras, egaliter, terbuka dan tahan banting. Tanpa kemanjaan hidup yang rutin Anda alami, secara psikologis Anda akan penasaran tentang kekuatan apa saja yang membangun dasar kejiwaan mereka sampai sanggup berdamai dengan banyak kesusahan. Bekas pacar saya (yang akhirnya kawin lari sama orang), sehari sepulang dari situ bahkan jadi malu waktu pagi-pagi dandan di depan kaca: siapa itu makhluk cengeng penggerutu, yang ngomel hanya gara-gara ‘ngga ‘nemu maskara…?
…
Semua di Muara Angke orang Indonesia. Anda (anggap saja bonus) dapat belajar memaki dalam semua bahasa etnik. Dari…ah ng3ntot luh…tail@so mi…diancuuk kon…butomu…p@nte’ amak ‘ang…shilitmu mleke’…lubang pukiii…; yang wajar diucap tanpa tendensi gangguan etika diplomasi.
…
Melihat kesenjangan antara kerja keras dan tingkat kesejahteraan mereka, siapa tahu diam-diam Anda jatuh simpati. Pikiran rasional Anda akan loading sendiri mencari pola-pola keterhubungan untuk kesenjangan itu. Dan hati Anda—selama Anda bukan si Asimo atau warga penghuni 6 kaki di bawah Tanah Kusir—jadi aktif ke arah romantik. Well, tak ada salahnya jadi romantis buat sehari, bukan… .
…
Di hari ini, saya pikir mereka itulah sebenarnya pengertian asasi dari kata “Indonesia”.
…
Mereka disebut (R)akyat—para pembayar pajak tak kenal tax-planning yang paling taat, para penanggung BLBI, yang mensubsidi bensin jadi 4.500 perak bukannya 7.000 buat kendaraan kita, para penyabar ulung yang biarpun dikibuli ribuan kali oleh pemerintahnya namun tetap tak pernah tega membakar ibukota kecuali jika diprovokasi. Mereka sudah selalu jadi dasar diatas mana kesejahteraan kita terbangun, tidakkah Anda pikir demikian?
…
Jika ya, Anda mungkin akan merasa anak-anak mereka juga berhak mengakses net dan punya account di FS; mampu beli Ibanez lalu nongkrong weekend di Dago; ‘ngunyah BreadTalk di PS; beli sempak di Sogo (silakan tambah sendiri sajaknya…).
…
My fellow Indonesian, barangkali Anda tertarik menjadikan mereka bukan lagi objek tapi kolega, yang punya kesamaan kesempatan dan hak seperti kita untuk menikmati pendidikan tinggi, jaminan pelayanan sosial dan akses kesehatan; serta kebaikan lain yang harusnya dicukupi oleh negara.
…
Saya tahu, sulit menyayangi Indonesia dalam pengertian ia sebagai negara. Negara korup yang miskin dan salah kelola. Tapi kalau Anda mau membayangkan Indonesia utuh ke dalam diri warga-warganya, dalam kebesaran sikap mereka, barangkali Anda bisa tergerak buat “mencintai”.
…
Mencintai sampai ke taraf tiap kali Anda yang PNS mau korupsi, Anda yang hakim mau patgulipat kasus, Anda yang wartawan mau bikin kompromi membatalkan satu investigasi, Anda yang polisi mau bikin diskon BAP, Anda yang aktivis NGO mau menghabiskan donasi lebih banyak ke lajur pos operasional, Anda yang dosen mau mangkir mengajar, Anda yang pengusaha mau ‘nyuap birokrat, Anda yang shopaholic mau belanja buang devisa—tiap kali demikian, Anda tersadar tindakan itu bakal berdampak buat Indonesia. Baik pada Indonesia yang Negara maupun “Indonesia” yang Muara Angke, lantas Anda urung melakukannya. Demi mereka.
…
(Saya sendiri ada rencana hari ini plus 3 hari ke depan ogah mandi. Juga ogah merokok, minum dan makan produk kemasan. Maaf, cuma segitu kapasitas dan kontribusi saya yang tolol dan tak punya kekuasaan apapun untuk tujuan penghematan sumber daya. Anda pasti jauh lebih kreatif dan berkuasa ketimbang saya)
…
Sejelek-jeleknya, Kawan, Indonesia masih ada (bukan sekadar komunitas terbayang kata Oom Beni), dan sungguhan jadi realitas yang punya dampak buat kita semua. Satu-satunya senjata tersedia cuma harapan. Dan harapan itu kemungkinan masih ada dalam dada Anda dan saya. Tapi yang pasti harapan itu harus ada di pundak kita.
Sekali lagi,
Dirgahayu!
MAHARDIKA RIKIBLIK!!! !
5 Comments »
|