variasi atas kicauan nenek beberapa tahun yang
lalu

(Buat ‘O’; seorang kawan yang ditinggal kawin oleh pacarnya, huakakaka…)

Cucuku yang kucinta, pujaan hatiku, assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaat

(…kini saatnya kau harus jawab wa’alaikum-salaam, seperti yang nenek ajarkan dulu, Cu. Kau tak lupa, bukan…?)

Nenek dengar kau sedang putus cinta, Cu. Emak kau bercerita kau kini jadi mudah marah, tak doyan makan, tak bercukur dan malas mandi. Katanya lagi, hampir saban hari kerja kau cuma tenggelam dalam Final Fantasy, komik silat, kadang buku primbon, kadang Kazantzakis dan Byron, sambil mulut kau menganga. Kau merokok sekencang knalpot Metromini. Ditegur perkara rokok, kau malah menjawab biar saja, bodo amat, ikan asin saja diasapi malah jadi awet…. Ondeee, itu tak elok, Nak. Macam Si Malin saja tingkah kau…. Hentikanlah merokok, sebab Sampoerna sudah dibeli Philip Morris punya Amerika.

Cucuku, nenek sangat menaruh keprihatinan pada perasaanmu. Nenek telah hidup cukup lama untuk tahu rasa sakit akibat putus cinta. Jadi nenek bisa memaklumi sikap-sikap kacaumu. Tapi kau jangan lantas kesal bila banyak orang jadi ikut kesal melihat kau membleh begitu. Bagi emak kau, menyaksikan anaknya selalu murung di rumah ibarat menemukan sebutir tahi kucing di ruang tamu.

Nenek hanya ingin menyarankan, janganlah kau ijinkan dunia menonton kau ambruk karena putus cinta. Gengsi dong, Cu. Laki-laki itu selayaknya sanggup menahan-nahan hati. Jikapun kau masih tetap ingin mengamuk, maka mengamuklah sendiri tanpa siapapun tahu. Toch kau bisa cari kebun pisang yang barusan panen. Kau bacok-bacoklah semua batang tegak di sana. Nah, itu jauh lebih terhormat dan berguna.

Cu, ijinkan nenekmu yang renta ini mengajarimu hal-hal sepele satu kali lagi. Bukan karena kuanggap kau masih kecil dan butuh petuah, Cu. Justru karena nenek merasa kau cukup dewasa untuk mencerna. Dan nenek cuma ingin membantu kau sedikit berlepas dari kesusahan. Di usia nenek ini, apalah lagi yang bisa nenek lakukan pada kau selain memberi wejangan? Nenek sudah tak kuat untuk membuai apalagi menggendong, sebab badan kau kini sebesar kingkong. Untuk menjitak kepala bekas pacarmu…tentu saja tak mungkin. Selain bersifat kriminal, tindakan itu hanya akan mempertegas kelemahanmu di hadapannya. Konon, hanya orang lemah yang mudah marah. Kalau ketahuan marah, gengsi dong, Cu. Gengsi kadang mesti dikedepankan. Dalam dosis yang moderat, ia bisa jadi sumber energi yang ramah lingkungan. Air mata sedih, air mata marah, hanya akan meloyokan tubuh kau dengan cepat. Pahamilah, cucuku sayang.

Cucuku yang tampan, tidakkah masih kau kenang pesan almarhum kakek kau, bahwa hidup ini rangkaian petualangan?

Bayangkan kau sedang naik gunung, Cu. Di sana kau sering menemui jalan setapak yang bercabang-cabang. Dan kau sedang sampai di simpang ini. Kau bingung memilih jalan mana hendak kau titi.

Alih-alih cerewet, anggaplah nenek sebagai orang yang kebetulan telah melewati banyak cabang pendakian. Kini nenek turun bukit sejenak ke tempat kau berdiri linglung, lalu memberi sedikit ikhwal mengenai jalan-jalan di hadapan kau. Nenek akan bilang, jalur yang kiri ini melandai namun menyempit. Yang kanan menanjak tajam, menyingkat waktu tapi kadang kau jumpai induk harimau. Sedang yang tengah, kendati penuh semak duri yang memaksamu merangkak, ia mengarah pada mata air tersembunyi dan pemandangan terbuka yang indah. Macam itulah, cucuku yang gagah….

Sungguh, jalur bercabang itu wajar, sayangku; sama wajarnya jika dalam perjalanan ini sandalmu putus atau sol sepatumu lepas. Kadang bekal makanmu raib digondol siamang. Malam hari bisa jadi begitu dinginnya hingga kepalamu mengerut gemetaran.

Cucuku, kau pernah menjadi pribadi yang begitu kuat dan selalu membanggakan nenek selama ini. Mengapa pula kali ini kau tak menjadi orang yang sama?

Adalah kau sendiri yang pernah berkata dengan yakinnya: dunia ini ialah rumah yang alami untuk rasa sepi, sakit dan kehilangan. Ada kalanya kantung minuman kau sarat, sedang di lain waktu ia surut. Pikir secara klise, Cu. Yang sederhana saja. Sesungguhnya, memang untuk menghayati sakit, sepi dan kehilangan-lah hidup kau itu dijalankan. Tragedi-tragedi itu tak mungkin terhindarkan, Cu. Terimalah. Kau ini manusia, Cu. Manusia! Tak sadarkah kau, betapa dahsyatnya kita dilahirkan sebagai manusia!? Jika kau memang tak dikehendaki mengalami tragedi, tentu kau dikirim ke dunia dalam bentuk iguana.

Nah, kau berani menempuhnya, bukan? O, kau cucuku nan hijau…dahulu, doberman tetangga pun meringkuk takut melihat kau menyeringai. Kini, terhadap rasa sakit itu, tunjukkanlah cengiran kau nan aduhai.

Cucuku, bila kau sanggup menerima beban-beban itu, kau akan baik-baik saja. Kau tak perlu lari dari apapun, atau bersembunyi dari diri kau sendiri. Tinggalkan saja titik percabangan itu berikut sandal jepit kau yang terputus tadi. Tak masalah jalan mana yang kau pilih. Semuanya berhulu di atap gunung, Cu. Yang terpenting ialah kau tetap melanjutkan ziarah tanpa sedih dan marah. Kau harus ringan hati agar dapat menikmati kemurnian udara dan keindahan-keindahan yang dibentangkan. Bercandalah dengan monyet-monyet yang bergelantungan, termasuk dengan seekor lutung yang sedang membaca blog-mu tepat saat ini. Weee’… .

Ambillah teladan pohon jengkol, Cu. Ia mengubah racun-racun karbon dari udara dan dari dalam tanah, bersama-sama dengan sinar mentari, menjadi sumber gizi berupa buah surgawi yang nikmat belaka tapi balado-nya dijual kemahalan di rumah makan Sederhana. Kantui’ bana ko restoran…. Nah, kau lakukanlah jengkolisasi juga. Kesedihan dan kemarahan itu dapat kau arahkan, kau ubah sedemikian rupa menjadi sumber tenaga. Kau bisa bekerja keras dengan tenaga yang kau dapati itu. Kelak jika kau hendak menjual diri pada dunia, harga kau akan lebih tinggi di atas rata-rata.

Cu, andai kau mengikhlaskan datangnya segala yang pedih, menerimanya secara santai dan terbuka, kau tak perlu latah menyebut-nyebut Tuhan. Ada begitu banyak orang di jaman kau—yang katanya maju ini—hobi menghubungkan seluruh detil pengalaman hidup mereka sebagai kehendak-Nya. Mereka mencoba mencari penjelasan-penjelasan untuk rasa sakit dengan membayangkan suatu hikmah dari-Nya sedang menunggu di ujung jalan sana. Dalam situasi yang sedang kau alami ini, mereka akan bilang, “Oh, Tuhan…aku tak dapat hidup tanpa dia…. Oh, Tuhan…aku mencintainya…mengapa kau pisahkan kami…? Oh, Tuhan…mengapa aku tak dapat melupakannya? Oh, Tuhan…terima kasih telah kau ijinkan aku mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya, sebelum kami melangkah ke tahap yang lebih jauh…. Oh, ah…”.

Percayalah, cucuku…bila kau mengucapkan kalimat-kalimat itu, setelah kau cukur bulu kakimu, lalu kau pakai korset dan pengganjal dada, serta bulu mata palsu…kau akan terlihat lebih cantik dari Krisdayanti. Kau juga akan terciprat pertanggungjawaban karena makin-makin-makin membuat nama-Nya mengalami inflasi.

Bahkan seekor ayam pun memahami bahwa segala sesuatu terjadi dalam kuasa pengetahuan-Nya, Cu. Kau tak perlu sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mengulang-ulang dalil yang tak berguna untuk disematkan jadi semboyan-semboyan jika kau tak berusaha memahami intinya lebih dalam. Memang, tak ada yang melarang kau untuk menghibur diri dengan sugesti-sugesti a la lirik lagu pop, sayangku. Tuhan memang senantiasa mengambil peran dalam kehidupan siapa saja. Itu tak perlu dipertanyakan lagi. Tapi yakinlah, Cu, tanpa perenungan yang panjang, tanpa kesediaan mengakui penderitaan adalah fitrah sekaligus berkah bagi dunia, maka jargon-jargon itu hanya akan membuat kau koslet. Kau akan memikirkan sesuatu yang hatimu tak mampu terima; karena rasa sakit itu begitu nyata. Id, ego dan superego kau akan berantakan.

Ah, maaf. Nenek kau ini jika usai makan jengkol suka bicara macam ilmuwan….

Cucuku yang budiman, Tuhan barangkali sedang sibuk. Selama ini Dia telah memberi begitu banyak kepada kau. Kau harus punya sedikit malu bila kau merengek-rengek melulu, meminta penghiburan dan memohonkan segala sesuatu yang sebetulnya sanggup kau perjuangkan sendiri. Buatlah Dia bangga, Cu. Menjadi kuatlah, supaya Dia melihat ciptaan-Nya ini ternyata tak seringkih yang setan kira.

Atau jika kau memang cukup dermawan, biarkan Dia lebih dahulu memprioritaskan permohonan-permohonan yang lebih gawat dari Sidoarjo, Buyat dan Timika. Dari Baghdad, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka jauh lebih butuh didengarkan ketimbang racauan cengeng kau yang minta dikasihani gara-gara perkara cinta-cintaan.

Pokoknya, Cu, pada intinya nenek tak hendak jadi panduan praktis bagimu. Tak akan memberi rumus ABC, atau memberitahu detil apa saja yang kau harus lakukan pada dirimu. Jika nenek melakukannya maka nenek pasti akan terlihat macam buku-buku psikologi-motivasi klise tapi bestseller terbitan Gramedia. No way, Cu…. No way. Manusia berbeda dari mesin giling yang butuh buku panduan operasi. Kau adalah manusia; cucuku paling sinting yang haus bimbingan rohani.

Kau masih muda, Cu. Jauh di atas eksosfer sana, di ruang yang amat dingin dan  hampa, milyaran bintang-bintang yang nyaris setua jagad raya masih meledak dan menyala-nyala. Masa kau mau padam sebelum waktunya?

Maka kini kau harus bangkit. Kau mesti memperbarui iramamu kembali. Kata emak kau, anjing-anjing dan kucing-kucing di rumah telah tiga hari tak kau beri makan, sampai-sampai mereka kalap menerkam bebek goreng bahkan yang sedang dikunyah di mulut tetangga sebelah.

.

Hanya itu saja yang ingin nenek sampaikan. Tiada harapan apapun lagi dari nenek kecuali untuk melihat kau memenangkan perang melawan kecewa. Nah, kini nenek hendak kembali berlatih main hulahop, cucuku sayang. Doakan agar nenek menang besok dalam pertandingan tujuhbelasan.

I

love you; with all my heart. Wasalam.

.

Pesisir Selatan, 12 Rajab 142…H

.

NB; kalau tak ingin kupanggil ‘monyet’, jangan kau pergi ke dukun santet dan pelet. Cuma orang dungu dan sirik yang mainan begituan, cucuku….

Lagipula, malu dong sama PC tablet….

4 Responses to “Surat Seorang Nenek Buat Cucunya yang Patah Hati”
  1. hehehe… reseh lu, ngatain orang monyet. kesian monyetnya kan…
    eh tauw, kalo diinget2 dari sini, RM Sederhana indak taraso kantui’2 bana do… ondeee uda ko…
    tauw, ini crita yg ditinggal kawin yak? hahahah, welcome to the club… been there, felt that, way too many times…

  2. Saatnya bikin lagu neh, mumpung inspirasinya ngalir kek ingus ha ha ha

  3. skali2 idup kaya gini-lah, daripada elu ngomongin mau mati melulu…….

    btw……..BALEEKKEEEEN KAZANTZAKIS GUEEEEEEEE!!!!!!!!!!

  4. Aq lbh seneng baca yg ini….’agak’ menghibur….

Leave a Reply